Hari 88: Keep Going, Terus Berkarya Saat Hari Bagus atau Buruk

Hari ini Minggu. Seperti biasa saya masih dalam misi satu minggu, satu buku. Ini buku ke-12 dari target 52 buku tahun ini, sekaligus penutup trilogi Austin Kleon yang saya baca tiga minggu berturut-turut: Steal Like an Artist, Show Your Work, dan yang terakhir Keep Going.

Seperti buku Austin Kleon lainnya, Keep Going juga menyenangkan: sekitar dua ratusan halaman, penuh ilustrasi, penuh kutipan, ringan dibaca, tapi sering “nyantol” di kepala. Tema besarnya sederhana: bagaimana terus berkarya saat hari bagus maupun hari buruk.

Ada tiga hal yang paling saya bawa pulang.

1) Karya itu siklus yang akan terus berulang—maka butuh rutinitas

Saya suka pengingat ini: kita akan membuat sesuatu, lalu selesai, lalu besok membuat sesuatu lagi. Dan itu akan berulang terus. Kalau kita menunggu mood yang ideal, siklusnya akan putus-putus.

Karena itu rutinitas jadi penting. Bukan rutinitas yang kaku dan menyiksa, tapi ritme yang membuat kita bisa berkata: “di jam segini saya berkarya, meski sedikit.” Ada daftar sederhana, ada langkah kecil, ada yang diselesaikan—lalu besok ulang lagi.

Konsistensi bukan lahir dari inspirasi besar, tapi dari kebiasaan kecil yang tidak putus.

2) Punya waktu dan tempat untuk berkarya (dalam arti menyediakan diri)

Buku ini juga mengingatkan: kita butuh ruang untuk berkarya. Tidak selalu harus ruangan fisik yang khusus. Kadang “ruang” itu berarti keputusan: saya menyediakan waktu, saya menjaga fokus, saya memilih hadir.

Kalau kita menunggu waktu luang yang sempurna, hampir tidak pernah datang. Tapi kalau kita menciptakan slot—satu jam, dua jam, atau bahkan 30 menit—dan dilakukan rutin, jumlah karya akan terkumpul banyak juga.

Saya melihat ini seperti tabungan: kecil per hari, besar dalam setahun.

3) Jangan terlalu fokus jadi “artis”, fokuslah melakukan “seninya”

Ini bagian yang paling saya suka: daripada mengejar status, titel, atau label, lebih baik fokus pada praktiknya.

Daripada fokus “ingin jadi penulis”, lebih baik fokus “menulis”.
Daripada fokus “ingin jadi penyanyi”, lebih baik fokus “bernyanyi”.
Karena kalau kita hanya mengejar titel, sering kali setelah sampai kita malah kehilangan semangat. Tapi kalau kita mencintai praktiknya, kita akan tetap melakukan—dan justru dari situ labelnya datang sebagai efek samping.

Buat saya, ini pengingat untuk blog harian ini juga: saya menulis bukan untuk terlihat seperti penulis, tapi untuk terus menulis. Seperti Austin Kleon menulis buku ini untuk dirinya sendiri, saya pun menulis ini untuk diri saya sendiri—supaya saya tetap berjalan.

Penutup

Saya merasa Keep Going itu buku yang enak dibaca ulang saat sedang suntuk, kehilangan semangat, atau butuh dorongan kecil untuk kembali berkarya. Ringan, tapi menguatkan.

Tiga minggu, tiga buku, dan semuanya terasa seperti “vitamin” untuk orang yang ingin tetap membuat sesuatu. Terima kasih, Austin Kleon—dan semoga saya bisa keep going juga.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *