Mewariskan pengetahuan: “Tulis apa yang ingin dibaca”

  • Hari 52: Belanja Banyak Itu Nggak Selalu Lebih Murah

    Hari ke-52. Hari ini saya lagi pengen segera checkout belanjaan untuk kantor—utamanya seragam untuk karyawan. Jadi saya nyemplung ke dunia belanja online dalam jumlah banyak: cari referensi, cari tawaran, cari toko yang bisa supply banyak, dan nyari yang paling masuk akal buat dibeli. Setelah kemarin-kemarin ke mall, hari ini saya review pengalaman belanja online versi…

  • Hari 51: Instruksi Itu Bukan Saran

    Sehari ke-51, hari ini lumayan saja. Trigger untuk marah-marah sebenarnya nggak ada. Tapi ada satu kejadian yang bikin saya berhenti sebentar dan mikir: ini bukan cuma soal emosi. Ini soal kepatuhan. Bahkan saya sampai “menghukum” siapa yang nggak patuh sama instruksi saya. Tapi biar nggak cuma jadi luapan, saya coba rasionalisasi kejadian ini dan ambil…

  • Hari 50: Siapa Lebih Penting daripada Apa

    Yee lima puluh. Wow, Alhamdulillah. Bisa strike lima puluh hari. Hari ini bulan Ramadhan, saya buka sesi sharing bareng teman-teman—ngobrolin hal-hal religius, hal-hal agama, saling mengingatkan. Dan dari obrolan itu, saya dapat satu learning yang terasa sederhana tapi nyata banget: kadang-kadang “siapa” itu lebih penting daripada “apa”. Kita kan bisa dengar pesan yang sama dari…

  • Hari 49: Kerja Itu Bagian dari Ibadah

    Ramadhan pertama puasa. Bagi yang sudah puasa, selamat menjalankan. Tadi saya ngisi sharing internal tentang kerja dan ibadah. Karena hampir tiap Ramadhan ada pertanyaan yang sama: “Gimana caranya tetap bisa ibadah di sela-sela kerja?” Jawaban saya simpel: kerja itu bagian dari ibadah. Tapi supaya ini nggak jadi kalimat motivasi doang, saya pakai tiga alasan yang…

  • Hari 48: Sepuasnya Itu Ada Batasnya

    Hari ke-48 ini rasanya pas banget: kelipatan, dan juga mendekati Ramadhan. Karena tahu hari ini atau besoknya sudah mulai puasa, kita “pemanasan” dulu—makan-makan sebelum puasa. Dan seperti biasa, hal yang kelihatannya receh (makan sepuasnya) ternyata tetap bisa jadi bahan refleksi. Ada tiga pelajaran kecil yang saya tangkap hari ini. 1) Kita hampir selalu “untung”… tapi…

  • Hari 47: Bersyukur Itu Bukan Menyangkal Realita

    Hari ini saya sudah ke-47. Hari ini saya kepikiran soal rasa syukur. Bukan karena hari ini semuanya baik-baik saja. Justru karena kerja itu ya begitu: ada yang enak, ada yang bikin stres, ada yang mudah, ada yang bikin pusing, target datang dari mana-mana. Dan di tengah kondisi kayak gitu, saya makin paham satu hal: rasa…

  • Hari 46: Remote Itu Bukan Gaya, Tapi Cara Kerja

    Hari ini hari Minggu, dan saya menamatkan satu buku lagi. Buku ke-6 dalam ritme “satu buku seminggu” ini adalah Remote dari Jason Fried dan David Heinemeier Hansson (founder Basecamp). Buku ini menarik karena formatnya ringan: judul-judulnya pendek, ilustrasinya bagus, satu halaman sering dibagi dengan visual. Jadi walaupun tebalnya sekitar 200-an halaman, bacanya terasa cepat—kayak dikasih…

  • Hari 45: Sabtu Bersama Bapak

    So hari ke-45, satu bulan setengah. Ini cerita Sabtu bersama Bapak. Weekend, liburan, dan kesempatan buat ketemu orang tua. Kadang hal kayak gini kelihatannya sederhana—cuma “main ke rumah orang tua”—tapi kalau dipikir lagi, ini sebenarnya momen yang nggak selalu ada. Ada tiga hal yang saya pegang dari hari ini. 1) Weekend itu kesempatan, jangan cuma…

  • Hari 44: Budaya Itu Bukan Jargon

    So, hari ke-44 ini udah delay 13 jam dari target. Tapi nggak apa-apa ya. Tadi malam ketiduran, pagi belum sempat juga. Saya mau cerita yang terjadi kemarin. Kita diskusi tentang culture—budaya—dan menariknya, budaya ini dibahas sebagai solusi atas permasalahan, bukan sekadar slogan. Ada tiga hal yang saya bawa pulang dari diskusi ini. 1) Awalnya saya…

  • Hari 43: Keputusan Itu Kerjaan Utama Manajer

    Ya, hari ke-43. Kemarin siang saya buka satu entry problem yang sering muncul di perusahaan: ada tim yang “decision” ke manajernya. Manajernya sibuk. Timnya nunggu. Ketika saya diskusikan, ada yang jawab: “ya menunggu.” Saya punya jawaban yang menurut saya lebih benar. Bukan karena saya lebih galak. Tapi karena kalau jawabannya “menunggu”, kita sedang menerima satu…

Mau baca jawaban saya? tanya saja.