Ya, hari ke-55.
Hari ini saya ngobrol sama anak magang, dan mereka ngangkat topik “CEO, CEO, CEO”—karena memang lagi ramai di trending. Mungkin karena kebanyakan orang ketemu istilah CEO bukan dari dunia kerja, tapi dari drama-drama (yang CEO-nya hidupnya kayak cuma ngejar cinta).
Dari situ saya kepikiran: ada beberapa salah kaprah tentang CEO yang sering kebawa-bawa.
Ada tiga yang paling sering.
1) CEO itu karyawan, bukan otomatis pemilik
Salah kaprah pertama: seolah-olah CEO itu pemilik.
Padahal CEO itu jabatan. Dan jabatan itu ya… karyawan. Jabatan paling tinggi, iya. Tapi tetap karyawan.
Pemilik itu pemilik. Owner itu owner. Bisa sama, bisa beda.
Ada orang yang owner tapi bukan CEO. Ada CEO yang di-hire pemilik. Dan dua peran itu beda.
Makanya lucu kalau kebayang “CEO dari lahir kaya raya”. Padahal banyak CEO itu justru kerja beneran—ngurus orang, ngurus target, ngurus arah.
2) CEO itu bukan kerjaan paling ringan—tanggung jawabnya paling tinggi
Salah kaprah kedua: CEO itu kerjaannya paling ringan.
Ini juga sering kejadian karena orang melihat “yang mengerjakan” itu staf dan tim. Sehingga CEO terlihat cuma “menyuruh”.
Padahal yang paling berat seringnya bukan ngerjain task, tapi memastikan seluruh sistem bergerak:
- arah perusahaan mau dibawa ke mana,
- apakah sudah sampai,
- apa yang harus dievaluasi,
- apa yang harus diubah,
- siapa yang harus ditambah,
- mana yang harus dipotong.
Tim mengerjakan. Tapi memastikan semuanya berjalan dan bertanggung jawab di ujungnya… ya CEO.
Jadi CEO itu bukan yang paling enteng. Di banyak kasus justru yang paling berat, karena salah ambil keputusan satu kali bisa berdampak ke banyak orang.
3) Jadi “CEO” itu gampang—tapi jadi CEO yang bener itu beda cerita
Yang ketiga ini agak nyentil ke diri sendiri.
Kadang saya juga sulit mengakui pekerjaan saya sebagai CEO, karena istilahnya keburu kelihatan lucu. Orang dengarnya kayak “wah keren”, padahal realitanya banyak bagian yang nggak glamor.
Dan memang faktanya: jadi CEO itu secara label bisa gampang. Bikin usaha, jadi CEO-nya, selesai.
Kalau mau jadi dokter harus sekolah dokter. Mau jadi lawyer harus sekolah hukum.
Tapi jadi CEO? Ya bikin usaha, tulis jabatan CEO, udah.
Yang sulit itu bukan “punya title CEO”. Yang sulit itu:
- CEO-nya bener nggak,
- perusahaannya jalan nggak,
- dan akhirnya sukses atau nggak.
Atau kalau di-hire jadi CEO di perusahaan yang sudah ada, itu juga level yang lain: memimpin sistem yang sudah berjalan, memegang tanggung jawab yang besar, dan tetap harus deliver.
Jadi ya, labelnya gampang. Bebannya yang nggak gampang.
Penutup
So, itu tiga salah kaprah tentang CEO yang kepikiran hari ini:
- CEO itu karyawan, bukan otomatis pemilik.
- CEO itu bukan kerjaan paling ringan—tanggung jawabnya paling tinggi.
- Jadi CEO itu gampang kalau cuma label, tapi jadi CEO yang bener itu berat.
Mungkin itu dulu, biar nggak keburu lupa.
Sampai jumpa besok.
Leave a Reply