Mewariskan pengetahuan: “Tulis apa yang ingin dibaca”

  • Hari 210: Produk Berubah, Tim Harus Tahu

    Hari Rabu biasanya menjadi jadwal meeting internal tentang produk. Memang tidak selalu ada setiap minggu, tetapi slotnya sudah disediakan setiap Rabu pukul sepuluh. Hari ini agendanya cukup menarik: product knowledge refreshment. Tujuannya adalah menyegarkan kembali pemahaman tim tentang produk, terutama kalau ada perubahan, layanan baru, atau hal-hal yang sudah tidak sama dengan informasi sebelumnya. Yang…

  • Hari 209: Mulai, Catat, Luruskan

    Hari ini saya mengerjakan proses evaluasi untuk melihat apakah semua orang sudah benar-benar selaras. Apakah pekerjaan yang dilakukan sehari-hari nyambung dengan apa yang dilaporkan? Apakah laporan itu sesuai dengan ekspektasi peran? Apakah target individu mendukung target divisi? Dan apakah target divisi benar-benar bergerak menuju tujuan organisasi? Prosesnya ternyata cukup menarik. Pekerjaan ini sangat terbantu ketika…

  • Hari 208: Konten Bukan Titik Awal

    Hari Senin ini saya membuka pekan dengan banyak hal yang perlu dikerjakan dan dicapai. Di tengah agenda hari ini, saya mendapat kesempatan menjadi mentor dalam sebuah program inkubasi entrepreneur yang pesertanya adalah ibu-ibu pelaku usaha. Salah satu topik yang dibicarakan adalah media sosial sebagai media promosi. Saya membagikan beberapa hal dari buku yang sedang saya…

  • Hari 207: Mulai Bisnis dari Weekend

    Hari Minggu biasanya menjadi waktu saya menulis tentang buku. Kali ini terasa cukup spesial karena jaraknya hanya dua hari dari buku terakhir yang saya selesaikan. Buku ini selesai dalam empat kali kesempatan membaca, mungkin total sekitar empat jam untuk kurang lebih 200 halaman. Kecepatan yang cukup menyenangkan. Bukan karena saya tiba-tiba membaca jauh lebih cepat,…

  • Hari 206: Waktu Tidak Pernah Kosong

    Hari Sabtu ini saya mencoba kembali membangun beberapa habit yang sempat berantakan. Lebih tepatnya, bukan memulai sesuatu yang benar-benar baru. Saya hanya sedang mencoba mengonsistenkan hal-hal yang sebenarnya sudah tahu perlu dilakukan. Kembali membuat konten tepat waktu. Kembali membaca buku. Tidur lebih teratur. Mengurangi distraksi. Mengelola waktu dengan lebih baik. Dan mencoba hadir penuh pada…

  • Hari 205: Dua Jam yang Mahal

    Hari ini saya membuka meeting bersama teman-teman manajer untuk mencari tahu bagaimana meeting mingguan satu perusahaan bisa dibuat lebih efektif. Selama ini, meeting tersebut menjadi ruang bagi setiap divisi untuk menyampaikan perkembangan pekerjaan. Semua orang hadir, mendengar apa yang terjadi di divisi lain, lalu berusaha memahami kondisi perusahaan secara keseluruhan. Namun, ketika sebuah meeting mengumpulkan…

  • Hari 204: Sukses Tidak Punya Satu Rumus

    Akhirnya saya menyelesaikan buku ke-19 dari target membaca 52 buku tahun ini. Target awalnya satu minggu satu buku. Namun, buku ini baru selesai setelah lebih dari satu bulan, mungkin sekitar lima minggu. Kalau melihat targetnya, tentu pencapaian ini sangat buruk. Sama seperti beberapa postingan yang sempat terlewat, rutinitas membaca juga ikut terhenti. Namun, saya tidak…

  • Hari 203: Dari Angka Menjadi Keputusan

    Hari Rabu ini tidak ada meeting. Saya jadi punya waktu untuk fokus membongkar data-data yang selama ini dikumpulkan setiap minggu. Awalnya, data tersebut biasanya hanya dilihat dari satu minggu ke minggu berikutnya: naik atau turun, lebih baik atau lebih buruk. Namun, ketika dilihat dalam rentang yang lebih panjang, ternyata maknanya berbeda. Data mingguan yang sebelumnya…

  • Hari 202: Dari Pembeli Menjadi Pembela

    Melanjutkan obrolan tentang Piala Dunia, saya jadi kepikiran satu hal: kenapa sepak bola bisa menumbuhkan fanatisme yang begitu kuat? Orang bisa melakukan banyak hal untuk tim nasionalnya. Itu mungkin lebih mudah dipahami karena ada rasa kebangsaan dan identitas bersama. Namun, fanatisme terhadap klub juga sama kuatnya. Orang rela datang jauh-jauh, membeli berbagai atribut, membela timnya…

  • Hari 201: Bintang Bisa Menang, Tim Bisa Juara

    Hari Senin ini dimulai dengan kondisi yang agak tidak ideal. Dari sekitar pukul dua sampai hampir pukul lima pagi, saya masih menonton final Piala Dunia. Setelah itu, tetap harus melanjutkan pekerjaan dan meeting seperti biasa. Di satu sisi, saya cukup lega Piala Dunia akhirnya selesai. Hampir 40 hari terakhir, ritme hidup terasa seperti jet lag.…

Mau baca jawaban saya? tanya saja.