Hari 65: Tiga Cara Merusak Keputusan

Diskusi itu memang begitu. Satu pihak punya kepentingan dan alasan, pihak lain punya counter-argument. Di situlah peran keputusan menjadi penting: menyatukan perbedaan menjadi satu hal yang bisa ditindaklanjuti.

Namun kenyataannya, keputusan tidak selalu bisa memuaskan semua pihak. Ada momen ketika satu argumen “menang”, dan argumen lain harus berhenti di situ. Tidak ideal, tapi sering tak terhindarkan kalau kita ingin bergerak.

Yang perlu dijaga bukan hanya kualitas keputusan, tapi juga sikap setelah keputusan dibuat. Hari ini saya mencatat tiga hal yang tidak boleh dilakukan terhadap sebuah keputusan.

1) Mangkir dari keputusan

Ini yang paling sederhana dan paling sering terjadi: keputusan sudah dibuat, alasan sudah dibahas, arah sudah jelas—tapi keputusan tidak dijalankan.

Biasanya penyebabnya bukan karena lupa, melainkan karena tidak puas: kepentingannya tidak terakomodasi, lalu diam-diam memilih untuk tidak melaksanakan. Ini merusak kepercayaan dan membuat proses rapat jadi formalitas, karena orang akan merasa: “buat apa diskusi kalau ujungnya tidak dijalankan?”

Keputusan tidak harus disukai semua orang, tapi harus dihormati dalam pelaksanaan.

2) Membawa keputusan ke forum lain tanpa orang yang sama

Hal berikutnya: keputusan sudah diputuskan di forum yang tepat, dengan pihak-pihak yang terlibat. Tapi setelah itu, keputusan dibawa ke forum lain—dicarikan argumen tandingan—tanpa melibatkan orang yang membuat keputusan awal.

Akibatnya:

  • konteks keputusan hilang,
  • perdebatan melebar,
  • muncul versi-versi cerita yang berbeda,
  • dan konflik jadi makin luas.

Kalau memang ingin mengoreksi keputusan, jalurnya jelas: bawa kembali ke forum dan pihak yang sama. Bukan menggalang pembenaran di tempat lain.

Yang lebih parah: membawa keputusan ke level lebih tinggi untuk “menganulir” dari luar konteks. Kesannya bukan mencari kebenaran, tapi mencari kemenangan.

3) Meng-counter keputusan dengan membuat keputusan baru sendiri

Ini yang paling berat: keputusan awal tidak dijalankan, lalu seseorang membuat “keputusan baru” versi dirinya dan menjalankan hal yang bertentangan.

Kalau seseorang merasa argumennya lebih benar, ada dua jalan yang elegan:

  • perjuangkan lagi melalui forum yang tepat, atau
  • menerima keputusan bersama dengan dewasa.

Yang tidak boleh adalah bertindak seolah keputusan bersama tidak pernah ada. Itu membuat seluruh proses argumentasi dan pengambilan keputusan menjadi sia-sia, serta membuka pintu chaos: setiap orang bisa membuat aturan sendiri.

Keputusan itu bukan pajangan notulen. Ia adalah komitmen kolektif.

Penutup

Saya percaya debat itu sehat, beda pendapat itu wajar. Tapi setelah keputusan dibuat, kedewasaan kita diuji.

Tiga larangan sederhana yang saya catat hari ini:
jangan mangkir, jangan muter forum, dan jangan bikin keputusan tandingan.
Kalau keputusan ingin diubah, ubahlah dengan cara yang benar—supaya organisasi tetap bergerak tanpa mengorbankan kepercayaan.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *