Hari ke-56. Hari ini saya dapat pesan yang bagus banget, datangnya pagi-pagi dari meeting produk (yang biasanya jalan setiap rabu).
Intinya sederhana tapi sering kejadian: orang-orang di “produk” yang menciptakan sesuatu untuk dideliver itu kadang perannya hanya setengah. Dan akhirnya target nggak tercapai. Karena sisi “jualan” juga punya faktor tinggi: memahami produknya, lalu benar-benar menawarkan dan menjualnya.
Saya rangkum jadi tiga catatan.
1) Akhir yang gagal sering terjadi karena dapur dan toko nggak nyambung
Kadang kegagalannya bukan karena “produk jelek”.
Bisa jadi di dapur sudah maksimal:
- riset,
- development produk baru,
- ngerapihin paket,
- bikin promo,
- bikin deliverables.
Tapi ketika produk itu nggak pernah ditawarkan, atau orang yang di depan nggak bisa menjelaskan produk itu ke customer, ya produk itu nggak akan jadi hasil.
Yang terjadi akhirnya mengecewakan: dapur merasa “kami sudah bikin”, toko merasa “nggak ada yang minta”, dan ujungnya target tetap nggak tercapai.
Masalahnya sering bukan di usaha masing-masing. Tapi di sambungannya: dapur ke toko.
2) Product knowledge itu bukan cuma kurikulum sales
Yang kedua: pemahaman atas “apa yang kita punya” harus dimiliki semua orang di perusahaan, bukan cuma yang jualan.
Karena peluang itu bisa datang dari mana saja.
Kadang staff non-sales ketemu temannya, lalu temannya nanya: “Eh perusahaanmu bisa bantu apa?”
Kalau jawabannya “nggak tahu” atau “kayaknya nggak ada”, padahal sebenarnya ada, ya peluangnya hilang.
Jadi minimalnya: semua orang tahu produk apa saja yang kita jual.
Nggak harus hafal harga. Nggak harus hafal semua fitur. Tapi setidaknya tahu keberadaannya dan bisa mengarahkan.
Kalau produk knowledge hanya hidup di kepala sales, maka perusahaan itu sebenarnya lagi menyimpan peluang di tempat yang terlalu sempit.
3) Target holistik butuh duduk bareng: desain bareng, target bareng, tanggung bareng
Yang terakhir: saat mendesain sesuatu untuk mencapai tujuan penjualan, kita nggak bisa melihat satu titik saja tanpa melihat hubungannya dengan titik lain.
Produk nggak bisa dipaksa “harus bikin sesuatu yang spektakuler terus”, tanpa melihat:
- kebutuhan pasar,
- alur jualannya,
- cara menjelaskan,
- dan kesiapan tim jualan untuk membawa itu ke customer.
Dan sebaliknya, jualan juga nggak bisa cuma minta “produk bikin yang gampang dijual”, tanpa memahami konsekuensi deliver dan operasionalnya.
Karena kalau masing-masing cuma melihat sisi sendiri, nanti ketika outputnya nggak jalan, semua merasa:
“bukan salah saya.”
Padahal jelas: kalau nggak sinkron, ya itu masalah bersama. Dan solusinya juga harus bareng.
Makanya perlu:
- penargetan bersama,
- duduk bersama,
- kepentingan bersama,
- dan ekspektasi yang disepakati.
Biar kerja kolektifnya beneran jadi kolektif, bukan “kerja masing-masing lalu saling nyalahin”.
Penutup
Hari ini saya dapat pengingat sederhana:
Kita nggak bisa cuma nyalahin orang dapur.
Kita juga nggak bisa cuma nyalahin orang jualan.
Kalau tujuan itu kolektif, maka dukungannya juga kolektif:
saling memahami, saling mengekspektasi, saling mengusahakan, dan saling mensupport.
So, itu catatan hari ini.
Sampai jumpa besok.
Leave a Reply