Hari ini saya belajar satu hal tentang komunikasi antara atasan dan bawahan.
Ternyata ucapan yang menurut kita biasa saja bisa dimaknai sangat berbeda oleh orang lain.
Mungkin ini memang masalah komunikasi.
Tapi di sisi lain, menurut saya ada juga faktor mentality.
Ketika seseorang berbicara dengan orang yang punya kedudukan atau power lebih tinggi, bisa muncul rasa insecure.
Akhirnya kalimat yang sebenarnya sederhana dibaca dengan konteks yang jauh lebih besar.
Pertanyaan dianggap perintah.
Keingintahuan dianggap sedang mencari kesalahan.
Kalimat biasa dianggap kode bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Padahal belum tentu.
Dari situ saya menangkap tiga hal.
1. Komunikasi normal butuh klarifikasi
Dalam komunikasi dengan orang yang relatif selevel, kita sebenarnya terbiasa melakukan klarifikasi dan konfirmasi.
Kalau tidak paham, kita tanya.
Kalau kalimatnya ambigu, kita memastikan.
Kalau rasanya ada sesuatu yang terlewat, kita kembali ke orangnya.
“Ini maksudnya apa?”
“Yang diminta yang ini atau yang itu?”
“Jadi saya cukup jawab atau ada sesuatu yang harus dilakukan?”
Menurut saya itu normal.
Karena setiap komunikasi punya risiko salah tangkap.
Yang ada di kepala saya belum tentu sama dengan yang diterima orang lain.
Makanya klarifikasi bukan menunjukkan kita tidak paham.
Justru itu cara memastikan pesan yang diterima sama dengan yang ingin disampaikan.
2. Pertanyaan bisa dianggap perintah
Masalahnya menjadi berbeda ketika levelnya tidak sama.
Ketika atasan bertanya, bawahan kadang tidak lagi menerimanya sebagai pertanyaan.
Misalnya saya bertanya:
“Ini sudah dicek?”
Yang terjadi bisa saja bukan orang menjawab apakah sudah dicek atau belum.
Dia malah langsung mengerjakan ulang semuanya.
Mungkin karena pengalaman sebelumnya.
Mungkin pernah ada situasi di mana pertanyaan atasan memang sebenarnya cara untuk mencari sesuatu yang kurang.
Akhirnya sekarang setiap pertanyaan dibaca jauh lebih dalam.
Padahal bisa jadi saya memang hanya ingin tahu.
Kalau yang dibutuhkan jawaban, ya cukup jawab.
Kalau belum jelas apakah saya meminta tindakan atau hanya bertanya, seharusnya ada ruang untuk klarifikasi dulu.
Bukan langsung mengubah semua pertanyaan menjadi pekerjaan baru.
3. Jangan cuma takut salah
Hal ketiga yang menurut saya penting adalah mentality ketika berinteraksi dengan atasan.
Kadang fokusnya terlalu besar pada:
“Jangan sampai saya salah.”
Akhirnya muncul overthinking.
Pertanyaan sederhana menjadi besar.
Jawaban yang sebenarnya cukup pendek malah berubah jadi banyak tindakan karena takut respons awalnya dianggap salah.
Menurut saya kita tidak cuma perlu takut salah.
Kita juga perlu berani benar.
Kalau belum jelas, berani bertanya.
Kalau merasa maksudnya berbeda, berani memastikan.
Kalau yang diminta sebenarnya hanya jawaban, jangan menciptakan pekerjaan sendiri hanya karena takut kelihatan tidak melakukan apa-apa.
Kebenaran juga butuh keberanian.
Bukan keberanian untuk melawan.
Tapi keberanian untuk memastikan sebelum bertindak.
Tentu situasinya berbeda kalau memang kita melakukan kesalahan.
Kalau ada kesalahan, pertanyaan apa pun mungkin terasa lebih berat karena kita sendiri sudah tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Tapi kalau tidak, seharusnya kita tidak perlu hidup terus-menerus dalam ketakutan terhadap setiap komunikasi.
Belajar dua arah
Refleksi hari ini mengingatkan saya bahwa komunikasi beda level memang punya tantangannya sendiri.
Sebagai atasan, kita juga harus belajar bahwa kata-kata kita punya bobot yang berbeda.
Pertanyaan sederhana dari kita bisa terasa seperti instruksi bagi orang lain.
Di sisi yang menerima, juga perlu belajar untuk tidak menebak terlalu jauh.
Klarifikasi.
Konfirmasi.
Tanya apa yang sebenarnya dimaksud.
Jangan biarkan posisi membuat komunikasi menjadi penuh asumsi.
Karena pada akhirnya komunikasi yang sehat bukan ketika semua orang selalu langsung mengerti.
Tapi ketika orang merasa cukup aman untuk memastikan saat belum mengerti.
Jangan cuma takut salah. Kita juga harus cukup berani untuk memastikan apa yang benar.
Leave a Reply