Hari ini saya mencoba satu konsep yang cukup sederhana.
Semua tetap bekerja dari rumah masing-masing, tapi selama beberapa jam kami tersambung di Zoom.
Bukan meeting.
Bukan juga sesi presentasi.
Ya bekerja saja.
Masing-masing mengerjakan pekerjaannya, tapi tetap berada di satu ruang virtual yang sama.
Saya penasaran apakah model seperti ini bisa memberi rasa bekerja bersama tanpa harus benar-benar datang ke kantor.
Dan ternyata ada sisi enaknya, ada juga sisi yang mengganggu.
1. Kehadiran Bisa Jadi Distraksi
Hal pertama yang langsung terasa tentu distraksinya.
Apalagi kalau semua orang open mic.
Ada suara keyboard.
Ada orang ngomong.
Ada obrolan yang sebenarnya ditujukan ke orang lain.
Ada pertanyaan yang lewat, lalu refleks kita ikut memperhatikan meskipun sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kita.
Dalam kondisi seperti itu, keberadaan orang lain yang awalnya ingin membuat kita merasa terhubung malah bisa berubah menjadi noise.
Ini sebenarnya mirip dengan kantor offline juga.
Kalau duduk di ruangan yang ramai, kita sering menangkap percakapan yang bukan untuk kita. Bedanya, di Zoom suara itu datang langsung melalui headset atau speaker kita.
Jadi konsep seperti ini jelas tidak otomatis cocok untuk semua jenis pekerjaan.
Kalau sedang mengerjakan sesuatu yang butuh konsentrasi dalam, mungkin open mic terus-menerus malah kontraproduktif.
Ada momen ketika koneksi membantu.
Ada juga momen ketika kita memang perlu sendirian.
2. Koordinasi Jadi Lebih Cepat
Tapi ada satu keuntungan yang langsung terasa.
Hal-hal kecil yang biasanya tertumpuk di chat bisa lebih cepat diselesaikan.
Kadang kita mengirim pesan ke grup, lalu pesan itu tenggelam.
Orang membacanya terlambat.
Kita menunggu respons.
Ada satu hal kecil yang sebenarnya hanya butuh jawaban dua menit, tapi akhirnya tertunda satu jam karena komunikasinya asynchronous.
Ketika berada di satu ruang virtual, kita bisa langsung memanggil.
“Coba cek chat yang tadi.”
“Yang ini sudah dikerjakan belum?”
“Bisa bantu lihat sebentar?”
Lalu responsnya jauh lebih cepat.
Bukan berarti semua hal harus langsung direspons setiap saat.
Itu juga bisa melelahkan.
Tapi untuk koordinasi tertentu, keberadaan real-time membuat hambatan kecil jauh lebih cepat hilang.
Saya jadi melihat bahwa value konsep ini mungkin bukan pada Zoom-nya.
Tapi pada mengurangi jarak komunikasi.
3. Kerja Bersama Juga Soal Koneksi
Bagian terakhir yang justru ingin saya eksplor lebih jauh adalah efek sosialnya.
Apakah keterbukaan komunikasi meningkat?
Apakah orang jadi lebih mudah bertanya?
Apakah koordinasi menjadi lebih cair?
Apakah bonding bisa tumbuh dari sekadar berada di satu ruang bersama, walaupun masing-masing sedang mengerjakan pekerjaannya?
Karena kalau dipikir-pikir, bekerja di kantor juga tidak selalu berarti semua orang terus berbicara.
Kadang kita cuma duduk di ruangan yang sama.
Masing-masing sibuk.
Sesekali ada yang nyeletuk.
Ada yang bercanda.
Ada pertanyaan kecil.
Lalu kembali bekerja.
Mungkin justru pengalaman seperti itu yang paling sulit digantikan oleh WFH.
Meeting bisa dipindahkan ke Zoom.
Reporting bisa dilakukan di chat.
Dokumen bisa dikerjakan bersama secara online.
Tapi rasa “kita sedang bekerja bareng” tidak selalu muncul hanya karena semua tools sudah tersedia.
Konsep ini mungkin bisa menjadi salah satu cara untuk mendekatinya.
Online Tidak Harus Meniru Offline
Saya tetap tidak percaya bahwa online bisa sepenuhnya menggantikan offline.
Ada banyak hal yang terjadi secara natural ketika orang benar-benar berada di tempat yang sama.
Bahasa tubuh.
Obrolan spontan.
Makan bersama.
Momen-momen kecil yang bahkan tidak pernah masuk agenda.
Tapi mungkin pertanyaannya juga bukan bagaimana membuat online menjadi persis seperti offline.
Masing-masing punya karakter dan pengalaman yang berbeda.
Yang bisa dilakukan adalah terus mencoba format mana yang paling berguna.
Kalau Zoom beberapa jam ternyata membuat koordinasi lebih cepat, komunikasi lebih terbuka, dan orang merasa sedikit lebih terhubung, ya mungkin ada sesuatu yang layak dipertahankan.
Kalau ternyata malah mengganggu fokus, ya formatnya tinggal diperbaiki.
Buat saya, kerja remote bukan berarti semua orang harus bekerja sendirian sepanjang hari.
Kadang kita memang berada di rumah masing-masing.
Tapi kita masih bisa mencoba menciptakan rasa berada di ruang yang sama.
Leave a Reply