Mewariskan pengetahuan: “Tulis apa yang ingin dibaca”

  • Hari 2: Senang, Sabar, Adaptif: Tiga Modal BertahanTahun

    Hari ini saya ketemu karyawan baru. Di tengah obrolan, dia nanya satu pertanyaan yang sederhana, tapi “nempel” di kepala saya: “Mas, apa yang bikin perusahaan ini bisa sampai tahun ke-9?” Dia cerita dulu pernah coba bikin usaha juga, tapi nggak lanjut. Jadi pertanyaannya bukan cuma rasa ingin tahu—ada semacam pencarian jawaban: gimana caranya sesuatu bisa…

  • Hari 1: Kegagalan Konsistensi (dan Cara Baru untuk Menang)

    Tahun lalu saya pernah punya niat yang sama: menulis setiap hari. Niatnya sederhana dan terdengar mulia. Blog ini bukan untuk jadi terkenal. Bukan untuk dibaca banyak orang. Bukan untuk jadi “personal branding”. Blog ini saya niatkan sebagai tempat refleksi: menulis hal-hal yang ingin saya baca sendiri, mendokumentasikan isi kepala, dan menyimpan potongan hidup dalam bentuk…

  • 33 Pelajaran dari 33 Tahun

    “ga ada yang sempurna, lebih disana, kurang disini” “jangan kumpul di tongkrongan dan jadi paling pinter” “kok bisa yang dulu nakal bisa jadi sales” “dia siapa, kita kerja keras aja” “tidur aja bisa” “jangan abai sekitar” “tentu kita tidak tau” “siapa dulu kok sekarang gini” “luaskan duniamu” “didengarkan dan memperdengarkan” “sulit nih kalo itu-itu aja”…

  • 23. Refleksi Voting Terfavorit

    Ya, saya (Miftachurrobani) mewakili LindungiHutan untuk dipilih di antara tiga kandidat lain dalam helatan SATU INDONESIA Award oleh ASTRA, apa saja yang saya pelajari dari kejadian ini, mari kita mulai dengan kronologisnya: Hasilnya Saya Kalah Telak Ya, saya jumping ke endingnya dulu. Pagi hari di minggu (27/10) saya dikirimi oleh rekan dan mengecek sendiri bahwa…

  • 22. Perlukah pendidikan tinggi setinggi-tingginya?

    Di beberapa kesempatan terbuka, saya sering ditanya oleh rekan tentang bagaimana dengan melanjutkan kuliah (lagi). Ini tentu mendasar ditanyakan ke saya karena saya selesai S2 dan beranggap ijazah ga bernilai-nilai amat. Tentu saja bagi saya secara personal. Berkecimpung di dunia entreprenuer tak menyaratkan ijazah. Hanya tekad dan terus belajar (bukan hanya kuliah). Tapi ada beberapa…

  • 21. Mengapa orang berkumpul lalu berpisah?

    Saya pernah berada di pertemanan yang belum sadar bahwa semua hubungan itu akan berakhir. Ini teori yang saya percaya bahwa pertemanan punya jangka waktu. Ketika SD kita dekat karena sekolah bersama, namun ketik berganti SMP, kita pisah. Ada jangka waktunya. Bahkan rekan bekerja juga akan berakhir ketika kita atau mereka resign. Berjangka. Selain pertemanan, perkumpulan…

  • 20. Bagaimana menjaga kebiasaan baik?

    Pertanyaannya bukan cara mengubah kebiasaan buruk, karena susah. Susah sekali. Sukar. Sukar sekali. Setiap kita memiliki suatu pola, perulangan dalam hidup. Kegiatan yang terus dijalani secara rutin. Ada yang kita nilai hal baik, ada yang sudah kita sadari buruk. Minimal ada kesadaran lah. Lalu mulailah kita memikirkan bagaimana kebiasaan buruk itu berhenti. Kita belajar lalu…

  • 19. Mengapa kemampuan dan pengetahuan adalah aset berharga?

    Jika dicari apa yang paling berharga dari apa yang kita punya, pengetahuan mungkin bisa di nomor satukan. Alkisah kabarnya, jika semua orang, yang kaya dan yang miskin. Tiba-tiba dihilangkan semua hartanya dan start from zero lagi, si kaya bakal balik lagi jadi kaya. Karena mereka punya modal. Balik tentang hal berharga. Sesuatu bernilai lebih karena…

  • 18. Mengapa kita tergantung dengan alat?

    Hari ini hari yang terasa sangat panjang. Listrik mati. Seakan semua kerjaan menunggu semua alat siap. Karena telah terbiasa dengan fasilitas lengkap. Alat elektronik dan sinyal yang cukup. Hidup tanpanya jadi terasa makin sulit. Seolah tidak bisa apa-apa. Padahal sebenarnya kalo kita memakai laptop untuk menulis bukankah alat tulis sangat banyak. That’s the question. Maka…

  • 17. Bagaimana membangun sistem pendukung?

    Dahulu saat kuliah saya mendapat mata kuliah Sistem Pendukung Keputusan. Yang saya ingat, dijelaskan bahwa ketika mengambil keputusan ada serangkaian metode yang dapat digunakan. Pada akhirnya memang kita, manusia, yang mengambil keputusan dan bertanggung jawab atasnya. Tetapi semua metode itu berawal dari pengumpulan data, pembobotan dan ditarik rumus pendekatan yang beragam. Lalu sistem bisa membantu…

Mau baca jawaban saya? tanya saja.