Hari ini saya mungkin sedikit mendobrak dunia kantor.
Saya memberikan punishment kepada orang yang paling minim chat di grup kantor yang isinya justru bukan kerjaan.
Isinya bercanda.
Receh.
Kadang random.
Kalau dilihat sekilas memang aneh.
Kenapa orang harus dihukum hanya karena tidak aktif di grup bercanda?
Tapi karena kantor kami mayoritas WFH dan orang bekerja dari banyak tempat, saya merasa ada satu problem yang tidak dimiliki kantor offline dengan kadar yang sama: seseorang bisa benar-benar “hilang”.
Bekerja iya.
Task selesai iya.
Tapi keberadaannya hampir tidak terasa oleh orang di luar timnya.
Kita punya grup kerja. Punya ruang koordinasi. Punya meeting. Tapi ruang tempat semua orang bisa bertemu tanpa agenda kerja jauh lebih sedikit.
Dan menurut saya, ruang seperti itu tetap penting.
1. Jangan Sampai Orang Tidak Terlihat
Salah satu kekhawatiran saya di kantor remote adalah ada orang yang sebenarnya bekerja bersama kita, tapi sebagian besar perusahaan hampir tidak mengenalnya.
Bukan karena orangnya buruk.
Bisa jadi memang pendiam.
Bisa jadi hanya berinteraksi dengan tim terdekat.
Bisa jadi merasa tidak punya alasan untuk muncul di obrolan lain.
Tapi semakin lama seseorang tidak pernah terlihat, semakin kecil kemungkinan orang lain mengingat bahwa dia ada.
Padahal pekerjaan tidak selalu tinggal di dalam satu divisi.
Suatu hari kita butuh bantuan orang lain.
Suatu hari ada pekerjaan lintas fungsi.
Suatu hari kita perlu tahu, “Oh iya, ternyata ada orang ini yang pegang hal tersebut.”
Kadang kita mengenal peran seseorang bukan ketika melihat task-nya.
Justru ketika melihat namanya muncul dalam percakapan ringan.
Sedikit bercanda.
Sedikit nimbrung.
Sedikit menunjukkan dirinya ada.
Di kantor fisik, hal itu terjadi secara otomatis.
Kita melihat orang lewat.
Bertemu di pantry.
Makan bareng.
Mendengar orang ngobrol.
Di remote, keberadaan seperti itu harus lebih sengaja diciptakan.
2. Bercanda Juga Membentuk Rasa Memiliki
Yang menarik dari punishment tadi adalah prosesnya.
Awalnya mungkin memang terasa sebagai hukuman.
Tapi semakin berjalan, orang malah ikut terbawa suasana.
Ikut bercanda.
Ikut terlibat.
Dan menurut saya justru itu tujuan sebenarnya.
Saya ingin kantor menjadi tempat yang menyenangkan.
Bukan berarti semua pekerjaan harus dibuat lucu atau semua orang wajib menjadi orang paling ramai di grup.
Tapi saya ingin ada alasan selain pekerjaan yang membuat orang merasa menjadi bagian dari tempat ini.
Kita bekerja delapan jam sehari.
Sekitar empat puluh jam seminggu.
Kalau hubungan kita dengan orang-orang di dalamnya hanya berisi deadline, revisi, dan laporan, menurut saya ada sesuatu yang hilang.
Kita juga ngobrol dengan teman setelah jam kerja.
Chat keluarga.
Ngobrol dengan pasangan.
Membahas hal-hal yang tidak punya tujuan produktif sama sekali.
Kenapa?
Karena hubungan manusia memang tidak selalu harus menghasilkan output.
Kadang keberadaannya sendiri sudah punya fungsi.
Begitu juga di kantor.
Sedikit humor, obrolan random, dan ruang yang tidak selalu serius bisa membuat hubungan kerja terasa lebih manusiawi.
3. Komunikasi Perlu Dilatih
Tentu saya paham, menghukum orang karena tidak aktif di grup bercanda bisa terdengar jahat.
Apalagi grupnya bukan grup pekerjaan.
Tapi ada alasan lain kenapa saya tetap melihat partisipasi sebagai sesuatu yang penting: komunikasi adalah bagian dari kemampuan bekerja.
Bagaimana kita bisa bersinergi kalau kita tidak pernah belajar berinteraksi?
Bagaimana kita membaca karakter orang lain kalau tidak pernah ngobrol?
Bagaimana orang lain memahami cara kita berpikir kalau kita selalu diam?
Tidak semua orang nyaman memulai.
Ada yang tidak pede.
Ada yang takut salah ngomong.
Ada yang merasa tidak punya bahan.
Kadang orang seperti ini bukan perlu dipaksa menjadi extrovert.
Mereka cuma perlu diberi ruang dan sedikit dorongan supaya berani masuk.
Dan media paling ringan mungkin memang bercanda.
Karena risikonya kecil.
Tidak sedang presentasi.
Tidak sedang mempertanggungjawabkan KPI.
Hanya belajar muncul.
Belajar merespons.
Belajar menjadi bagian dari percakapan.
Hal Kecil Juga Membentuk Kita
Saya tentu tidak ingin mengukur kualitas karyawan dari seberapa banyak dia bercanda di grup.
Itu terlalu dangkal.
Tapi saya juga tidak ingin meremehkan hal-hal kecil yang membentuk cara kita hadir di sebuah organisasi.
Cara kita merespons.
Cara kita menyapa.
Cara kita ikut percakapan.
Cara kita membuat orang lain sadar bahwa kita ada.
Karena sering kali bagaimana kita melakukan hal kecil adalah potongan kecil dari bagaimana kita menjalankan hal yang lebih besar.
Mungkin punishment ini terdengar receh.
Memang sengaja.
Tapi kalau hasil akhirnya membuat orang sedikit lebih berani muncul, sedikit lebih mengenal satu sama lain, dan kantor remote terasa sedikit lebih manusiawi, menurut saya eksperimennya layak dicoba.
Karena dalam remote working, tantangannya bukan cuma memastikan orang tetap bekerja.
Tapi juga memastikan orang tidak perlahan-lahan menghilang dari satu sama lain.
Leave a Reply