Sempat keteteran, akhirnya hari ini selesai juga buku ke-28 dari target 52 buku tahun ini.
Bukunya Slow Productivity karya Cal Newport.
Lucunya, saya membeli buku ini bukan karena sedang mencari topik tentang produktivitas. Lebih karena penerbitnya sama dengan beberapa buku lain yang saya punya, lalu kebetulan ini Cal Newport. Padahal buku dia yang pernah saya punya sebelumnya, Deep Work, malah belum selesai saya baca.
Jadi ya sudah. Bukunya telanjur dibeli, harus diselesaikan. 😅
Ternyata cukup menarik.
Banyak buku produktivitas bicara tentang bagaimana melakukan lebih banyak, bekerja lebih keras, mendapatkan hasil lebih cepat, membangun sesuatu lebih besar, dan seterusnya.
Buku ini malah datang dengan pendekatan yang hampir berlawanan.
Bagaimana kalau produktivitas justru dijalankan dengan lebih lambat?
Bukan lambat karena malas.
Tapi mengurangi apa yang dikerjakan, menggunakan laju yang lebih manusiawi, lalu memberikan perhatian lebih besar terhadap kualitas.
Ada tiga ide yang paling menempel buat saya.
1. Jangan Ambil Terlalu Banyak
Prinsip pertama sederhana: kurangi jumlah pekerjaan.
Kita sering menganggap semakin banyak tugas yang kita pegang berarti semakin produktif.
Padahal semakin banyak yang masuk, semakin banyak pula perhatian yang harus dibagi. Waktu habis bukan hanya untuk mengerjakan, tetapi untuk berpindah dari satu hal ke hal lain, mengingat semuanya, mengecek semuanya, dan merasa bersalah karena ada terlalu banyak yang belum selesai.
Ada satu konsep yang saya suka: jangan terus-menerus mendorong pekerjaan masuk, tetapi buat sistem yang menarik pekerjaan ketika kapasitas tersedia.
Misalnya kita hanya boleh punya tiga pekerjaan aktif.
Selama tiga itu belum selesai, jangan tarik pekerjaan berikutnya.
Kedengarannya sederhana, tetapi kalau diterapkan di pekerjaan mungkin efeknya cukup besar.
Karena persoalan kita sering bukan kekurangan pekerjaan.
Justru terlalu banyak pekerjaan yang sedang “berjalan” pada saat bersamaan.
Akhirnya semuanya dimulai, sedikit yang benar-benar selesai.
Mungkin produktivitas bukan soal seberapa banyak yang bisa kita masukkan ke daftar.
Tapi seberapa konsisten kita bisa mengeluarkan sesuatu dari daftar itu dalam keadaan benar-benar selesai.
2. Pakai Laju yang Natural
Prinsip kedua adalah bekerja dengan laju yang lebih alami.
Ini agak bertabrakan dengan kebiasaan kita yang ingin semuanya cepat.
Ada proyek lima minggu, kita berharap bisa empat minggu.
Ada pekerjaan yang sebenarnya butuh ruang, tapi kita kasih deadline seketat mungkin.
Kalau semuanya dianggap urgent, akhirnya tidak ada ruang untuk mundur sedikit, berpikir ulang, beristirahat, atau mengerjakan hal lain.
Buku ini menawarkan logika yang berbeda.
Kalau menurut kita sesuatu realistisnya membutuhkan lima minggu, mungkin tidak salah memberi ruang lebih panjang.
Bukan supaya bermalas-malasan.
Tapi karena hidup dan pekerjaan tidak selalu bergerak sesuai spreadsheet.
Ada perubahan.
Ada masalah.
Ada pekerjaan lain.
Ada hari ketika energi kita tidak sama.
Kalau seluruh jadwal dibuat pada kapasitas maksimal terus-menerus, sedikit gangguan saja sudah cukup untuk membuat semuanya berantakan.
Ini bagian yang cukup kena buat saya.
Kadang kita merasa kalau tidak terburu-buru berarti tidak serius.
Padahal bisa jadi laju yang lebih natural justru membuat kita mampu bertahan jauh lebih lama tanpa terus-menerus membayar hasilnya dengan kelelahan.
3. Obsesif pada Kualitas
Prinsip terakhir mungkin yang paling penting: obsesif terhadap kualitas.
Kalau kita mau mengerjakan lebih sedikit dan memberikan waktu lebih panjang, pertanyaannya tentu: untuk apa?
Jawabannya seharusnya terlihat pada kualitas.
Dari berbagai cerita dalam buku ini, saya menangkap bahwa ada karya-karya yang menjadi besar justru karena pembuatnya tidak buru-buru mengambil setiap kesempatan.
Mereka memberi waktu.
Memperbaiki kemampuan.
Memikirkan hasil jangka panjang.
Berani menunda sesuatu yang mudah demi menghasilkan sesuatu yang jauh lebih baik.
Ini menarik karena dunia kerja sering memberikan reward yang lebih cepat kepada sesuatu yang kelihatan.
Banyak meeting kelihatan sibuk.
Banyak tugas kelihatan produktif.
Cepat merespons kelihatan sigap.
Tapi pertanyaan akhirnya tetap sama:
Apa yang sebenarnya kita hasilkan?
Kalau setelah berbulan-bulan sangat sibuk ternyata output-nya biasa saja, barangkali kita perlu mempertanyakan definisi produktivitas kita.
Lebih sedikit pekerjaan seharusnya memberi ruang untuk menghasilkan pekerjaan yang lebih bagus.
Kalau tidak, kita cuma bekerja lebih lambat.
Jangan Cuma Kelihatan Sibuk
Memang banyak contoh di Slow Productivity berasal dari penulis, seniman, atau orang yang punya kontrol lebih besar atas ritme pekerjaannya.
Bagi pekerja kantoran, menerapkannya mungkin jauh lebih sulit.
Ada meeting.
Ada permintaan atasan.
Ada customer.
Ada pekerjaan yang tidak bisa kita bilang, “Nanti saja kalau kapasitas saya kosong.”
Tapi menurut saya prinsipnya tetap bisa dicoba.
Tidak semua tugas harus aktif bersamaan.
Tidak semua deadline harus dibuat seagresif mungkin.
Dan tidak semua ukuran produktivitas harus berbentuk seberapa banyak yang kita kerjakan.
Pada akhirnya, kita bekerja bukan untuk terlihat paling sibuk.
Kita bekerja untuk menghasilkan sesuatu.
Dan kalau dengan sedikit lebih pelan kita bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik, bertahan lebih lama, dan tidak terus-menerus keteteran, mungkin pelan bukan lawannya produktif.
Mungkin justru itu salah satu caranya.
Leave a Reply