Hari ini jadi hari pertama culture belajar dijalankan lagi lebih serius di perusahaan saya.
Sebenarnya ini bukan hal baru. Dari dulu saya memang percaya bahwa orang-orang di perusahaan ini harus terus belajar. Tantangannya berubah, zamannya berubah, masalahnya juga berubah. Kalau kita tidak relevan dan tidak beradaptasi, ya kita akan kalah oleh waktu.
Saya ingat satu momen lama yang cukup membentuk prinsip ini.
Waktu itu saya pernah ngobrol dengan mentor saya. Ada pertanyaan yang sangat klasik: bagaimana kalau karyawan yang sudah kita latih, kita sekolahkan, kita ajari, lalu akhirnya resign? Apakah semua effort itu tidak jadi sia-sia?
Waktu itu saya juga merasa iya ya, sayang juga kalau sudah keluar biaya, waktu, dan tenaga untuk mengembangkan orang, tapi akhirnya dia pergi.
Lalu mentor saya membalik pertanyaannya.
Bagaimana kalau dia tetap tinggal, tapi tidak pernah berkembang?
Menurut saya, itu justru lebih menakutkan.
Karena artinya perusahaan diisi oleh orang-orang yang pengetahuannya itu-itu saja, cara berpikirnya segitu-segitu saja, dan kapasitasnya tidak naik padahal tantangan di luar terus bergerak. Dari situ saya makin yakin bahwa mengeluarkan effort untuk membuat karyawan lebih pintar tetap lebih masuk akal, meskipun ada risikonya.
1. Mengembangkan orang memang butuh effort
Belajar itu tidak gratis. Kadang butuh uang, butuh waktu, butuh tenaga, dan butuh kesabaran. Apalagi untuk perusahaan yang tidak selalu bisa merekrut orang dengan expertise tinggi sejak awal karena keterbatasan budget.
Kalau yang direkrut masih pemula, ya memang tugas perusahaan adalah membantu dia bertumbuh. Tidak ada cara instan. Pilihannya biasanya cuma dua: ambil orang yang sudah jadi, atau ambil yang belum jadi lalu siap menggemblengnya.
2. Setiap keputusan selalu datang dengan risiko
Tidak ada keputusan yang steril dari risiko. Kita bisa pilih untuk tidak banyak mengajari orang, lalu dia tetap tinggal, tapi tidak berkembang. Kita juga bisa pilih untuk mengajarinya, lalu dia berkembang, tapi suatu hari pergi.
Dua-duanya ada konsekuensinya.
Masalahnya, sering kali kita terlalu takut pada risiko yang kelihatan sekarang, lalu lupa membandingkannya dengan risiko jangka panjang. Padahal keputusan hari ini selalu ikut menentukan kualitas hari-hari berikutnya.
3. Tidak ada ruang untuk orang yang tidak mau belajar
Orang tidak harus belajar dengan cara yang sama. Tidak semua orang harus rajin baca buku. Tidak semua orang harus cocok ikut workshop panjang. Cara belajar tiap orang bisa beda-beda.
Tapi kalau seseorang tidak mau belajar sama sekali, bahkan dari pengalaman, dari masalah, dari rutinitas yang dia jalani setiap hari, itu akan sulit.
Karena di perusahaan yang hidup di tengah perubahan, orang yang tidak mau belajar biasanya akan cepat tertinggal. Bukan karena dia tidak cerdas, tapi karena dia menolak bertumbuh.
Buat saya, yang lebih penting dari metode belajar adalah kemauan belajar. Karena dari situlah DNA belajar bisa mulai ditanam.
Saya berharap kami bisa jadi perusahaan yang terus meng-upgrade orang-orang di dalamnya. Dan saya juga berharap orang-orang di dalamnya tetap peka pada hal-hal yang lewat di depan mereka, lalu mau menguliknya, mempelajarinya, dan menjadikannya bekal untuk tumbuh.
Karena pada akhirnya, belajar itu bukan cuma bagus untuk karier pribadi. Belajar juga bagus untuk umur panjang sebuah perusahaan.
Leave a Reply