Hari 75: Membumikan Culture Manusiawi

Hari ini saya mencoba membumikan value/culture manusiawi di kantor. Saya minta semua orang menceritakan pengalaman manusiawi mereka. Awalnya saya kira orang akan bercerita tentang kejadian-kejadian spesifik sehari-hari, tapi yang muncul justru banyak testimoni positif—terutama tentang momen awal perkenalan dengan perusahaan ini dan perjalanan setelahnya.

Dari cerita-cerita itu, saya menarik tiga hal yang penting untuk saya simpan.

1) Kesan baik itu hasil dari kebiasaan, bukan hasil dari slogan

Kesan orang tentang “manusiawi” ternyata bukan muncul karena kita pintar menjelaskan value. Kesan itu muncul karena ada rentetan tindakan kecil yang konsisten, dari hari ke hari.

Ini mengingatkan saya: culture tidak bisa dibangun dengan meminta orang “menceritakan yang baik-baik” kalau dalam keseharian perilaku kita tidak benar-benar baik. Yang perlu dilakukan sebenarnya sederhana tapi berat: berbuat baik terus-menerus semampu-mampunya.

Karena pada akhirnya, yang diingat orang bukan poster value di dinding, tapi pengalaman yang mereka rasakan.

2) Interaksi kecil sering terasa sepele bagi kita, tapi bermakna bagi orang lain

Hal yang paling mengejutkan adalah banyak orang mengingat interaksi kecil yang saya sendiri mungkin tidak anggap istimewa. Sesuatu yang bagi kita terasa “biasa”—ternyata buat mereka memorable.

Saya belajar: kita sering menilai dari perspektif kita sendiri: hari ini ketemu banyak orang, banyak urusan, banyak permintaan tolong. Tetapi bagi seseorang, interaksi pertama atau bantuan kecil bisa jadi momen yang menancap.

Maka saya tidak ingin menganggap sepele interaksi kecil. Karena sering kali, yang paling membekas bukan momen besar, tapi momen sederhana yang dilakukan dengan niat tulus.

3) Kenangan baik menjadi alasan untuk terus memperbaiki diri

Perusahaan sudah berjalan sekitar sembilan tahun. Tentu ada naik-turun, ada masa berat, ada perubahan besar dari dulu sampai sekarang. Tapi mendengar memori-memori yang dibagikan hari ini membuat saya merasa: ada hal yang layak dipertahankan dan diperkuat.

Cerita-cerita itu bukan sekadar nostalgia. Buat saya, itu jadi bahan bakar: alasan untuk membuat sesuatu yang lebih baik lagi. Dan saya jadi sadar bahwa prinsip manusiawi itu bukan panggung dan bukan pencitraan—kalau orang masih bisa merasakannya bertahun-tahun kemudian, berarti ada otentisitas yang terus hidup.

Saya juga belajar satu kalimat: kondisi bisa berubah, tetapi karakter seharusnya tetap. Prinsip yang kuat lebih penting daripada sekadar kemampuan adaptasi.

Penutup

Hari ini saya pulang dengan rasa syukur dan rasa tanggung jawab. Bersyukur karena cerita-cerita itu ada. Bertanggung jawab karena culture manusiawi bukan sesuatu yang “selesai” hanya karena pernah kita lakukan.

Ia harus dibuktikan lagi besok, dan besok lagi—lewat kebiasaan, lewat interaksi kecil, dan lewat cara kita bertahan pada prinsip, bahkan ketika keadaan tidak mudah.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *