Kalau kita lihat lebih dekat, menurut saya setiap keluarga pasti punya budaya.
Mau keluarga besar atau kecil.
Mau tinggal bersama terus atau harus terpisah jarak.
Mau kedua orang tuanya bekerja, salah satunya bekerja, atau memang banyak menghabiskan waktu bersama anak.
Semuanya pasti membentuk kebiasaan, value, dan cara berinteraksi yang berbeda.
Makanya menurut saya kita perlu lebih hati-hati ketika melihat keluarga lain.
Jangan terlalu cepat membandingkan.
Apalagi sampai menilai bahwa cara kita pasti lebih benar, sementara yang dilakukan keluarga lain salah.
Karena latar belakangnya berbeda.
Kondisinya berbeda.
Yang sedang diperjuangkan juga bisa berbeda.
Saya mencoba melihatnya dari tiga situasi.
1. Jarak membentuk cara sendiri
Misalnya ada keluarga yang dibesarkan dengan kondisi long distance marriage.
Salah satu orang tuanya harus merantau.
Mereka tidak bisa selalu bersama setiap hari.
Kalau kita melihatnya dari keluarga yang terbiasa selalu berkumpul, mungkin terasa aneh.
Tapi keluarga seperti ini bisa saja membangun value kebersamaan dengan cara yang berbeda.
Mereka mungkin tidak pergi ke mana-mana bersama setiap minggu.
Tapi ketika ada waktu untuk berkumpul, pertemuan itu jadi sangat berharga.
Bisa jadi hanya beberapa kali dalam setahun.
Justru karena jarang, setiap momen bersama menjadi sesuatu yang benar-benar dijaga.
Jadi value kebersamaan tidak selalu harus terlihat dari seberapa sering orang bertemu.
Kadang justru terlihat dari bagaimana mereka menghargai waktu yang sedikit itu.
2. Kesibukan membentuk budaya lain
Situasi lain misalnya ada keluarga yang masih berada di fase merintis.
Kedua orang tua bekerja.
Anak kemudian banyak dibantu diasuh oleh orang lain.
Waktu interaksi mungkin hanya sebelum bekerja, setelah pulang, atau saat weekend.
Jelas budayanya akan berbeda.
Ada faktor pekerjaan.
Ada rasa lelah.
Ada stres dari tempat kerja yang kadang ikut terbawa pulang.
Ada juga keterlibatan orang lain dalam proses membesarkan anak.
Kalau kita melihat keluarga seperti ini hanya dari satu ukuran, misalnya seberapa banyak waktu orang tua bersama anak, menurut saya bisa tidak fair.
Karena ada kebutuhan lain yang sedang mereka perjuangkan.
Ada ekonomi.
Ada karier.
Ada masa depan keluarga.
Ada sesuatu yang memang dianggap prioritas pada fase hidup tersebut.
Bukan berarti semuanya sempurna.
Tapi konteksnya harus tetap dilihat.
3. Selalu bersama juga berbeda
Di sisi lain, ada juga keluarga yang memang membesarkan anaknya sendiri setiap hari.
Hampir 24 jam bersama.
Interaksinya jelas jauh lebih banyak.
Kedekatannya juga terbentuk lewat pengalaman yang berbeda.
Tapi lagi-lagi, menurut saya tidak fair kalau kondisi ini kemudian digunakan untuk menilai keluarga lain yang situasinya tidak sama.
Orang yang bersama anak setiap hari punya challenge sendiri.
Orang yang hanya bertemu setelah pulang kerja juga punya challenge sendiri.
Orang yang harus terpisah kota bahkan negara juga punya tantangan yang berbeda lagi.
Jadi kuantitas waktu bersama tidak otomatis bisa dijadikan satu-satunya ukuran tentang keluarga mana yang lebih baik.
Mereka hanya membangun hubungan dengan cara yang berbeda.
Setiap keluarga punya konteks
Saya rasa masalah muncul ketika kita menggunakan standar keluarga kita sendiri untuk menilai keluarga orang lain.
Karena sesuatu yang ideal untuk kita belum tentu bisa diterapkan di tempat lain.
Setiap keluarga punya target.
Punya kepentingan.
Punya kondisi ekonomi.
Punya pekerjaan.
Punya sesuatu yang sedang diperjuangkan.
Punya hal-hal yang dianggap urgent dan prioritas.
Dari sanalah budaya keluarga terbentuk.
Jadi menurut saya tugas kita bukan mencari keluarga mana yang paling benar.
Tapi belajar memahami bahwa ada banyak cara orang membangun rumahnya masing-masing.
Selama kita tidak mengetahui keseluruhan ceritanya, rasanya terlalu mudah untuk bilang bahwa keluarga lain salah hanya karena caranya berbeda dari kita.
Setiap keluarga punya budayanya sendiri, dan perbedaan itu lebih layak dipahami daripada dibandingkan.
Leave a Reply