Mewariskan pengetahuan: “Tulis apa yang ingin dibaca”

  • Hari 152: Libur yang Tidak Libur

    Hari 152: Libur yang Tidak Libur Hari Senin, 1 Juni, tanggal merah Hari Kelahiran Pancasila. Sebagaimana hari libur, saya mencoba memanfaatkannya untuk pergi ke beberapa tempat. Tapi ternyata, banyak tempat yang mau saya kunjungi justru tutup. Mereka juga ikut libur. Dari situ saya jadi kepikiran satu hal sederhana: kadang kita membayangkan punya usaha sendiri itu…

  • Hari 151: Pendek Tapi Berbobot

    Saatnya menutup minggu dengan sebuah buku. Kali ini saya membaca buku fiksi, kumpulan cerpen berjudul Bakat Menggonggong dari Dea Anugrah. Buku ini saya pilih karena saya ingin mengembalikan minat baca saya. Setelah bulan Mei yang terasa cukup sulit untuk konsisten, saya butuh buku yang tidak terlalu tebal, tidak terlalu mengintimidasi, dan bisa selesai dalam hitungan…

  • Hari 150: Yang Kita Pilih Lihat

    Dalam salah satu pembicaraan, ada orang yang bilang bahwa ia punya kemampuan unik untuk melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat. Bahkan beberapa kali ia merasa bisa membuktikan itu. “Saya sering lihat hal-hal yang orang lain tidak sadar.” Saya jadi kepikiran satu hal yang saya sebut sebagai The Red Car Theory. Sederhananya begini: kadang kita…

  • Hari 149: Dendam Jadi Bahan Bakar

    Saya percaya, ada hal-hal di masa lalu yang bisa menjadi bahan bakar sangat kuat untuk masa depan. Bisa berupa dendam. Bisa berupa cita-cita masa kecil. Bisa berupa sesuatu yang dulu sangat ingin kita lakukan, tapi tidak bisa karena kemampuan, kesempatan, atau keadaan belum mendukung. Kadang bentuknya memang tidak selalu manis. Ada rasa kecewa. Ada rasa…

  • Hari 148: Impact Tidak Selalu Terlihat

    Pertanyaan yang cukup sering saya jumpai ketika bertemu karyawan adalah: “Mas, kayaknya kerjaan saya kok nggak kelihatan impact-nya ya?” “Atau sebenarnya apa yang saya lakukan tiap hari itu ada gunanya di sini?” Menurut saya, ini pertanyaan yang menarik. Karena pertanyaan ini biasanya datang dari kesadaran bahwa bekerja bukan hanya tentang apa yang kita terima. Bukan…

  • Hari 147: Jangan Tersedot Klien Nakal

    Hari ini masih menjawab pertanyaan dari sesi one on one. Pertanyaannya tentang bagaimana menghadapi klien nakal. Dalam konteks ini, klien yang tidak melakukan pembayaran tepat waktu, padahal dari sisi kita sudah mencoba berbagai macam cara. Menurut saya, ini pertanyaan yang sangat valid. Karena menghadapi situasi seperti ini memang bisa bikin stres. Kita sudah melakukan pekerjaan.…

  • Hari 146: Inisiatif Butuh Waktu

    Hari ini saya ingin melanjutkan pertanyaan tentang bagaimana mengevaluasi sebuah inisiatif baru. Saya cukup sering mendengar pertanyaan, keluhan, rasa frustrasi, bahkan rasa putus asa dari teman-teman tim tentang inisiatif yang sedang kita coba tahun ini. “Menurut Mas Ben, ini berhasil nggak?” “Ini masih layak dilanjutkan nggak?” “Kok hasilnya belum kelihatan ya?” Pertanyaan seperti ini wajar.…

  • Hari 145: Strategi Butuh Ruang

    Saya mendapat pertanyaan tentang bagaimana kalau karyawan harus memikirkan strategi bisnis, tapi di saat yang sama juga harus mengerjakan BAU. BAU ini maksudnya pekerjaan rutin harian. Pekerjaan yang harus tetap berjalan. Pekerjaan yang kalau tidak dikerjakan, operasional bisa terganggu. Pertanyaannya jadi cukup realistis: kalau waktunya terbatas, energinya terbatas, dan kerjaan rutinnya banyak, bagaimana orang bisa…

  • Hari 144: Komedi Bisa Dibikin

    Hari ini hari Minggu. Harusnya, setiap Minggu saya menulis tentang buku yang saya baca. Targetnya satu buku satu minggu. Tapi bulan ini cukup berat. Banyak hari yang harus dilewati, banyak urusan yang perlu dibereskan, dan akhirnya bacaan saya bulan ini tidak sebanyak biasanya. Sejauh ini baru dua buku. Itu pun buku tipis. Tapi ya sudah.…

  • Hari 143: Leader Newbie

    Dalam salah satu sesi one on one, saya sharing dengan beberapa orang yang mulai diberi peran sebagai leader atau manajer. Secara jabatan, mereka mulai punya tanggung jawab untuk mengatur orang lain. Tapi secara eksekusi, beberapa masih terasa newbie. Dan itu wajar. Semua orang yang hari ini terlihat jago memimpin, dulunya juga pernah pertama kali diberi…

Mau baca jawaban saya? tanya saja.