Hari 51: Instruksi Itu Bukan Saran

Sehari ke-51, hari ini lumayan saja. Trigger untuk marah-marah sebenarnya nggak ada.

Tapi ada satu kejadian yang bikin saya berhenti sebentar dan mikir: ini bukan cuma soal emosi. Ini soal kepatuhan. Bahkan saya sampai “menghukum” siapa yang nggak patuh sama instruksi saya.

Tapi biar nggak cuma jadi luapan, saya coba rasionalisasi kejadian ini dan ambil pelajaran darinya.

Meminta pimpinan/bos/atasan itu memang demanding. Ada harapan, ada ekspektasi. Tapi apakah itu otomatis salah? Saya coba urai satu-satu.


1) Bukan tentang “apa perintahnya”, tapi apakah perintahnya rasional

Kalau seseorang punya harapan agar perintahnya dikerjakan, yang memerintahkan juga harus logis:
apakah yang diminta itu mustahil? nggak relevan? nggak masuk akal? atau memang “ngada-ngada”?

Kalau yang diminta mustahil dan nggak relevan, lalu marah karena nggak tercapai, itu namanya ekspektatif (atau halusnya: halu).

Tapi ketika yang diminta bukan hal yang mustahil—dan sebenarnya masuk akal untuk dikerjakan—maka kita pindah ke poin berikutnya: ini bukan soal “leader demanding”, ini soal “tugas jalan atau nggak”.


2) Kalau kamu staff/tim/bawahan, instruksi itu bagian kerja (bukan opsi)

Bukankah seseorang jadi staff/tim/bawahan itu memang karena ada struktur kerja?

Ketika leader/pimpinan/atasan meminta sesuatu yang relevan, itu ya bagian dari tugas. Tinggal eksekusi.

Yang bikin saya bingung adalah fenomena kecil tapi mengganggu:
di tengah meeting, ada instruksi yang bisa dilakukan di dalam meeting itu, orang lain juga bisa, tapi ada orang yang seperti punya “antibodi”—seolah punya hak untuk menolak, mengingkari, atau menunda tanpa alasan yang jelas.

Padahal ini bukan perintah melanggar hukum. Bukan disuruh ngerjain kerjaan orang. Bukan disuruh hal aneh-aneh. Ini sesuatu yang benar-benar diperlukan oleh pimpinan saat itu juga.

Kalau kita bisa rapat bareng, tapi tidak bisa diakses untuk eksekusi instruksi yang sedang dibahas—itu bikin saya merasa: hopeless.

Bukan karena saya pengen berkuasa. Tapi karena alurnya jadi putus. Sistemnya jadi lemah.


3) Hal kecil itu memotret hal besar

Saya percaya: hal kecil itu cermin hal besar.

Mungkin yang direquest kecil. Pekerjaan kecil. Permintaan sepele. Tapi kalau yang kecil aja dianggap bukan sesuatu yang harus segera dilakukan—padahal ditunggu, dipanggil, diminta berkali-kali—itu bisa jadi fenomena gunung es.

Kalau yang “kelihatan dan ditunggu hasilnya” aja bisa diabaikan, apalagi yang di luar sana:

  • yang bentuknya cuma masukan,
  • yang nggak ada “reward” langsung,
  • yang nggak ada “punishment” langsung,
  • yang nggak diawasi.

Bisa-bisa itu juga diabaikan karena dari awal sudah “kebaca”: toh kalau ditunda juga nggak terjadi apa-apa.

Dan itu bahaya.


Penutup: saya juga audit diri, tapi ada batas yang nggak bisa ditawar

Saya tulis ini sambil tetap tanya ke diri sendiri:

  • Apakah saya terlalu ketat?
  • Apakah saya minta yang aneh-aneh?
  • Atau jangan-jangan orang memang punya kesibukan yang saya nggak lihat?

Tapi hari ini kasusnya jelas: orangnya sedang meeting sama saya. Itu bukan “kesibukan yang nggak terlihat”. Itu literally sedang ada di forum yang sama.

Kalau diajak ngomong nggak didengar, diperintah nggak dilakukan—itu bukan cuma telat, itu bikin sistem jadi hopeless, hopeless, hopeless.

Dan mungkin justru ini pelajarannya: dalam organisasi kecil/startup, fungsi eksekusi itu hidup-mati. Bukan cuma strategi. Bukan cuma ide. Tapi respons terhadap instruksi yang relevan dan perlu.

So, itu catatan saya hari ini.

Sampai jumpa besok.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *