Hari 62: +62 dan Aturan yang Cuma Jadi Checklist

Selamat Hari ke-62. Angka ini mengingatkan saya pada kode negara: +62. Dan hari ini saya kepikiran tentang satu hal yang rasanya sering kita temui di negara kita: peraturan yang akhirnya lebih sibuk menjadi syarat formil, dibanding menjaga esensi tujuannya.

Terkesit ketika saya melewati prosedur-prosedur yang “wajib dipenuhi”, lengkap, rapi, dan sesuai berkas. Tapi terasa seperti sekadar di atas kertas—bukan lagi soal kenapa hal itu dibuat dan apa dampak baik yang ingin dijaga.

Dari fenomena “aturan sebagai formalitas” ini, saya menarik tiga pembelajaran.

1) Setiap aturan punya cita-cita—dan itu harus jadi haluan

Ketika sebuah aturan dibuat, pasti ada tujuannya:
mengatur apa, melindungi siapa, mencegah apa, dan hasil baik apa yang ingin dicapai.

Tujuan itu seharusnya menjadi pegangan terus-menerus. Masalahnya, waktu berlalu, orang berganti, konteks berubah—tujuan sering dilupakan, tetapi aturannya tetap berdiri tegak. Akhirnya aturan dipatuhi sebagai kewajiban administratif, bukan sebagai alat untuk mencapai kebaikan yang dimaksud.

Kalau tujuan tidak diingat, aturan berubah bentuk: dari haluan menjadi ritual.

2) Kalau tujuan dilupakan, orang hanya fokus ke yang “nampak”

Yang nampak itu checklist: dokumen lengkap, tanda tangan ada, cap ada, format benar, prosedur dijalankan. Karena itulah yang bisa dilihat, diukur, dan diaudit.

Tapi yang sering hilang adalah pertanyaan:
“Kenapa ini harus begini?”
“Maksudnya untuk menjaga apa?”
“Kalau hanya mengikuti textbook, apakah tujuannya tercapai?”

Saat semangat di balik aturan tidak pernah diulang, orang akan mengira: “yang penting beres di kertas.” Padahal esensinya bukan kertas itu sendiri, melainkan nilai yang ingin dijaga lewat kertas.

3) Formalitas menciptakan celah: yang diakali checklistnya, bukan nilainya

Ketika aturan berubah menjadi formalitas, ruang kecurangan jadi lebih mudah muncul. Karena yang dinilai adalah “apa yang tertulis”, maka orang akan fokus pada bagaimana memenuhi yang tertulis—dengan cara paling gampang—bahkan kalau caranya menyimpang dari semangat awalnya.

Checklist akhirnya jadi “target”, bukan “penjaga”.
Akibatnya, orang bisa lulus prosedur tanpa memenuhi nilai. Dan di titik itu, peraturan bukan lagi alat untuk memperbaiki, melainkan sekadar panggung untuk mengakali.

Penutup

Refleksi saya hari ini sederhana: kalau saya membuat atau menegakkan peraturan, saya tidak ingin peraturan itu hidup sebagai daftar centang. Saya ingin spiritnya tetap hidup—tujuannya diulang, maknanya dijaga, dan prosesnya dibuat sesederhana mungkin tanpa merusak nilai.

Karena ketika tujuan dijaga, orang yang berniat baik terbantu. Dan orang yang berniat mengakali jadi kehilangan celah sejak awal.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *