Mewariskan pengetahuan: “Tulis apa yang ingin dibaca”

  • Hari 72: Marah Itu Wajar, Tapi Jangan Berlarut-larut

    Hari ini ada momen diskusi yang memanas. Ada orang marah-marah. Dan saya teringat satu hal: marah itu respon, marah itu refleks. Biasanya muncul karena ada sesuatu yang tidak sesuai harapan, atau ada trigger yang terasa tidak nyaman. Marahnya orang bisa dipahami. Kadang memang ada pemicu yang valid. Tetapi yang ingin saya latih adalah bukan “tidak…

  • Hari 71: Inovasi Tidak Menang di Ide, Menang di Adopsi

    Hari ini salah satu meeting membahas situasi yang cukup sering terjadi: ada pihak di luar pengguna sistem yang mengusulkan sebuah sistem baru agar dipakai. Di titik itu, pertanyaannya bukan hanya “apakah sistemnya bagus?”, tapi lebih berat: apakah orang yang harus memakai itu berkenan memakai—apalagi kalau usulannya datang dari luar? Kalau sebuah sistem baru benar-benar ingin…

  • Hari 70: Yang Bikin Capek Bukan Antrean, Tapi Ketidakpastian

    Hari ini saya harus keluar rumah mengurus perbankan: buka rekening. Saya datang, antre, menunggu, lalu menyadari satu hal: yang melelahkan itu bukan sekadar antreannya, tapi ketidakpastian prosesnya. Saya pulang dengan tiga catatan sederhana tentang apa yang bisa diperbaiki dalam pelayanan bank—dan saya rasa ini relevan juga untuk layanan publik lain. 1) Perlu estimasi waktu yang…

  • Hari 69: Yang Paling Dekat, Sering Paling Berkorban

    Hari ini saya kejar konten yang sempat lewat satu hari. Kemarin rasanya kejar-kejaran, ditutup nonton bola, lalu harus tidur. Akhirnya satu hari kelewat. Pagi ini saya tebus. Refleksi hari ke-69 saya sederhana: yang paling dekat, justru sering jadi yang paling banyak berkorban.Saya membayangkan situasi yang umum: di satu keluarga ada tamu datang, lalu keluarga yang…

  • Hari 68: Menang Itu Boleh, Tapi Jangan Membunuh Kepercayaan

    Saya makin sering ketemu situasi keputusan yang bentuknya bukan “kompromi”, tapi “pilih salah satu”. Iya atau tidak. Kiri atau kanan. Dan di titik itu, realitasnya sederhana: akan ada pihak yang “menang”, dan pihak lain merasa “kalah”. Yang membuat saya kepikiran adalah bagian setelahnya: apakah benar ketika satu pihak sering menang, pihak yang lain lama-lama kehilangan…

  • Hari 67: Berhenti Debat, Mulai Berganti Topi

    Hari ini Minggu. Seperti biasa, saya masih dalam misi satu minggu satu buku—dan ini buku ke-9. Saya masih kesulitan mencari ritme membaca saat Ramadan, jadi saya sering telat. Tapi saya ingin tetap konsisten, karena saya percaya aset berharga kita adalah pikiran—dan pikiran perlu diberi makan. Buku ke-9 ini: Six Thinking Hats (Edward de Bono). Saya…

  • Hari 66: Nyari Takjil, Belajar Jangan Iri Dulu

    Hari ini Sabtu. Saya tetap kerja, lalu siang hari saya sempat “nyari takjil”—kalau kata anak sekarang, nyari snack buat buka puasa. Saya mampir ke toko snack untuk cari makanan berbuka, dan di situ saya dapat renungan sederhana: kita sering melihat hidup orang lain lebih enak daripada hidup kita, karena kita hanya melihat permukaannya. Di satu…

  • Hari 65: Tiga Cara Merusak Keputusan

    Diskusi itu memang begitu. Satu pihak punya kepentingan dan alasan, pihak lain punya counter-argument. Di situlah peran keputusan menjadi penting: menyatukan perbedaan menjadi satu hal yang bisa ditindaklanjuti. Namun kenyataannya, keputusan tidak selalu bisa memuaskan semua pihak. Ada momen ketika satu argumen “menang”, dan argumen lain harus berhenti di situ. Tidak ideal, tapi sering tak…

  • Hari 64: Skala Masalah, Jangan Semua Dianggap Darurat

    Masalah dalam bekerja itu pasti terjadi setiap hari. Yang sering bikin kacau bukan karena masalahnya banyak, tapi karena semuanya diperlakukan sama: semua dianggap urgent, semua dianggap harus selesai sekarang. Padahal kalau semua jadi prioritas, ujungnya tidak ada prioritas. Dan yang paling berbahaya: masalah yang benar-benar penting justru terlambat ditangani. Hari ini saya merapikan cara pandang…

  • Hari 63: 3 Kursi di Meja Keputusan

    Hari ini saya menjalani banyak meeting yang ujungnya membutuhkan keputusan. Dan saya makin merasa: tidak semua meeting itu sama. Ada meeting yang butuh diskusi panjang, ada yang butuh konsultasi, dan ada yang sebenarnya cukup “diputuskan” saja. Masalahnya, keputusan sering jadi lambat bukan karena tidak ada ide, tapi karena orang yang duduk di ruang meeting tidak…

Mau baca jawaban saya? tanya saja.