Hari kedua outing.
Hari yang sama chaos-nya dengan hari pertama, terutama karena jarak yang ditempuh cukup panjang. Tapi di tengah perjalanan yang padat itu, ada satu momen yang ingin saya highlight: makan siang.
Sebenarnya hari ini banyak hal menyenangkan.
Kami main paintball, naik jeep mengitari gunung, dan malamnya barbeque bersama. Hari yang secara keseluruhan seru dan penuh pengalaman.
Tapi justru di momen makan siang, saya merasa ada pelajaran penting tentang keputusan, kesalahan, dan peran pemimpin.
Saya teringat buku Simon Sinek, Leaders Eat Last. Bukunya saya punya, walaupun jujur belum selesai saya baca. Tapi gambaran besarnya cukup kuat: pemimpin harus makan terakhir.
Bukan sekadar secara harfiah, tapi sebagai prinsip. Tim harus diutamakan. Orang lain harus dipastikan aman dan nyaman dulu. Tugas pemimpin adalah melayani.
Dan hari ini, prinsip itu terasa sangat nyata.
1. Rombongan Lebih Cocok Prasmanan
Hal pertama yang saya pelajari: kalau makan berombongan, prasmanan sering kali lebih efektif dan efisien.
Mungkin orang tetap harus antre. Tapi antreannya jelas. Semua makanan sudah tersedia. Semua orang melakukan proses yang sama. Semua bisa mengambil makanan sesuai urutan dan kebutuhan.
Dalam rombongan besar, kecepatan dan kepastian itu penting.
Karena makan bukan sekadar soal selera. Makan juga bagian dari alur perjalanan. Kalau jam makan molor, agenda berikutnya ikut terdampak. Kalau makanan keluar tidak serentak, sebagian orang sudah selesai sementara sebagian lain masih menunggu.
Prasmanan mungkin terasa lebih sederhana.
Tapi untuk rombongan besar yang waktunya terbatas, sederhana sering kali justru pilihan yang paling bijak.
2. Pilihan Menu Bisa Jadi Masalah
Kesalahan saya adalah memilih agar setiap orang bisa mengambil menu sendiri-sendiri.
Awalnya niatnya baik.
Saya melihat restoran punya banyak pilihan menu. Rasanya sayang kalau semua orang harus makan menu prasmanan yang sama. Saya berpikir, kalau masing-masing bisa memilih, mereka akan lebih senang karena bisa makan sesuai selera.
Apalagi booking sudah dilakukan jauh-jauh hari. Menu juga sudah dipesan sebelumnya. Saya membayangkan, begitu kami datang, makanan akan langsung siap dan semua bisa makan tepat waktu.
Tapi kenyataan di lapangan berbeda.
Menu yang dipilih sendiri-sendiri membuat proses delivery makanan jadi lebih lama. Dari alokasi waktu makan satu jam, bahkan 10 menit terakhir masih ada yang belum mendapatkan makanan.
Mungkin karena keterbatasan dapur. Mungkin karena variasi menu terlalu banyak. Mungkin karena sulit mengeluarkan banyak pesanan berbeda dalam waktu bersamaan.
Apa pun alasannya, dampaknya tetap terasa.
Sebagian orang menunggu terlalu lama. Agenda jadi tertekan. Dan saya sadar, keputusan yang kelihatannya memberi kebebasan ternyata justru menambah kompleksitas.
Kadang dalam rombongan besar, pilihan yang terlalu banyak bukan membuat lebih nyaman.
Justru membuat sistemnya lebih lambat.
3. Pemimpin Harus Ikut Recovery
Momen berikutnya adalah recovery.
Ketika saya sadar ada yang belum makan, saya mencoba membantu pelayan mencari siapa yang belum mendapatkan makanan.
Saya ikut memanggil, “Ini menu siapa?”
Saya cek siapa yang mungkin lupa pesanannya.
Saya cari siapa yang belum dapat.
Saya bahkan sampai ke dapur untuk memastikan menu yang belum keluar bisa segera diproses.
Sampai menit-menit terakhir, saya masih memastikan makanan semua orang ter-deliver.
Baru setelah semua orang mendapatkan makanan, saya makan.
Bagi saya, ini bukan soal heroik. Ini soal tanggung jawab.
Kalau keputusan awal saya kurang tepat, maka saya juga harus ikut membereskan dampaknya. Jangan sampai saya enak-enakan makan sementara orang lain masih belum nyaman, belum makan, dan belum bisa menikmati waktunya.
Saya percaya, tugas pemimpin adalah makan terakhir.
Bukan karena pemimpin harus selalu menderita. Tapi karena pemimpin harus memastikan orang-orang yang ia pimpin lebih dulu terlayani.
Apalagi kalau ketidaknyamanan itu muncul dari keputusan yang kita ambil sendiri.
Memimpin Itu Memperbaiki
Hari kedua outing ini mengingatkan saya bahwa kepemimpinan tidak hanya diuji di ruang meeting.
Kadang diuji di meja makan.
Kadang diuji saat menu terlambat keluar.
Kadang diuji saat rundown mulai molor.
Kadang diuji saat orang-orang sudah capek dan kita harus mengambil peran lebih dulu.
Saya belajar bahwa niat baik saja tidak cukup.
Memberi banyak pilihan terdengar menyenangkan. Tapi dalam konteks rombongan besar, yang lebih penting mungkin adalah kecepatan, kepastian, dan kenyamanan bersama.
Kalau keputusan kita ternyata kurang tepat, hal terbaik yang bisa dilakukan bukan mencari alasan. Tapi ikut turun tangan memperbaiki.
Hari ini saya merasa makan terakhir bukan sekadar simbol.
Makan terakhir adalah cara mengingatkan diri sendiri bahwa menjadi pemimpin berarti memastikan orang lain tidak ditinggalkan dalam ketidaknyamanan.
Karena pemimpin bukan orang yang paling dulu menikmati.
Pemimpin adalah orang yang memastikan semua orang bisa menikmati.
Leave a Reply