Hari ini saya kepikiran sedikit tentang AI.
AI itu memang pintar.
Pintar berkata-kata.
Pintar merancang.
Pintar membuat struktur.
Pintar bikin dashboard.
Pintar bikin tabel.
Pintar bikin pilihan.
Masalahnya, kadang-kadang dia juga terlalu banyak.
Kita tanya sesuatu yang sebenarnya sederhana, jawabannya bisa panjang sekali.
Kita minta satu hal, keluarnya lima alternatif.
Kita minta dashboard sederhana, jadinya seperti ingin memasukkan semua data yang tersedia.
Semuanya dibuat besar.
Teksnya besar.
Datanya banyak.
Strukturnya lengkap.
Seolah-olah semakin banyak yang diberikan, semakin terlihat pintar.
Padahal buat saya, belum tentu semakin efektif.
Dari pengalaman menggunakan AI, ada tiga hal yang saya pikir menarik.
1. AI ingin terlihat mampu
Menurut saya salah satu karakter AI adalah dia dirancang untuk membantu dan memuaskan kebutuhan kita.
Makanya ketika ditanya, dia berusaha menunjukkan sebanyak mungkin hal yang dia bisa lakukan.
Kita minta ide, keluar banyak ide.
Kita minta tulisan, dibuat lengkap.
Kita minta dashboard, ditambah banyak metrik.
Kita minta rekomendasi, semua kemungkinan dimasukkan.
Mungkin ini cara AI menunjukkan bahwa dia kompeten.
Bahwa dia bisa.
Bahwa dia punya banyak pilihan untuk kita.
Masalahnya, kebutuhan manusia belum tentu sebanyak itu.
Kadang saya cuma butuh satu jawaban.
Kadang saya cuma butuh tiga angka.
Kadang saya hanya ingin tahu: “yang harus dilakukan sekarang apa?”
Tapi karena semuanya diberikan sekaligus, yang awalnya membantu justru bisa menjadi beban baru untuk diproses.
2. Output AI masih harus dipertajam
Untungnya, menggunakan AI tidak harus berhenti pada jawaban pertama.
Kita bisa prompt ulang.
Bisa mempertanyakan lagi.
Bisa minta dipersingkat.
Bisa bilang bagian mana yang tidak relevan.
Bisa menyederhanakan dashboard.
Bisa membuang beberapa kolom.
Bisa meminta satu kesimpulan saja.
Menurut saya ini bagian penting dalam menggunakan AI.
Jangan menganggap output pertama adalah hasil akhirnya.
Evaluasi lagi.
Mana yang benar-benar dibutuhkan?
Mana yang hanya tambahan?
Mana yang bisa dibuang tanpa mengurangi makna?
Mana yang perlu dibuat lebih direct?
Apalagi ketika hasilnya akan diberikan ke orang lain.
Jangan sampai kita kirim sesuatu yang akhirnya membuat penerimanya harus memasukkan lagi ke AI hanya untuk bilang:
“Tolong ringkas ini.”
Kalau bisa disederhanakan sebelum dikirim, ya sederhanakan.
3. Tetap pakai POV manusia
Ini mungkin yang paling penting.
AI boleh pintar.
Tapi yang membaca hasilnya tetap manusia.
Manusia punya keterbatasan perhatian.
Punya waktu.
Punya kebutuhan yang spesifik.
Dan menurut saya hampir tidak ada orang yang senang menghabiskan waktu membaca sesuatu yang muter-muter hanya untuk menemukan satu jawaban.
Orang ingin tahu apa yang dia butuhkan.
Langsung.
Jelas.
Cukup.
Begitu juga ketika melihat dashboard.
Bukan soal seberapa banyak data bisa ditampilkan.
Tapi apakah orang tahu apa yang harus dilihat.
Apa yang salah.
Apa yang bergerak.
Apa yang perlu dilakukan setelah melihat angka tersebut.
Jadi ketika menggunakan AI, kita jangan hanya berpikir dari perspektif:
“AI bisa bikin apa?”
Tapi juga:
“Manusia yang menerima ini sebenarnya butuh apa?”
Jangan kehilangan kemampuan manusia
Saya semakin merasa bahwa pintar menggunakan AI bukan berarti menerima sebanyak mungkin hasil dari AI.
Justru mungkin sebaliknya.
Kita perlu tahu kapan harus berhenti.
Kapan harus memotong.
Kapan harus mengatakan, “ini terlalu banyak.”
Kapan sebuah dashboard cukup punya lima angka daripada lima puluh angka.
Kapan satu paragraf lebih baik daripada lima paragraf.
Kapan satu rekomendasi yang jelas lebih berguna daripada sepuluh opsi.
Sepandai-pandainya kita menggunakan AI, tetap ada kemampuan dasar manusia yang harus dipakai.
Membaca.
Melihat.
Mendengarkan.
Memahami konteks.
Dan mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan orang lain.
Karena AI bisa membantu kita menghasilkan lebih banyak.
Tapi kitalah yang tetap harus menentukan mana yang layak dipakai.
AI boleh membuat semuanya lebih besar, tapi tugas manusialah membuatnya kembali cukup sederhana untuk benar-benar berguna.
Leave a Reply