Mewariskan pengetahuan: “Tulis apa yang ingin dibaca”
-
Hari 62: +62 dan Aturan yang Cuma Jadi Checklist
Selamat Hari ke-62. Angka ini mengingatkan saya pada kode negara: +62. Dan hari ini saya kepikiran tentang satu hal yang rasanya sering kita temui di negara kita: peraturan yang akhirnya lebih sibuk menjadi syarat formil, dibanding menjaga esensi tujuannya. Terkesit ketika saya melewati prosedur-prosedur yang “wajib dipenuhi”, lengkap, rapi, dan sesuai berkas. Tapi terasa seperti…
-
Hari 61: Seni Menyambut Orang Baru di Tim yang Sudah “Keluarga”
Hari ini tim saya kedatangan orang baru. Tim ini sudah kerja bareng lama—sebagian senior sudah hampir lima tahun. Dan yang membuat momen ini terasa unik: terakhir kali kami benar-benar menambah orang baru, sudah hampir dua tahun lalu. Tim yang lama bersama itu seperti rumah yang rapi. Semua orang sudah tahu: Lalu satu orang baru masuk.…
-
Hari 60: Sapi Ungu, Telat Sehari, dan Pola yang Belum Ketemu
Hari ini sebenarnya sudah lewat. Aku kehilangan satu hari karena target mingguanku: setiap minggu review satu buku. Kemarin belum selesai—not because I don’t care, tapi karena aku belum ketemu pola yang pas. Pola baca–catat–tulis yang bikin review ini bisa jalan konsisten tanpa drama. Malam ini aku tutup utang itu dengan menyelesaikan The Purple Cow (Sapi…
-
Hari 59: Checkpoint 2 Bulan Nulis Setiap Hari
Selama Januari sampai akhir Februari, kita konsisten nulis blog satu hari, satu konten. Is nice. Saya pengen mengapresiasi pencapaian ini, karena tahun lalu saya cuma sampai awal Februari. Jadi kali ini sudah lebih jauh dari yang terjadi tahun lalu. Saya anggap ini checkpoint dulu: 2 dari 12 bulan. Masih panjang, tapi ini sudah jadi pijakan…
-
Hari 58: Merantau, PP, atau WFH
Hari ke-58. Hari ini saya kepikiran soal hubungan kerja dan keluarga. Saya lihat ada tiga “jenis” cara orang bekerja—dan masing-masing punya jarak yang beda ke keluarganya. Nggak ada yang paling benar. Tapi ada konsekuensi yang perlu kita sadari dan hargai. 1) Yang merantau: memang memilih jauh Jenis pertama adalah orang yang bekerja dengan niat merantau.…
-
Hari 57: Sulitnya Mencari Metrik yang Pas
Ini sebenarnya keresahan yang mulai kebentuk sejak hari ke-50: sulitnya mencari metrik yang pas untuk mengukur kerjaan. Setelah hampir sebulan dalam pencarian, kita tak kunjung juga menemukan metrik yang benar-benar bisa dipakai untuk nge-track kerjaan kita. Mungkin karena referensi baru yang belum kita lakukan, jadi rasanya lebih sulit daripada sebelumnya. Padahal tahun kemarin kita masih…
-
Hari 56: Dapur dan Toko Harus Nyambung
Hari ke-56. Hari ini saya dapat pesan yang bagus banget, datangnya pagi-pagi dari meeting produk (yang biasanya jalan setiap rabu). Intinya sederhana tapi sering kejadian: orang-orang di “produk” yang menciptakan sesuatu untuk dideliver itu kadang perannya hanya setengah. Dan akhirnya target nggak tercapai. Karena sisi “jualan” juga punya faktor tinggi: memahami produknya, lalu benar-benar menawarkan…
-
Hari 55: Salah Kaprah tentang CEO
Ya, hari ke-55. Hari ini saya ngobrol sama anak magang, dan mereka ngangkat topik “CEO, CEO, CEO”—karena memang lagi ramai di trending. Mungkin karena kebanyakan orang ketemu istilah CEO bukan dari dunia kerja, tapi dari drama-drama (yang CEO-nya hidupnya kayak cuma ngejar cinta). Dari situ saya kepikiran: ada beberapa salah kaprah tentang CEO yang sering…
-
Hari 54: PAPASAN
So hari ke-54, hari Senin. Tadi kami melakukan LHDAY—satu hari di mana kita memperkuat lagi budaya perusahaan. Dan dari situ saya kepikiran satu challenge: kalau orang bilang kerja offline itu enaknya karena sering “ketemu langsung”, gimana cara bawa rasa itu ke online? Akhirnya muncul ide yang namanya: PAPASAN. Konsepnya sederhana: momen kecil ketika orang ketemu…
-
Hari 53: Berhenti Itu Kadang Strategi
Ya, hari ke-53 di Minggu. Seperti biasa saya melanjutkan ritme “satu minggu satu buku”. Tapi karena ini minggu pertama Ramadhan, saya masih nyari pola: pola baca buku, pola bangun tidur, pola bangun sahur. Makanya saya pilih buku yang kecil banget dulu: 93 halaman, The Dip dari Seth Godin. Buku ini tipis, tapi gaya Seth Godin…
Mau baca jawaban saya? tanya saja.