Hari ini ada satu pertanyaan yang awalnya kelihatannya sederhana: bagaimana kalau ada karyawan minta izin untuk ibadah umroh?
Kita belum punya aturan yang benar-benar baku.
Apakah menggunakan cuti tahunan? Apakah perlu special paid leave? Kalau nanti ada yang haji bagaimana? Lalu kalau orang sudah bekerja cukup lama, apakah bisa mendapat sabbatical leave seperti yang cukup sering ada di industri startup?
Awalnya pertanyaannya soal cuti.
Tapi semakin dipikirkan, pertanyaannya menjadi jauh lebih besar.
Kalau ada orang meninggalkan pekerjaannya selama satu minggu, dua minggu, satu bulan, bahkan permanen karena resign, apakah perusahaan tetap bisa berjalan?
Menurut saya, seharusnya iya.
1. Benefit Juga Bentuk Penghargaan
Saya cukup suka ide bahwa perusahaan bisa memberikan ruang lebih kepada orang yang sudah memberikan dedikasi dalam waktu tertentu.
Apalagi untuk sesuatu yang sifatnya penting bagi hidup mereka.
Ibadah salah satunya.
Manusia menurut saya tidak cuma punya kebutuhan fisik dan mental. Ada juga sisi spiritual yang bagi sebagian orang punya arti sangat besar.
Kalau seseorang sudah bekerja dengan baik, punya tanggung jawab yang jelas, menyampaikan rencananya dengan baik, lalu membutuhkan waktu untuk sesuatu yang penting baginya, menurut saya perusahaan sebisa mungkin mencari cara untuk mendukung.
Begitu juga dengan sabbatical leave.
Ada orang yang sudah bekerja lima, enam, tujuh tahun. Mungkin memberi mereka ruang untuk benar-benar berhenti sejenak justru menjadi bentuk penghargaan atas perjalanan panjangnya.
Benefit seperti ini bukan semata-mata soal hari libur tambahan.
Ada pesan yang ikut disampaikan: perusahaan melihat manusia di balik pekerjaannya.
Harapannya tentu engagement juga ikut tumbuh.
2. Cuti Tidak Boleh Membuat Chaos
Tapi ada sisi lain yang sama pentingnya.
Jangan sampai kita merasa sudah menjadi perusahaan yang baik karena memberikan benefit, tetapi begitu orangnya pergi dua minggu semua pekerjaan berantakan.
Kalau begitu, benefit yang baik malah menghasilkan keputusan operasional yang buruk.
Di sinilah menurut saya konsep cuti panjang harus selalu ditemani konsep handover.
Kalau orang akan pergi, siapa yang mengambil tanggung jawabnya?
Keputusan apa yang masih boleh menunggu?
Apa yang harus selesai sebelum dia pergi?
Siapa yang menjadi backup?
Dokumen apa yang harus tersedia?
Akses apa yang perlu diberikan?
Customer atau stakeholder mana yang perlu diberi tahu?
Semua itu seharusnya tidak baru dibicarakan satu hari sebelum orangnya berangkat.
Semakin lama cutinya, semakin panjang pula waktu persiapannya.
Karena yang sedang disiapkan bukan sekadar izin tidak masuk.
Yang sedang disiapkan adalah perpindahan sementara sebuah tanggung jawab.
Menurut saya, kalau sebuah posisi ditinggalkan sebentar saja lalu langsung chaos, masalah utamanya mungkin bukan cutinya.
Masalahnya adalah sistemnya.
3. Jangan Bangun Dependensi
Ini kemudian sampai ke refleksi yang lebih besar.
Perusahaan memang dijalankan oleh manusia.
Tapi perusahaan tidak boleh sepenuhnya bergantung pada satu manusia.
Karena manusia pasti punya kehidupan.
Bisa sakit.
Punya hak cuti.
Menikah.
Ada keluarga meninggal.
Pergi beribadah.
Mengambil cuti panjang.
Bahkan suatu hari bisa resign.
Kalau setiap kali satu orang tidak ada lalu organisasi berhenti, kita sebenarnya sedang menyimpan risiko yang terlalu besar.
Karena itu kita membutuhkan dokumentasi, delegasi, SOP, backup person, succession plan, sampai pengetahuan yang tidak hanya hidup di kepala satu orang.
Pertanyaannya bukan hanya:
“Kalau dia pergi, siapa yang mengerjakan?”
Tapi juga:
“Kalau orang itu benar-benar tidak kembali, apakah kita tahu apa yang harus dilakukan besok pagi?”
Menurut saya itu standar yang jauh lebih sehat.
Siapkan Orang Berikutnya
Saya suka satu cerita tentang klub sepak bola Brighton.
Yang menarik buat saya bukan hanya soal bagaimana mereka merekrut pemain, tetapi gagasan bahwa organisasi harus sudah memikirkan siapa berikutnya untuk berbagai posisi penting.
Pemain pergi, sudah ada kandidat berikutnya.
Pelatih pergi, sudah ada alternatif.
Bahkan kalau posisi penting di manajemen berubah, organisasi tidak mulai berpikir dari nol.
Saya suka cara berpikir seperti itu.
Bukan karena kita berharap orang cepat pergi.
Justru karena kita menerima kenyataan bahwa suatu hari siapa pun bisa pergi.
Termasuk orang terbaik.
Termasuk orang yang sudah lama bersama perusahaan.
Termasuk CEO.
Jadi mungkin perusahaan yang kuat bukan perusahaan yang berhasil mempertahankan semua orang selamanya.
Perusahaan yang kuat adalah perusahaan yang memberi ruang kepada orang untuk hidup, pergi sementara, bahkan pergi selamanya, tanpa membuat organisasinya ikut berhenti.
Leave a Reply