Mewariskan pengetahuan: “Tulis apa yang ingin dibaca”
-
Hari 32: Salah Paham OKR yang Paling Sering Terjadi
Hari ke-32. Masih nyoba konsisten, tapi kali ini ada pola baru: setiap minggu baca satu buku dan sekaligus bikin kontennya. Edisi minggu ini: Measure What Matters. Buku tentang OKR. Lucunya, bukunya baru nyampe hari Kamis (beli online), tapi aku kejar selesai dalam 4 hari. Tadi malam aku baru kelar baca sekitar setengah tiga dini hari—habis…
-
Hari 31: Nggak Semua Orang Pintar Bisa Jadi Guru
Hari ke-31 artinya satu bulan penuh strike. Alhamdulillah. Hari ini saya mau cerita tentang pengalaman belajar dan mengajar—tepatnya saya jadi murid dari dua guru yang berbeda, dan bedanya terasa banget. Dari situ saya jadi makin yakin: Nggak semua orang yang pintar bisa jadi pengajar yang baik. Bukan karena mereka nggak niat. Tapi karena mengajar itu…
-
Hari 30: Plan Itu Bukan Wishlist
Hari ini Jumat, minggu terakhir, dan saya melakukan satu aktivitas yang (harusnya) jadi rutinitas: review planning. Kami melihat lagi rencana yang ditulis di awal bulan, lalu mengukur: yang jalan apa, yang ketunda apa, yang gagal apa, dan kenapa. Dari proses itu, saya dapat tiga pelajaran sederhana tentang planning—terutama buat orang-orang yang hidupnya sering “ketabrak hal…
-
Hari 29: Kalau Rumit, Jangan Ditambah Kata—Tambah Gambar
Hari ini saya lagi mencari satu hal yang kelihatannya sepele tapi efeknya besar: analogi visual. Ada jenis masalah yang kalau dijelaskan dengan kata-kata rasanya tetap “ngawang”. Bahkan ketika kita sudah merasa penjelasannya runtut, orang tetap terlihat belum nyambung. Bukan karena mereka kurang pintar—tapi karena ada konteks dan gambaran yang belum kebentuk di kepala. Kasusnya sederhana:…
-
Hari 28: 4 Minggu Konsisten, dan 3 Pelajaran dari Blak-blakan
Alhamdulillah, hari ini genap 4 minggu saya konsisten bikin konten setiap hari. Strike berturut-turut. Rasanya kecil, tapi buat saya ini milestone yang penting: bukan karena kontennya sempurna, tapi karena saya hadir. Semoga bisa lanjut sampai 40 minggu, sampai 4 tahun, dan seterusnya. Dan pas di momen 4 minggu ini, hari ini saya mengalami sesuatu yang…
-
Hari 27: 3 Kriteria Memilih Partner—Bisnis, Hidup, atau Proyek
Hari ini saya one-on-one dengan 11 orang. Banyak obrolan, banyak cerita, tapi ada satu pertanyaan yang rasanya relevan untuk hampir semua aspek hidup: “Gimana cara mencari partner?” Dan yang menarik: “partner” di sini bukan cuma partner bisnis. Polanya mirip untuk: Tentu konteksnya beda, tapi fondasinya sering sama: kita sedang memilih orang untuk berjalan bareng cukup…
-
Hari 26: Tiga Alasan Orang Tidak Mengucapkan Terima Kasih
Hari ini saya mengulang satu topik yang (jujur) terasa seperti deja vu: pentingnya berterima kasih. Tahun lalu saya sudah membahas ini di awal tahun. Dan tahun ini saya mengulang lagi—dengan kasus yang mirip. Yang bikin saya kepikiran bukan semata-mata karena ada orang yang tidak bilang “terima kasih”, tapi karena saya mendapati kenyataan yang agak mengganggu:…
-
Hari 25: Buku 3 – Surrounded by Idiots — Empat Warna, Empat Cara Ngobrol
Hari Minggu, ritualnya lanjut lagi: satu minggu, satu buku—lalu saya bikin catatan supaya minggu-minggu berikutnya saya nggak cuma bilang, “kemarin baca buku bagus,” tapi lupa isinya. Minggu ini saya selesai baca Surrounded by Idiots karya Thomas Erikson. Judulnya jelas clickbait dan agak nyolot—dan justru itu yang bikin saya pengin baca. Soalnya ya… kadang kita memang…
-
Hari 24: Segitiga yang Tidak Pernah Sama Sisi
Kita sering dengar “segitiga” klasik di dunia kerja: kualitas – harga – waktu. Katanya, hampir mustahil dapat tiga-tiganya sekaligus. Kalau mau cepat dan bagus, biasanya mahal. Kalau mau murah dan bagus, biasanya lama. Kalau mau cepat dan murah… ya biasanya bukan bagus. Hari ini saya kepikiran versi lain dari segitiga yang juga jarang “sama sisi”…
-
Hari 23: Kenapa Device Kerja Itu Perlu Di-upgrade (Bukan Gaya-gayaan)
Hari ini saya kepikiran hal yang kelihatannya sepele, tapi efeknya panjang: alat kerja. Awalnya dari hal sederhana: saya mau kerja, mau meeting, mau rekam… lalu ada yang nggak beres. Contohnya mikrofon saya—yang tiba-tiba nggak bekerja sebaik yang saya harapkan. Dan dari situ saya jadi mikir: ternyata ada alasan yang sangat masuk akal kenapa seseorang harus…
Mau baca jawaban saya? tanya saja.