Hari 90: Kenapa Saya Mau Terima Fresh Graduate

Hari ke-90. Alhamdulillah, tiga bulan berturut-turut konten jalan—walau beberapa kali harus dirapel karena liburan dan ritme yang sempat pecah. Sekarang sudah mulai kerja lagi, polanya mulai terbentuk, dan saya bisa kembali mengagendakan waktu untuk menulis.

Hari ini saya ingin mengangkat satu cerita dari sesi diskusi: saya ditanya, kenapa saya mau menerima anak fresh graduate? Yang bertanya bercerita bahwa interview kerja sebagai fresh graduate sering terasa berat—karena banyak perusahaan mensyaratkan pengalaman.

Kalau dari POV pembaca: sebenarnya apa sih advantage fresh graduate?

Ini tiga alasan yang saya sampaikan di sesi tadi—dengan catatan: ini relevan untuk konteks posisi tertentu, bukan semua jenis pekerjaan.

1) Budget lebih terjangkau (dan itu realita bisnis)

Secara logika, fresh graduate biasanya lebih affordable. Orang yang sudah punya pengalaman panjang wajar menuntut benefit dan gaji lebih tinggi.

Di perusahaan yang sedang menjaga efisiensi atau sedang bertumbuh, ini pertimbangan nyata. Fresh graduate memberi opsi untuk:

  • mulai dari biaya yang lebih rendah,
  • lalu naik seiring performa dan kontribusi.

Saya tidak sedang menganjurkan “banting harga” secara tidak sehat. Tapi dari sudut pandang perusahaan, harga yang terjangkau adalah keunggulan. Dan jujur, kalau masih fresh graduate tapi minta terlalu tinggi tanpa bukti kompetensi, itu jadi sinyal yang kurang baik: ekspektasinya tidak seimbang dengan track record.

2) Banyak role itu masih bisa dipelajari (dan fresh graduate punya modal belajar)

Tidak semua pekerjaan menuntut pengalaman panjang. Ada pekerjaan yang:

  • masih bisa dipelajari,
  • belum “final” prosesnya,
  • dan lebih butuh kemauan belajar serta adaptasi.

Di era sekarang, sumber belajar terbuka lebar. Orang yang punya semangat belajar kuat, bisa mengejar dengan cepat—terutama untuk role yang tidak mengharuskan spesialisasi bertahun-tahun atau networking yang berat.

Kadang saya lebih memilih fresh graduate yang:

  • cepat belajar,
  • bisa memanfaatkan tools dan sumber belajar,
  • dan adaptif terhadap perubahan,

daripada orang berpengalaman yang mahal, tapi sulit mengikuti ritme dan cara kerja zaman sekarang.

Sekali lagi: ini bukan untuk semua role. Kalau role-nya memang butuh jam terbang, relasi, atau spesialisasi tinggi, tentu pendekatannya beda.

3) Fresh graduate lebih mudah dibentuk dalam culture yang sedang dibangun

Perusahaan saya sangat menjunjung budaya. Dan di banyak kasus, fresh graduate masih “hijau” dalam arti belum membawa terlalu banyak pola kerja lama yang kaku.

Orang yang sudah lama bekerja sering membawa standar dari tempat sebelumnya. Itu bisa jadi baik, bisa juga jadi masalah:

  • kalau pengalaman sebelumnya buruk, ia bisa menganggap semua tempat akan buruk,
  • kalau pengalaman sebelumnya sangat nyaman, ia bisa menuntut standar yang sama tanpa memahami konteks tempat baru,
  • atau lebih parah: membanding-bandingkan terus, dan tanpa sadar menggerogoti culture yang sedang dibangun.

Fresh graduate cenderung lebih mudah diajak membangun kebiasaan baru dari nol. Dan untuk organisasi yang sedang membangun kultur, ini nilai besar.

Penutup

Buat saya, fresh graduate bukan “kurang”. Mereka punya keunggulan spesifik: lebih terjangkau, lebih adaptif untuk role yang bisa dipelajari, dan lebih mudah dibentuk culture-nya.

Kalau Anda fresh graduate dan merasa “kalah” karena minim pengalaman, mungkin strategi yang lebih tepat bukan memaksa masuk ke tempat yang menilai Anda dengan standar yang tidak cocok. Cari perusahaan yang memang punya value dan sistem yang siap membentuk orang baru.

Dan kalau Anda perusahaan, mungkin pertanyaannya juga berubah: bukan “fresh graduate bisa apa?”, tapi “role mana yang bisa saya desain agar fresh graduate bisa tumbuh cepat dan jadi aset?”


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *