Hari 50: Siapa Lebih Penting daripada Apa

Yee lima puluh. Wow, Alhamdulillah. Bisa strike lima puluh hari.

Hari ini bulan Ramadhan, saya buka sesi sharing bareng teman-teman—ngobrolin hal-hal religius, hal-hal agama, saling mengingatkan. Dan dari obrolan itu, saya dapat satu learning yang terasa sederhana tapi nyata banget:

kadang-kadang “siapa” itu lebih penting daripada “apa”.

Kita kan bisa dengar pesan yang sama dari mana-mana. Tapi kok efeknya beda-beda? Kok ada yang masuk, ada yang mental? Kok ada yang bikin kita keinget seharian, ada yang lewat aja?

Saya rangkum jadi tiga hal.


1) “Siapa yang ngomong” menentukan pintu masuknya

Orang yang ngomong itu kita kasih respect, kita sukai, kita kenal, kita hormati—biasanya pesannya punya jalan masuk yang beda ke pikiran kita.

Ini realita yang nggak bisa dipungkiri.

Kadang isi pesannya sebenarnya sama persis. Tapi karena yang ngomong “orang kita”, kita jadi:

  • lebih mau dengerin,
  • lebih sabar,
  • lebih percaya,
  • lebih gampang merenung.

Sebaliknya, kalau yang ngomong adalah orang yang kita nggak suka—atau kita sudah keburu benci—kadang pesan yang sama pun kita tolak mentah-mentah.

Bukan karena pesannya salah, tapi karena pintunya sudah kita tutup duluan.


2) Bukan cuma sosoknya, cara menyampaikan juga mengubah yang diterima

Yang kedua: setiap orang punya “how to” menyampaikan yang beda-beda.

Ada yang halus. Ada yang tegas. Ada yang pakai analogi. Ada yang to the point. Ada yang nadanya tinggi (dan bikin orang langsung defensif).

Kontennya bisa sama, tapi karena cara penyampaiannya beda, yang ditangkap orang juga beda.

Kadang orang bukan nggak setuju sama isinya, tapi “keburu capek sama caranya”.

Dan ini juga menjelaskan kenapa kadang kita bingung: “kok dia ngomong gitu tapi orang malah menjauh?” Bisa jadi bukan isinya, tapi delivery-nya.


3) Kalau gitu, tugas kita sebagai yang ngomong: belajar jadi sosok yang pesannya bisa diterima

Yang ketiga: ini balik ke kita.

Kadang apa yang kita sampaikan sebenarnya ruangnya sama dengan yang orang lain sampaikan. Pesannya juga sejalan. Tapi tetap bisa beda penerimaannya.

Makanya kita perlu latihan jadi “siapa” yang lebih baik.

Bukan berarti harus pura-pura sempurna. Justru saya belajar: kalau nunggu sempurna dulu baru mau ngomong, kita nggak akan pernah ngomong apa-apa.

Yang bisa kita lakukan adalah:

  • ngomong dengan niat baik,
  • belajar menyampaikan dengan lebih bijak,
  • sambil membenahi diri dan personality kita pelan-pelan.

Karena pesan yang baik itu bukan cuma perlu benar. Tapi perlu sampai.


Penutup

Jadi hari ini saya pulang dengan catatan kecil:

apa yang kita sampaikan itu penting, tapi siapa kita—dan bagaimana cara kita menyampaikan—kadang menentukan pesan itu hidup atau mati di kepala orang lain.

Dan Ramadhan itu momen yang pas untuk latihan: saling mengingatkan, sambil sama-sama membenahi diri.

Sampai jumpa besok.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *