Hari Minggu seperti biasa saya isi dengan target tahunan yang sedang saya jaga: 52 buku dalam satu tahun, atau satu minggu satu buku. Minggu ini saya ada di buku ke-13.
Karena habis liburan, saya memilih buku Laziness is a Habit karya Choi Myung-gi, atau dalam terjemahan Indonesianya dikenal sebagai Buku Anti-Malas dan Suka Menunda. Buku ini sebenarnya sudah lama ada di daftar bacaan saya, sempat mulai dibaca, tapi tidak pernah selesai. Justru dengan ritme satu minggu satu buku ini, ada dorongan untuk benar-benar menuntaskannya.
Saya tertarik mengangkat buku ini karena temanya terasa dekat. Kadang saya juga masih sering menunda, terdistraksi, dan membiarkan beberapa hal terlewat begitu saja. Jadi saya ingin mengulik lagi: sebenarnya rasa malas itu datang dari mana?
Buku ini menarik karena rasanya seperti sedang konsultasi dengan psikiater. Penulisnya memang seorang psikiater, jadi pembahasannya penuh cerita dan contoh kasus. Kadang saat membaca, saya sempat merasa, “ini kenapa jadi bahas ini?” Tapi ternyata justru dari situ saya paham bahwa kemalasan memang tidak sesederhana yang sering kita kira.
Ada banyak sumbernya. Tidak cuma soal motivasi yang kurang atau kurang digertak. Ada sisi bawaan, ada sisi emosional, ada sisi psikologis, dan semuanya dibahas cukup detail, termasuk cara menanganinya.
Dari buku ini, ada tiga hal yang paling membekas buat saya.
1. Penyebab malas ternyata banyak
Selama ini kita sering menyederhanakan rasa malas. Seolah-olah orang malas itu cuma karena tidak niat, kurang disiplin, atau kurang motivasi.
Padahal dari buku ini saya diingatkan bahwa penyebabnya bisa sangat banyak. Bisa karena cemas, tidak punya rasa aman, terlalu sensitif, merasa kesepian, tidak puas, kurang motivasi, terlalu sering gagal, sampai tidak bisa mengendalikan diri.
Artinya, malas itu sering kali bukan satu masalah tunggal. Ia bisa jadi gejala dari banyak hal yang lebih dalam. Jadi kalau kita hanya memarahi diri sendiri tanpa memahami akar masalahnya, ya wajar kalau perubahannya tidak terlalu jalan.
2. Hambatan juga harus ditangani
Hal kedua yang menarik buat saya adalah bahwa niat saja ternyata tidak cukup.
Kita bisa saja punya motivasi yang tinggi, punya keinginan besar, bahkan punya target yang jelas. Tapi kalau hambatan-hambatan yang membuat kita mentok tidak dikenali, hasilnya ya tetap saja tersendat.
Hambatan itu bisa datang dari pekerjaan yang membosankan, lingkungan yang tidak mendukung, orang-orang yang melelahkan, kebiasaan menyalahkan orang lain, ketidakmampuan mengambil keputusan, sampai keras kepala pada pola yang tidak efektif.
Kadang kita merasa diri kita kurang semangat. Padahal bisa jadi semangatnya ada, cuma jalannya penuh hambatan yang belum dibereskan. Jadi bukan cuma niat yang perlu diperkuat, tapi juga penghalangnya yang perlu dibongkar.
3. Perubahan butuh langkah kecil
Bagian ketiga yang saya suka dari buku ini adalah tips-tips praktisnya untuk jadi lebih rajin dan lebih bekerja keras.
Ada hal-hal sederhana seperti tidak membiasakan telat, fokus pada hal yang bisa kita kontrol, mengurangi media sosial, menghilangkan hal-hal yang tidak efisien, dan menyelesaikan yang bisa diselesaikan sedikit demi sedikit.
Salah satu contoh yang paling menarik buat saya adalah soal orang yang sedang diet. Langkah awalnya bukan langsung makan sempurna, tapi membuat diary makanan. Dengan mencatat apa yang dimakan, orang jadi bisa melihat pola yang selama ini tidak terlihat.
Menurut saya ini relevan sekali untuk urusan malas dan menunda. Kalau kita mau tahu apa yang sebenarnya menghabiskan waktu kita, ya kita harus tracking dulu. Dari sana baru bisa terlihat lubangnya di mana, lalu diperbaiki pelan-pelan.
Yang perlu diubah bukan cuma niat
Setelah selesai membaca buku ini, saya merasa satu hal: malas itu tidak cukup dilawan dengan semangat sesaat.
Kalau kita tahu sumber malasnya apa, tahu hambatan yang mengganggu apa, dan tahu cara menanganinya bagaimana, di situ kita punya peluang untuk berubah. Tapi kalau kita tidak tahu apa yang salah dan tidak tahu apa yang harus diperbaiki, ya perubahan akan terasa kabur.
Setidaknya, menyelesaikan buku ini jadi semacam pengingat untuk diri saya sendiri. Bahwa kalau saya punya mimpi besar, saya tidak bisa cuma marah pada rasa malas. Saya juga perlu cukup jujur untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri saya.
Karena kadang yang kita butuhkan bukan gertakan, tapi diagnosis yang tepat.
Leave a Reply