Hari 249: Distraksi Bukan Cuma Notifikasi

Hari ini selesai buku ke-27 dari target 52 buku tahun ini.

Bukunya Indistractable karya Nir Eyal.

Menariknya, Nir Eyal juga menulis Hooked, buku yang membahas bagaimana sebuah produk bisa membuat orang terus kembali menggunakannya. Bagaimana aplikasi, produk, dan kebiasaan bisa membuat kita seperti “terkait” terus dengan sesuatu.

Nah, Indistractable seperti melihatnya dari sisi sebaliknya.

Kalau dunia semakin pintar menarik perhatian kita, bagaimana caranya kita tetap bisa mengerjakan apa yang sebenarnya ingin kita kerjakan?

Tidak sedikit-sedikit buka HP.

Tidak tiba-tiba pindah ke media sosial.

Tidak merasa harus membaca setiap email begitu masuk.

Tidak memulai dari satu pekerjaan, lalu setengah jam kemudian sadar kita sudah membaca berita yang bahkan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan tadi.

Dan ternyata persoalan distraksi tidak sesederhana mematikan notifikasi.

1. Distraksi Datang dari Dalam

Salah satu bagian yang menarik adalah pembagian antara distraksi dari luar dan dari dalam.

Yang dari luar cukup mudah dikenali.

Notifikasi berbunyi.

Email masuk.

Ada pesan.

Ada berita baru.

HP menyala di sebelah kita.

Tapi ternyata ada juga pemicu dari dalam diri sendiri.

Kita bosan.

Pekerjaannya sulit.

Ada sesuatu yang membuat tidak nyaman.

Kita bingung harus mulai dari mana.

Lalu tangan secara otomatis mengambil HP.

Ini menarik karena kadang saya menganggap distraksi sebagai masalah teknologi. Seolah-olah kalau aplikasi dan notifikasinya hilang, otomatis saya akan fokus.

Padahal belum tentu.

Kalau sumbernya adalah rasa tidak nyaman, kita mungkin hanya mencari tempat kabur yang lain.

Itulah kenapa mengenali apa yang membuat kita ingin meninggalkan pekerjaan sama pentingnya dengan menghilangkan gangguan dari luar.

Kadang kita bukan benar-benar butuh melihat media sosial.

Kita cuma sedang tidak ingin menghadapi sesuatu yang ada di depan kita.

2. Fokus Bisa Direkayasa

Yang saya suka dari buku ini adalah tidak berhenti di teori.

Ada banyak cara praktis untuk menghadapi distraksi sehari-hari.

Bagaimana memperlakukan notifikasi.

Bagaimana mengatur penggunaan HP.

Bagaimana menghadapi email.

Bagaimana membaca berita.

Sampai bagaimana memberi jeda sebelum mengikuti keinginan untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya sedang mengalihkan perhatian.

Salah satu idenya sederhana: ketika muncul dorongan untuk terdistraksi, jangan langsung diikuti. Beri jarak beberapa menit.

Kelihatannya sepele, tetapi poin besarnya menarik.

Kita tidak harus menuruti setiap keinginan pada saat keinginan itu muncul.

Lebih jauh lagi, kita juga bisa membuat lingkungan yang membantu kita fokus.

Matikan notifikasi yang tidak perlu.

Jauhkan benda yang mudah mengambil perhatian.

Tentukan kapan membuka email.

Atur waktu untuk pekerjaan tertentu.

Artinya fokus tidak harus selalu bergantung pada kekuatan niat.

Kita bisa mendesain kondisi supaya fokus menjadi lebih mudah dan distraksi menjadi lebih sulit.

Bahkan menyebut diri sebagai seseorang yang indistractable juga menjadi bagian dari identitas yang ingin dibangun.

Bukan sekadar, “Saya sedang mencoba tidak terdistraksi.”

Tapi, “Saya adalah orang yang menjaga perhatian saya.”

3. Perhatian Juga untuk Orang

Bagian lain yang menurut saya cukup kena justru bukan tentang produktivitas.

Tapi hubungan.

Karena distraksi ternyata tidak hanya membuat pekerjaan kita tidak selesai.

Ia juga bisa membuat kita hadir secara fisik, tapi tidak benar-benar hadir.

Sedang bersama anak, tapi melihat HP.

Sedang bersama pasangan, tapi masing-masing sibuk dengan layar sendiri.

Sedang ngobrol, tapi perhatian kita sebenarnya menunggu notifikasi berikutnya.

Buku ini sampai membahas bagaimana membangun waktu bersama anak, membuat aktivitas yang mereka sukai, membantu anak punya hubungan yang sehat dengan teknologi, sampai menjaga koneksi dengan pasangan.

Menurut saya ini penting.

Karena sering kali ketika bicara fokus, kita langsung membayangkan produktivitas: pekerjaan selesai lebih cepat, target tercapai, to-do list habis.

Padahal perhatian adalah sesuatu yang kita berikan bukan cuma kepada pekerjaan.

Tapi juga kepada manusia.

Dan mungkin ada kerugian yang jauh lebih besar daripada pekerjaan yang terlambat selesai: berada bersama orang yang penting bagi kita, tetapi sebenarnya tidak pernah benar-benar hadir.

Perhatian Itu Terbatas

Saya rasa Indistractable layak dibaca kalau kita sering mengalami satu situasi sederhana:

Hari terasa sibuk sekali, tetapi ketika malam datang kita bingung sebenarnya apa yang tadi berhasil diselesaikan.

Kita memulai banyak hal.

Pindah ke banyak hal.

Melihat banyak hal.

Tapi tidak cukup lama bertahan pada satu hal.

Buku ini mengingatkan saya bahwa distraksi tidak selalu harus dilawan dengan kemauan yang lebih kuat.

Pertama-tama kita perlu sadar kapan kita sedang terdistraksi, memahami kenapa kita ingin lari, lalu membangun lingkungan yang membuat perhatian kita tidak mudah direbut.

Karena pada akhirnya, yang diperebutkan oleh HP, media sosial, email, pekerjaan, keluarga, dan segala sesuatu di sekitar kita sebenarnya sama:

perhatian kita.

Dan kalau kita tidak memilih ke mana perhatian itu diberikan, orang atau benda lain yang akan memilihkannya untuk kita.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *