Hari ke-32. Masih nyoba konsisten, tapi kali ini ada pola baru: setiap minggu baca satu buku dan sekaligus bikin kontennya.
Edisi minggu ini: Measure What Matters. Buku tentang OKR.
Lucunya, bukunya baru nyampe hari Kamis (beli online), tapi aku kejar selesai dalam 4 hari. Tadi malam aku baru kelar baca sekitar setengah tiga dini hari—habis nonton bola dulu (ya begitulah).
Dan yang bikin buku ini berasa penting bukan cuma karena “ngajarin OKR”, tapi karena aku jadi paham latar belakangnya: kenapa OKR jadi tradisi di banyak startup, kenapa dia beda dibanding pengukuran kinerja lain, dan kenapa sering banget disalahpahami kalau orang belajar cuma dari template dan ringkasan internet.
Tiga salah paham yang paling sering aku lihat:
1) OKR tidak untuk “bonus dan kompensasi”
Kesalahan paling klasik: OKR dianggap target yang kalau tercapai harus otomatis nyambung ke bonus.
Padahal spiritnya beda. OKR itu alat untuk alignment dan transparansi: supaya semua orang tahu apa yang penting, dan semua orang bisa ikut ngeroyok hal yang penting itu—bukan alat “menghukum/menghadiahi” orang di akhir tahun. Kalau OKR langsung diikat ke uang, orang jadi cenderung main aman, bukan mikir breakthrough.
2) OKR punya yang “aspirasional”—dan merah itu tidak selalu gagal
Kalau KPI sering identik dengan “harus 100%”, OKR punya ruang untuk target yang memang sengaja dibuat tinggi dan menantang.
Ada OKR yang sifatnya committed (yang memang harus tuntas), tapi ada juga yang aspirasional—yang tujuannya mendorong kreativitas dan keberanian ambil risiko. Dalam konteks ini, “nggak 100%” itu bukan tragedi; justru sering tanda targetnya nggak main aman. Bahkan banyak praktik OKR menganggap capaian sekitar 60–70% pada aspirational goal itu wajar/baik.
3) OKR bukan cuma “Objective & Key Result” — ini praktik perubahan budaya
Ini juga sering banget: OKR dipahami sekadar format dua kolom: Objective dan Key Result. Selesai.
Padahal di bukunya, OKR itu ditemani “saudaranya”: CFR — Conversation, Feedback, Recognition. Jadi bukan cuma “set target”, tapi ada ritual manajemen berkelanjutan yang bikin target itu hidup: ngobrol rutin, feedback yang jalan, dan pengakuan yang sehat.
Yang paling aku suka dari buku ini: dia penuh contoh praktik dari perusahaan seperti Google, dan banyak cerita kenapa prinsipnya seperti itu (bukan sekadar “ini templatenya, pake ya”).
Buatku, mungkin pertanyaannya bukan “kita pakai OKR atau nggak”, tapi nilai yang dibawa OKR itu relevan banget: semua orang tahu apa yang penting, semua orang tahu ukurannya, dan semuanya bergerak ke hal penting itu dengan cara yang transparan.
Semoga minggu depan aku masih konsisten satu buku lagi.
Buku ini jadi buku ke-4 dalam catatan bacaku—dan jelas masuk kategori “wajib dibaca kalau mau ngomong OKR dengan bener.”
Sampai jumpa besok.
—Ben
Leave a Reply