Hari ini Minggu. Seperti biasa, saya masih dalam misi satu minggu satu buku—dan ini buku ke-9. Saya masih kesulitan mencari ritme membaca saat Ramadan, jadi saya sering telat. Tapi saya ingin tetap konsisten, karena saya percaya aset berharga kita adalah pikiran—dan pikiran perlu diberi makan.
Buku ke-9 ini: Six Thinking Hats (Edward de Bono). Saya pertama kali dengar konsepnya dari podcast, lalu akhirnya membeli bukunya, tertunda lama, dan baru sekarang selesai.
Intinya sederhana: saat mengambil keputusan, kita bisa “memakai” enam topi berpikir yang berbeda:
- Putih: data & fakta
- Merah: perasaan & intuisi
- Hitam: risiko & kehati-hatian
- Kuning: optimisme & manfaat
- Hijau: ide kreatif & alternatif
- Biru: kontrol proses & keputusan (facilitator/penutup)
Dari buku ini, saya ambil tiga pelajaran.
1) “Topi” itu bisa dipakai dan dilepas
Ini bagian yang paling saya suka: topi bukan identitas. Artinya, kita tidak perlu menghakimi orang sebagai “dia memang negatif”, “dia memang emosional”, atau “dia memang kreatif”.
Karena yang diminta bukan menjadi orang tertentu, tapi memakai mode berpikir tertentu sesuai kebutuhan. Hari ini butuh fakta? pakai topi putih. Butuh mengeluarkan rasa khawatir yang sebenarnya valid? pakai topi hitam. Butuh ide liar? pakai topi hijau.
Saya merasa konsep ini lebih manusiawi, karena mendorong orang berkontribusi tanpa memberi label permanen.
2) Lebih produktif daripada debat A vs B
Saya sering mengalami rapat yang penuh argumentasi: satu pihak memegang opsi A, pihak lain memegang opsi B. Diskusi jadi tarik-menarik, dan kadang yang menang bukan yang paling benar, tapi yang paling kuat bicara.
Dengan Six Thinking Hats, diskusi jadi lebih komprehensif. Karena tim dipandu untuk menilai satu keputusan lewat beberapa lensa, bukan sekadar memilih kubu:
- kita cek datanya (putih),
- kita dengar rasa orang (merah),
- kita petakan risiko (hitam),
- kita lihat manfaat (kuning),
- kita cari alternatif (hijau),
- lalu ditutup dengan keputusan & langkah (biru).
Hasilnya bukan hanya “menang-kalah”, tapi “lebih lengkap”.
3) Keputusan memang perlu lebih dari data atau risiko
Saya sering melihat pengambilan keputusan yang terasa “wajib” berbasis data saja, atau “wajib” berhenti di risiko saja. Padahal keputusan juga memerlukan:
- perasaan (apa yang sebenarnya mengganjal atau diyakini),
- optimisme (harapan dan potensi manfaat),
- kreativitas (alternatif yang belum terpikir).
Kalau semua emosi dilarang, orang bisa patuh di luar, tapi tidak selesai di dalam. Dan kalau semua optimisme dipadamkan, kita bisa kehilangan energi untuk menjalankan keputusan itu sendiri.
Dengan sistem topi, kita diberi ruang menyampaikan semuanya secara bergiliran—fokus pada kontribusi, bukan pada penilaian pribadi.
Penutup
Di buku ini ada klaim yang menarik: metode ini bisa mengurangi waktu pengambilan keputusan yang semula berjam-jam, menjadi lebih singkat—karena semua pertimbangan disampaikan secara terstruktur dan bergantian.
Yang saya bawa pulang hari ini: rapat bukan harus lebih panjang untuk jadi lebih matang. Kadang rapat cukup lebih terarah—dan salah satu caranya adalah berhenti debat, lalu mulai berganti topi.
Leave a Reply