Mewariskan pengetahuan: “Tulis apa yang ingin dibaca”
-
Hari 259: Koneksi Bukan Jalan Pintas
Hari ini saya harus mengurus dokumen dan administrasi untuk sebuah proses yang memang punya banyak persyaratan. Ada dokumen yang harus disiapkan. Ada informasi yang harus dilengkapi. Ada bukti yang harus tersedia. Dan menurut saya, bagian ini memang tidak bisa ditawar. Kalau sebuah proses membutuhkan persyaratan tertentu, ya tugas kita adalah memenuhi persyaratannya. Mau kenal siapa…
-
Hari 258: Bos Juga Perlu Melihat Proses
Hari ini saya mencoba satu hal yang agak berbeda: kerja bareng secara online dengan salah satu tim. Ide awalnya sebenarnya sederhana. Karena interaksi informal di kantor remote terasa kurang, saya ingin punya ruang untuk kerja bareng saja. Saya mengerjakan pekerjaan saya, mereka mengerjakan pekerjaan mereka. Tidak harus meeting. Tidak harus laporan. Yang penting ada ruang…
-
Hari 257: Jangan Sampai Hilang di Kantor
Hari ini saya mungkin sedikit mendobrak dunia kantor. Saya memberikan punishment kepada orang yang paling minim chat di grup kantor yang isinya justru bukan kerjaan. Isinya bercanda. Receh. Kadang random. Kalau dilihat sekilas memang aneh. Kenapa orang harus dihukum hanya karena tidak aktif di grup bercanda? Tapi karena kantor kami mayoritas WFH dan orang bekerja…
-
Hari 256: Produktif Tidak Harus Tergesa
Sempat keteteran, akhirnya hari ini selesai juga buku ke-28 dari target 52 buku tahun ini. Bukunya Slow Productivity karya Cal Newport. Lucunya, saya membeli buku ini bukan karena sedang mencari topik tentang produktivitas. Lebih karena penerbitnya sama dengan beberapa buku lain yang saya punya, lalu kebetulan ini Cal Newport. Padahal buku dia yang pernah saya…
-
Hari 255: Jam Buka Juga Janji
Hari ini Sabtu. Tidak kerja. Saya cuma keluar rumah untuk mengambil barang, menaruh barang, lalu tanpa sengaja malah kepikiran soal jam operasional usaha. Awalnya dari laundry. Biasanya saya datang sambil melakukan dua hal sekaligus: mengambil cucian yang sudah selesai dan menaruh cucian berikutnya. Hari ini seharusnya buka, tapi ternyata tutup. Akhirnya sederhana saja konsekuensinya: harus…
-
Hari 254: Ekspektasi Harus Ditagih
Hari ini menyenangkan karena satu metode yang saya coba ternyata bekerja. Kadang kita punya tim, partner, atau staf yang menurut kita sering miss. Ada yang kelewat. Ada yang tidak sesuai ekspektasi. Ada hal yang sebenarnya pernah kita sampaikan, tetapi beberapa waktu kemudian ternyata tidak berubah. Lalu kita kecewa. Masalahnya, setelah saya pikir-pikir lagi, sering kali…
-
Hari 253: Beda Rumah, Tetap Satu Ruang
Hari ini saya mencoba satu konsep yang cukup sederhana. Semua tetap bekerja dari rumah masing-masing, tapi selama beberapa jam kami tersambung di Zoom. Bukan meeting. Bukan juga sesi presentasi. Ya bekerja saja. Masing-masing mengerjakan pekerjaannya, tapi tetap berada di satu ruang virtual yang sama. Saya penasaran apakah model seperti ini bisa memberi rasa bekerja bersama…
-
Hari 252: Perusahaan Harus Tetap Jalan
Hari ini ada satu pertanyaan yang awalnya kelihatannya sederhana: bagaimana kalau ada karyawan minta izin untuk ibadah umroh? Kita belum punya aturan yang benar-benar baku. Apakah menggunakan cuti tahunan? Apakah perlu special paid leave? Kalau nanti ada yang haji bagaimana? Lalu kalau orang sudah bekerja cukup lama, apakah bisa mendapat sabbatical leave seperti yang cukup…
-
Hari 251: Terkirim Belum Tentu Tersampaikan
Hari ini saya kembali belajar sesuatu yang sebenarnya sederhana: memberi instruksi lewat chat ternyata tidak semudah yang saya kira. Pesannya sudah diketik. Sudah dikirim. Menurut saya juga cukup jelas. Tapi ternyata maksudnya tidak tertangkap dengan benar. Bisa jadi dibaca dengan interpretasi berbeda. Bisa jadi dilewatkan. Bahkan bisa jadi sebenarnya tidak dibaca sama sekali. Ini menarik…
-
Hari 250: AI Bukan Cuma Alat Bantu
Hari ini saya memasukkan banyak masalah yang sedang saya hadapi, saya dengar, atau muncul dari tim ke AI. Bukan untuk sekadar bertanya, “Solusinya apa?” Saya justru ingin melihat: kalau konteksnya saya masukkan cukup banyak, problem-nya saya jelaskan, jawabannya saya challenge lagi, seberapa pintar AI bisa membantu saya membaca sesuatu? Buat sebagian orang, mungkin AI lebih…
Mau baca jawaban saya? tanya saja.