Hari 250: AI Bukan Cuma Alat Bantu

Hari ini saya memasukkan banyak masalah yang sedang saya hadapi, saya dengar, atau muncul dari tim ke AI.

Bukan untuk sekadar bertanya, “Solusinya apa?”

Saya justru ingin melihat: kalau konteksnya saya masukkan cukup banyak, problem-nya saya jelaskan, jawabannya saya challenge lagi, seberapa pintar AI bisa membantu saya membaca sesuatu?

Buat sebagian orang, mungkin AI lebih menarik untuk generate gambar, video, presentasi, atau pekerjaan-pekerjaan yang langsung kelihatan hasilnya.

Saya malah paling menikmati bagian brainstorming-nya.

Kadang ada keyword yang sebenarnya saya tahu, tetapi hilang dari kepala. Kadang saya merasa ada yang ganjil dalam sebuah masalah, tetapi belum bisa menunjuk persis di mana lubangnya. Kadang saya punya satu kesimpulan, lalu butuh sesuatu yang cukup sabar untuk men-challenge-nya dari sudut pandang lain.

Di situ saya merasa AI sangat berguna.

Bukan karena semua jawabannya selalu benar.

Tapi karena proses berpikir saya jadi lebih panjang sebelum akhirnya mengambil kesimpulan.

1. Masukkan Konteks, Bukan Cuma Pertanyaan

Saya termasuk orang yang suka menyimpan memori dan konteks.

Karena menurut saya AI akan jauh lebih berguna kalau dia tidak hanya menerima pertanyaan satu kali, lalu selesai.

Masukkan masalah nyata.

Kasih tahu apa yang sudah pernah dilakukan.

Kasih feedback kalau jawabannya tidak pas.

Challenge lagi.

Koreksi ketika dia salah memahami konteks.

Dengan begitu, diskusinya menjadi semakin relevan.

Kalau kita hanya menunggu AI memberikan jawaban sempurna tanpa pernah memberi input yang cukup, menurut saya kita juga tidak sedang memaksimalkan alatnya.

Sama seperti berdiskusi dengan manusia.

Kalau saya datang ke seseorang lalu hanya bilang, “Tim saya bermasalah, solusinya apa?” tentu jawabannya akan sangat umum.

Tapi kalau saya cerita struktur timnya, apa yang terjadi sebelumnya, siapa bergantung pada siapa, targetnya apa, hal apa yang sudah dicoba, barulah diskusinya mulai punya kualitas.

AI juga begitu.

Kualitas jawabannya sangat dipengaruhi kualitas konteks yang kita berikan.

2. Masalah Perlu Diurutkan

Bedanya berdiskusi dengan manusia, percakapan sering bergerak ke mana-mana.

Ada interupsi.

Ada asumsi.

Ada bagian yang terlewat.

Lalu kita sering terlalu cepat sampai pada solusi.

AI membantu saya melakukan sesuatu yang saya suka: mengurutkan kembali masalah.

Apa sebenarnya latar belakangnya?

Apa gejalanya?

Mana yang akar masalah dan mana yang hanya efek?

Siapa pemilik masalahnya?

Apa dependensinya?

Apa saja alternatif yang belum terpikirkan?

Bagian ini yang menurut saya menarik.

Karena kadang masalah yang awalnya terasa sederhana, setelah dituliskan dengan rapi ternyata punya tiga atau empat lubang yang sebelumnya tidak kelihatan.

Bukan berarti kita harus percaya semua struktur yang dibuat AI.

Tetap harus dibaca lagi.

Tetap harus ditantang.

Tetapi setidaknya kita tidak langsung jump to conclusion.

Ada satu putaran berpikir tambahan sebelum mengambil keputusan.

Dan bagi saya, itu sudah sangat berharga.

3. Jangan Berhenti di Chat

Yang kemudian semakin sering saya lakukan adalah tidak membiarkan hasil diskusi itu berhenti di layar saya sendiri.

Kalau pembahasannya menarik, saya paketkan.

Kadang saya kirim link diskusinya.

Kadang saya buat jadi HTML.

Lalu saya kirim kembali kepada orang yang awalnya membawa masalah tersebut.

Menurut saya ini membuat penggunaan AI punya siklus yang lebih lengkap.

Ada orang membawa masalah.

Saya menangkap masalahnya.

Saya brainstorming dengan AI.

Saya menemukan sudut pandang yang mungkin terlewat.

Lalu hasilnya dikembalikan lagi ke orang yang punya konteks paling dekat dengan masalah tadi.

Harapannya bukan supaya AI menggantikan diskusi antarorang.

Justru supaya diskusi berikutnya naik level.

Kita tidak lagi mulai dari, “Menurutmu gimana?”

Kita sudah punya bahan yang bisa dibantah, diperbaiki, disetujui sebagian, atau dikembangkan bersama.

Bahkan kadang bagian paling berguna bukan jawabannya.

Tapi lubang-lubang yang akhirnya kelihatan.

Yang Penting Tetap Output-nya

Mungkin dari luar kelihatannya aneh kalau ada orang yang cukup sering memasukkan masalahnya ke AI.

Bisa juga disebut ketergantungan.

Saya sendiri lebih melihatnya sebagai alat kerja yang sekarang cocok dengan cara saya berpikir.

Karena pada akhirnya saya juga tetap harus membaca, memilih, memutuskan, dan bertanggung jawab atas hasil akhirnya.

AI tidak duduk di meeting menggantikan saya.

AI juga tidak menerima konsekuensi kalau keputusan saya salah.

Tapi kalau keberadaannya bisa membuat saya berpikir lebih runtut, menemukan sudut pandang yang terlewat, menjaga konteks, dan menghasilkan kualitas pekerjaan yang lebih konsisten, saya cukup senang menggunakannya.

Buat saya AI bukan cuma alat untuk menghasilkan sesuatu.

Kadang fungsi terbaiknya justru sebelum output itu muncul:

membantu kita berpikir lebih lengkap sebelum bertindak.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *