Hari ini hari Lebaran ketiga. Tidak ada tempat khusus yang dikunjungi, jadi saya lebih banyak stay di rumah, lalu sempat main ke rumah orang tua. Dari obrolan santai itu, topik kami mengarah ke satu hal yang terasa sederhana tapi sebenarnya besar: pentingnya sekolah dan pendidikan.
Saya pribadi tidak melihat pendidikan hanya sebagai akademis. Buat saya, pendidikan adalah proses agar kita bisa memahami sesuatu, punya kompetensi, dan punya kepakaran di bidang tertentu—baik lewat jalur formal maupun jalur pengalaman.
Dari pembahasan hari ini, saya mencatat tiga hal yang menurut saya menarik.
1) Minder sering muncul ketika pendidikan dianggap satu-satunya ukuran
Orang yang tidak punya pendidikan formal seringkali merasa minder saat bertemu orang yang punya jabatan, gelar, atau posisi sosial yang terlihat “lebih tinggi”. Padahal, gelar hanya salah satu bentuk bukti—bukan satu-satunya ukuran nilai seseorang.
Yang bisa meminimalisir rasa minder itu adalah kepakaran yang konkret: kemampuan yang bisa ditunjukkan, pengalaman yang bisa dibuktikan, dan hasil kerja yang terlihat.
Pengalaman lapangan yang panjang sering punya bobot sendiri. Bahkan, orang yang baru lulus pun tidak otomatis lebih unggul dari orang yang sudah 10 tahun mengerjakan hal yang sama. Maka saya berharap semakin banyak orang sadar: ijazah itu penting, tapi bukan satu-satunya “tiket percaya diri”. Kepakaran yang nyata juga bisa menjadi tiket yang sama kuatnya.
2) Pendidikan formal menguatkan cara berpikir, bukan hanya skill teknis
Hal yang paling terasa dari sekolah sampai kuliah adalah pembentukan cara berpikir. Skill teknis bisa saja belum matang karena jam terbang belum panjang, tapi sekolah mengajarkan kerangka:
- bagaimana menyusun masalah,
- bagaimana mencari referensi,
- bagaimana membuat metode,
- bagaimana menarik kesimpulan.
Contohnya terlihat jelas di tugas akhir atau skripsi: ada latar belakang, tinjauan pustaka, metodologi, hasil, pembahasan. Itu melatih pola pikir runtut—dan pola pikir ini penting untuk hampir semua bidang, karena membuat kita bisa belajar apa pun dengan lebih terarah.
Di era sekarang, ilmu praktis bisa dicari dari banyak media. Tetapi fondasi berpikir sering lebih sulit dibentuk kalau tidak pernah dilatih. Maka bagi saya, nilai terbesar pendidikan formal adalah membantu orang punya “framework” untuk belajar dan memecahkan masalah.
3) Bertemu yang lebih besar seharusnya memotivasi, bukan membuat pasrah
Obrolan ini juga mengarah ke sikap mental: ketika kita bertemu orang yang lebih mampu, lebih punya, atau lebih berpengalaman—ada dua respon.
Respon yang melemahkan: menyalahkan takdir, keadaan, atau latar belakang, lalu berhenti berusaha.
Respon yang membangun: menjadikannya motivasi untuk bertumbuh—belajar, kerja keras, memperbaiki diri, sedikit demi sedikit.
Tidak harus jadi sama persis, dan tidak harus di titik yang sama. Tetapi saya percaya, bertemu standar yang lebih tinggi seharusnya membuat kita naik kelas, bukan makin kecil hati.
Penutup
Hari Lebaran ketiga ini jadi pengingat buat saya: pendidikan itu bukan hanya soal sekolah formal, tapi soal membentuk kompetensi, cara berpikir, dan sikap bertumbuh.
Semoga kita semua—apapun latar pendidikannya—tetap bisa belajar, membangun kepakaran, dan menjaga semangat untuk jadi lebih baik.
Leave a Reply