Hari ke-48 ini rasanya pas banget: kelipatan, dan juga mendekati Ramadhan. Karena tahu hari ini atau besoknya sudah mulai puasa, kita “pemanasan” dulu—makan-makan sebelum puasa.
Dan seperti biasa, hal yang kelihatannya receh (makan sepuasnya) ternyata tetap bisa jadi bahan refleksi.
Ada tiga pelajaran kecil yang saya tangkap hari ini.
1) Kita hampir selalu “untung”… tapi jangan keburu percaya diri
Pada umumnya, kalau kita makan sepuasnya, kita selalu merasa “untung”.
Kemampuan kita untuk makan versus harga yang kita bayar biasanya memang lebih besar di pihak kita. Jadi ya terasa menang.
Tapi menariknya: kita sering merasa bisa “gas pol” selama 90 menit, padahal yang benar-benar aktif dan progresif itu biasanya cuma 30 menit pertama.
Sisanya? ya mulai melambat.
Dan itu normal. Kapasitas perut dan level kelaparan kita ternyata nggak sehero itu.
Jadi kalau dikasih waktu 90 menit tapi cuma kuat 30 menit pertama, itu bukan rugi—itu cuma realita biologis 😄
2) “Sepuasnya” itu ada batasnya (bukan karena aturan, tapi karena bosan dan penuh)
Pelajaran kedua: ternyata “pilihan banyak” itu tetap punya batas.
Bukan karena makanan habis. Tapi karena kita sendiri yang habis:
- habis nafsu,
- habis rasa penasaran,
- habis ruang di perut.
Ada titik di mana kita bosan melihat lagi-lagi itu, atau sudah terlalu penuh untuk menambah.
Dan kalau kita pikir, rencana “satu porsi jadi dua atau tiga porsi” itu bagus di kepala… tapi susah di praktik.
Karena tubuh itu bukan spreadsheet. Dia nggak bisa “diakalin” pakai rumus.
3) Mau makan seberapa pun, puasa tetap lapar (jadi jangan lupa esensinya)
Yang ketiga ini yang bikin saya ketawa sendiri:
Mau kita makan seberapa pun sebelum puasa, pas puasa tetap lapar juga.
Dua-tiga jam kemudian juga akan datang lagi rasa itu.
Jadi jangan terlalu menganggap “makan dulu” sebagai solusi besar. Ini cuma fase. Cuma momen.
Yang lebih penting mungkin justru: kita rayakan hari-hari yang kita punya, syukuri apa yang kita lalui, hormati apa yang kita rasakan sebelum masuk ke fase berikutnya.
Karena kenyang itu sementara. Tapi cara kita memaknai momen—itu yang lebih awet.
Penutup
So, itu catatan hari ke-48.
Sepuasnya itu ada batasnya. Kenyang itu sementara. Dan mau seberapa pun kita pemanasan, Ramadhan tetap datang juga 😄
Sampai jumpa besok.
Leave a Reply