Hari ini saya kembali berkantor di divisi-divisi.
Istilahnya mungkin serawung.
Ikut masuk ke ruang mereka, mendengarkan pekerjaan, melihat prosesnya, bertanya, menjawab, dan tentu saja ikut nimbrung.
Tapi ada satu hal yang justru paling membekas hari ini.
Saya senang.
Bukan cuma karena kegiatannya menyenangkan, tapi karena ada testimoni bahwa apa yang saya lakukan juga membuat suasana menjadi menyenangkan bagi orang lain.
Mungkin terdengar repetitif karena saya cukup sering bicara tentang kantor yang menyenangkan.
Tapi ya memang itu salah satu alasan kenapa saya membangun perusahaan ini.
Saya ingin tempat ini menyenangkan bagi saya.
Menyenangkan bagi orang yang bekerja di dalamnya.
Dan mudah-mudahan menyenangkan juga bagi orang yang berinteraksi dengan kami.
1. Kesenangan Juga Layak Didesain
Saya cukup senang ketika mendapat semacam kredit bahwa saya berhasil membuat suasana menjadi menyenangkan.
Karena buat saya ini bukan efek samping.
Ini memang sesuatu yang saya inginkan.
Hari kerja sudah membawa cukup banyak hal yang tidak ringan.
Target.
Deadline.
Masalah customer.
Pekerjaan yang belum selesai.
Kesalahan.
Revisi.
Tekanan.
Kalau seluruh delapan jam kerja hanya berisi semua itu, rasanya sayang sekali.
Karena kita menghabiskan bagian yang sangat besar dari hidup kita di pekerjaan.
Makanya menurut saya kantor yang menyenangkan bukan kantor yang tidak serius.
Justru kita bisa serius terhadap hasil tanpa membuat seluruh prosesnya terasa seperti hukuman.
Ada pekerjaan yang tetap harus selesai.
Ada target yang tetap harus dicapai.
Tapi di tengah itu, harus ada ruang supaya manusia yang mengerjakannya tetap bisa menikmati harinya.
2. Humor Bisa Membuat Jarak Lebih Pendek
Yang saya lakukan hari ini sebenarnya sederhana.
Datang ke divisi.
Ikut ngobrol.
Melontarkan pertanyaan.
Bercanda.
Kasih tebak-tebakan receh.
Memancing joke.
Kadang membuat situasi yang akhirnya bikin semua orang tertawa bareng.
Tidak ada metode canggih.
Tidak ada workshop employee engagement.
Cuma manusia ketemu manusia.
Tapi saya merasa ada fungsi lain di balik bercanda bersama.
Ada jarak yang jadi lebih pendek.
Mungkin dalam keseharian orang melihat saya sebagai CEO.
Ada posisi.
Ada struktur.
Ada rasa sungkan.
Ada kemungkinan kalau ketemu saya artinya harus reporting sesuatu.
Tapi ketika bisa bercanda bareng, hubungan itu sebentar terasa lebih sederhana.
Bos ternyata bisa diketawain.
Bisa bikin joke jelek.
Bisa ngobrol tentang sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan KPI.
Bagi orang yang hari-harinya sedang penuh beban, mungkin beberapa menit tertawa memang tidak menyelesaikan pekerjaannya.
Tapi minimal bisa membuat perjalanan menyelesaikannya sedikit lebih ringan.
3. Jangan Bergantung pada Satu Orang
Tapi kemudian ada satu pertanyaan penting.
Kalau suasana menyenangkan hanya muncul ketika saya datang, berarti ada yang salah.
Saya mungkin hanya bisa melakukan safari seperti ini sesekali.
Tidak mungkin setiap hari saya hadir di semua divisi untuk menjadi sumber hiburan.
Karena itu yang jauh lebih penting adalah bagaimana kesenangan tadi berubah menjadi budaya.
Dengan atau tanpa saya.
Tim bisa bercanda.
Manajer bisa membuat suasana cair.
Orang saling membantu.
Ada ruang untuk tertawa.
Ada momen untuk merayakan sesuatu.
Dan yang paling penting, kesenangan itu tidak hanya dinikmati oleh orang-orang tertentu.
Saya tidak mau ada orang yang tertawa di atas sementara orang lain justru terus-menerus merasa tertindas di bawah.
Kalau mau menyebutnya budaya menyenangkan, maka rasa aman dan rasa senangnya harus bisa dirasakan lebih luas.
Bukan hanya oleh orang yang dekat dengan bos.
Bukan hanya yang paling vokal.
Bukan hanya yang posisinya tinggi.
Tapi oleh siapa pun yang ada di dalamnya.
Jangan Biarkan Senang Jadi Kebetulan
Saya percaya perusahaan yang dicintai orang-orang di dalamnya tidak tercipta hanya karena slogan.
Harus ada ikhtiar.
Ada kegiatan.
Ada ruang.
Ada kebiasaan.
Ada trigger yang terus mengingatkan bahwa kita bukan cuma sekumpulan orang yang menyelesaikan task.
Kita juga manusia yang menjalani cukup banyak hidup bersama.
Saya memang percaya orang yang menikmati pekerjaannya punya peluang menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
Bukan berarti orang bahagia otomatis selalu produktif.
Tapi orang yang terus-menerus tertekan kemungkinan besar hanya ingin menyelesaikan minimum yang diperlukan untuk bertahan.
Sementara orang yang merasa punya tempat yang ingin dipertahankan punya alasan lebih besar untuk peduli.
Maka saya ingin kesenangan di kantor bukan menjadi acara setahun sekali.
Bukan kebetulan saat CEO sedang lewat.
Bukan juga privilese kelompok tertentu.
Kalau memang ingin menjadi budaya, ia harus terus ditumbuhkan.
Karena bagi saya, tempat kerja yang baik bukan cuma tempat orang bisa menghasilkan karya.
Tapi juga tempat di mana orang cukup bahagia untuk ingin terus menghasilkan karya bersama.
Leave a Reply