Author: benrobani

  • Hari 162: Pemimpin Makan Terakhir

    Hari kedua outing. Hari yang sama chaos-nya dengan hari pertama, terutama karena jarak yang ditempuh cukup panjang. Tapi di tengah perjalanan yang padat itu, ada satu momen yang ingin saya highlight: makan siang. Sebenarnya hari ini banyak hal menyenangkan. Kami main paintball, naik jeep mengitari gunung, dan malamnya barbeque bersama. Hari yang secara keseluruhan seru…

  • Hari 161: Jalan-Jalan Butuh Jarak Napas

    Hari ini adalah hari besar outing satu kantor ke luar kota. Akhirnya kami bisa berkumpul bersama di satu titik, bertemu satu kantor dalam suasana yang berbeda dari biasanya. Bukan meeting online, bukan chat kerja, bukan update task, tapi benar-benar jalan bersama. Nama acaranya TreeFeeling. Pelesetan dari traveling, karena memang rencananya kami akan muter-muter ke banyak…

  • Hari 160: Bertahan Jangan Setengah Hati

    Hari ini hari Selasa, saya cuti. Setiap tahun, saya biasanya mengambil cuti di hari-hari spesial. Hari ulang tahun saya, ulang tahun istri, ulang tahun anak, dan ulang tahun pernikahan. Kali ini momennya adalah ulang tahun anak saya. Jadi kami pergi ke luar kota dan mengunjungi tempat wisata. Menariknya, tempat wisata ini bukan tempat yang sedang…

  • Hari 159: Kerja Tidak Selalu di Laptop

    Hari Senin ini, satu kantor akan menjalani outing di luar kota. Dalam kondisi seperti ini, biasanya ritme kerja berubah. Tidak semua orang bisa duduk rapi di depan laptop, membuka dokumen, membalas task, atau mengikuti jam kerja seperti biasanya. Tapi saya selalu ingin mengingatkan satu hal: pekerjaan tidak selalu harus dilakukan di depan laptop. Ada banyak…

  • Hari 158: Konsisten Bukan Kaku

    Hari Minggu harusnya saya membuat post tentang review buku. Saya sempat punya target: satu minggu satu buku. Rasanya sederhana, bagus, dan memang penting untuk dijaga. Membaca membuat kepala tetap terisi. Membaca juga memberi bahan untuk berpikir, menulis, dan melihat sesuatu dari sudut yang lebih luas. Tapi minggu ini ternyata tidak bisa lagi. Bukan karena tidak…

  • Hari 157: Empat Tahun Menjadi Orang Tua

    Hari ini tanggal 6 Juni 2026. Tanggal 6-6-26. Tanggal cantik yang mungkin banyak dipakai pasangan untuk menikah. Tapi bagi saya, tanggal ini punya arti yang lebih personal. Empat tahun lalu, anak perempuan saya lahir di tanggal 6 bulan 6. Hari ini adalah ulang tahunnya yang keempat. Ada rasa syukur yang besar sekali bisa sampai di…

  • Hari 156: Terjepit di Tengah

    Hari ini saya bertemu dengan salah satu middleman. Maksudnya bukan calo, tapi manajer penghubung. Orang yang posisinya ada di tengah: antara atasan paling atas dan bawahan paling bawah. Posisi ini sering kelihatannya biasa saja. Tapi sebenarnya tidak mudah. Dari atas, ada arahan, target, instruksi, dan hal-hal yang harus dikerjakan. Dari bawah, ada kondisi lapangan, beban…

  • Hari 155: Target Bawah, Dampak Atas

    Hari-hari yang berat datang kembali. Saya membuka diskusi one on one dengan beberapa manajer. Satu per satu. Membahas rencana, kendala, pencapaian, dan hal-hal yang masih terasa belum pas. Salah satu pembahasan yang muncul di beberapa divisi adalah tentang kesesuaian antara apa yang dilakukan di level staf, level divisi, sampai relevansinya dengan goal perusahaan. Ujungnya tentu…

  • Hari 154: Eksplorasi Harus Punya Ujung

    Hari ini saya merefleksikan tentang strategi baru. Ketika sebuah strategi baru dicanangkan, pasti rasanya berbeda dengan strategi lama. Kalau strategi lama sudah repetitif, kita tinggal mengulang cara yang sudah pernah dilakukan. Kurang lebih polanya sama. Tantangannya sudah bisa diprediksi. Ritmenya juga sudah terbaca. Tapi strategi baru tidak begitu. Kadang kita belum tahu akan seberhasil apa.…

  • Hari 153: Dekat Bukan Berarti Diam

    Hari pertama kerja setelah libur, hari Selasa, ada satu pertanyaan yang cukup menarik untuk dipikirkan. Ketika kita terlalu dekat dengan seseorang, punya attachment, punya hubungan baik, kadang kita jadi sulit menyampaikan hal-hal yang buruk tentang dia. Bahkan ketika ada kesalahan, kita bisa memilih menutupinya, menahannya, atau ikut menanggung salahnya. Bukan karena kita tidak tahu itu…