Hari ini hari Selasa, saya cuti.
Setiap tahun, saya biasanya mengambil cuti di hari-hari spesial. Hari ulang tahun saya, ulang tahun istri, ulang tahun anak, dan ulang tahun pernikahan.
Kali ini momennya adalah ulang tahun anak saya.
Jadi kami pergi ke luar kota dan mengunjungi tempat wisata. Menariknya, tempat wisata ini bukan tempat yang sedang viral. Bukan yang lagi ramai di media sosial. Bukan juga tempat yang sering lewat di timeline karena sedang hits.
Bahkan mungkin bisa dibilang tempat wisata yang sudah agak ditinggalkan.
Tapi ketika kami datang ke sana, ternyata masih ramai juga. Masih banyak pengunjung. Masih ada berbagai wahana hiburan yang berjalan. Masih ada keluarga-keluarga yang datang mencari pengalaman.
Dari situ saya jadi berpikir tentang bisnis wisata.
Di tengah gempuran tempat-tempat baru yang viral di media sosial, bagaimana sebuah tempat wisata lama bisa tetap bertahan?
Menurut saya, ada tiga hal yang bisa dipelajari.
1. Punya Ciri Khas yang Jelas
Tempat wisata tidak bisa hanya mengejar viral.
Viral itu penting, tapi sering kali pendek usianya. Hari ini ramai karena sedang tren. Besok bisa tergeser oleh tempat lain yang lebih baru, lebih estetik, lebih aneh, atau lebih mudah dijadikan konten.
Kalau hanya hidup dari viral, bisnis wisata akan terus mengejar momentum.
Masalahnya, momentum tidak selalu datang.
Maka tempat wisata perlu punya ciri khas yang jelas.
Siapa target pengunjungnya?
Apa kekuatan lokasinya?
Apa wahana yang dimiliki?
Apa alasan orang tetap datang meskipun tempat itu tidak sedang dibicarakan?
Kalau sebuah tempat punya planetarium sendiri, roller coaster sendiri, wahana khas sendiri, atau pengalaman yang tidak mudah ditemukan di tempat lain, itu bisa menjadi daya tarik yang lebih panjang umurnya.
Orang mungkin tidak datang karena viral.
Tapi mereka datang karena tahu ada sesuatu yang memang ingin mereka rasakan.
Menurut saya, itu yang membedakan tempat wisata yang hanya ramai sesaat dengan tempat wisata yang punya alasan untuk tetap dikunjungi.
Viral bisa mengundang orang datang pertama kali.
Tapi ciri khas membuat orang punya alasan untuk tetap datang.
2. Sadar Peak Season
Hal kedua yang penting adalah sadar momentum.
Bisnis wisata punya ritme yang tidak selalu rata. Ada hari biasa, ada weekend, ada liburan sekolah, ada akhir tahun, ada long weekend, dan ada momen-momen ketika jumlah pengunjung bisa naik berkali-kali lipat.
Kalau punya tempat hiburan, kita harus sadar kapan peak season terjadi.
Jangan sampai wahananya banyak, pengunjungnya banyak, tapi petugas yang diturunkan tidak cukup. Akhirnya antrean panjang, layanan lambat, wahana tidak siap, dan pengunjung merasa dirugikan.
Dalam bisnis wisata, pengalaman pengunjung itu sangat dipengaruhi oleh kesiapan operasional.
Bukan hanya tempatnya ada.
Bukan hanya wahananya tersedia.
Bukan hanya tiketnya terjual.
Tapi apakah ketika orang datang, mereka benar-benar bisa menikmati semua fasilitas dengan baik?
Peak season harus diantisipasi dengan menurunkan lebih banyak personel, memastikan wahana siap, memperjelas alur antrean, dan menjaga agar pengunjung tidak merasa “zong”.
Karena orang datang ke tempat wisata untuk mencari pengalaman.
Kalau pengalaman itu buruk, yang mereka ingat bukan cuma wahananya, tapi juga rasa kecewanya.
Dan di era sekarang, rasa kecewa pun bisa jadi konten.
3. Jangan Melayani Setengah Hati
Hal ketiga, kalau sebuah tempat wisata sudah tidak lagi berada di puncak popularitas, bukan berarti layanannya boleh ikut turun setengah-setengah.
Ini yang menurut saya penting.
Kadang karena merasa sepi, tempat wisata mulai menurunkan banyak hal. Wahana tidak semua dibuka. Petugas tidak selalu ada. Fasilitas tidak dijaga. Layanan dibuat seadanya.
Mungkin alasannya efisiensi.
Tapi kalau dilakukan tanpa perhitungan, ini justru bisa mempercepat penurunan.
Karena pengunjung yang datang akan melihat tempat itu sebagai tempat yang tidak siap. Lalu mereka pulang dengan pengalaman yang kurang baik. Setelah itu, yang tersebar bukan potensi baiknya, tapi kekurangannya.
Padahal bisa jadi tempat itu masih punya banyak hal bagus.
Masih punya wahana menarik. Masih punya cerita. Masih punya ruang nostalgia. Masih punya kemungkinan untuk ramai lagi.
Tapi kalau yang terlihat hanya bagian buruknya, orang akan mengenal tempat itu dari sisi yang salah.
Bertahan memang perlu efisiensi.
Tapi efisiensi bukan berarti mengurangi layanan sampai pengalaman pengunjung rusak.
Kalau memang tidak bisa membuka semuanya, pilih yang paling penting dan pastikan itu berjalan baik. Kalau personel terbatas, atur agar titik-titik krusial tetap terjaga. Kalau wahana tidak semua aktif, komunikasikan dengan jelas.
Yang penting, jangan bertahan dengan setengah hati.
Karena tempat yang bertahan setengah hati biasanya membuat pengunjung juga datang tanpa ingin kembali.
Tetap Layak Dikunjungi
Bisnis wisata yang tidak lagi viral punya tantangannya sendiri.
Ia tidak selalu muncul di timeline. Tidak selalu dibicarakan. Tidak selalu dianggap keren oleh orang-orang yang mengejar tempat baru.
Tapi bukan berarti tidak punya peluang.
Selama masih punya ciri khas, sadar momentum, dan menjaga pengalaman pengunjung dengan baik, tempat wisata lama tetap bisa punya alasan untuk dikunjungi.
Bahkan bisa jadi, suatu hari ada sekelompok pengunjung yang datang, membuat konten, membagikan pengalaman baik, lalu tempat itu naik lagi.
Tapi kemungkinan itu hanya bisa terjadi kalau pengalaman dasarnya tetap dijaga.
Kalau yang dibiarkan hanya layanan buruk, wahana mati, fasilitas tidak siap, dan petugas tidak ada, maka yang akan tersebar juga hal-hal buruknya.
Padahal mungkin di dalamnya masih ada banyak kebagusan yang tidak terlihat.
Itulah catatan saya hari ini untuk bisnis wahana hiburan yang memilih bertahan meskipun tidak lagi viral.
Bertahan itu sudah baik.
Tapi jangan bertahan setengah hati.
Karena dalam bisnis wisata, orang tidak hanya membeli tiket.
Mereka membeli pengalaman.
Leave a Reply