Alhamdulillah, kalau melihat hidup saya selama ini, rasanya saya termasuk orang yang jauh lebih sering sehat dibanding sakit.
Dan di perusahaan saya punya satu istilah internal yang agak absurd: dilarang sakit.
Tentu bukan berarti orang benar-benar tidak boleh sakit.
Ada penyakit yang datang tanpa kita pilih. Ada kecelakaan. Ada kondisi tubuh yang memang tidak bisa kita kendalikan begitu saja.
Tapi saya percaya ada juga sakit yang sebenarnya punya jejak cukup jelas dari kelalaian kita sendiri.
Dan beberapa hari terakhir, saya kena contoh-contohnya.
1. Tubuh Sering Memberi Tagihan
Beberapa waktu kemarin saya sariawan cukup parah.
Makan sakit. Minum sakit. Bahkan diam saja kadang tetap terasa.
Kalau saya cari penyebab paling sederhana, kemungkinan besar karena kebiasaan saya sendiri: kurang minum.
Saya banyak ngomong, banyak meeting, seharusnya otomatis kebutuhan minum juga lebih banyak.
Masalahnya bukan tidak ada air.
Saya cuma malas mengambil minum di tengah kerjaan.
Kelihatannya kecil sekali.
Cuma satu gelas yang ditunda. Lalu ditunda lagi. Kemudian beberapa hari berlalu.
Tapi tubuh ternyata punya cara sendiri untuk menagih.
Hal kecil yang kita anggap tidak penting bisa berubah menjadi ketidaknyamanan berhari-hari.
Kadang masalah kesehatan bukan muncul karena kita tidak tahu harus melakukan apa.
Kita tahu.
Cuma kita menyepelekannya.
2. Tahu Batas, Tetap Dilanggar
Kasus berikutnya lebih jelas lagi.
Beberapa hari kemarin saya tidur terlalu malam. Bahkan pernah sampai menjelang pagi, lalu paginya tetap lanjut bekerja seperti biasa.
Padahal saya sudah cukup mengenal tubuh sendiri.
Saya tahu saya butuh setidaknya sekitar enam jam tidur supaya bisa bekerja dengan nyaman.
Tetapi tetap dilanggar.
Hasilnya juga mudah ditebak.
Kepala pusing, terasa seperti migrain, badan tidak nyaman, dan meeting yang seharusnya bisa dijalankan dengan energi penuh malah terasa jauh lebih berat.
Yang menarik, saya sebenarnya tidak kekurangan informasi.
Saya tahu harus tidur.
Saya tahu tubuh butuh istirahat.
Saya tahu besok masih harus kerja.
Tetapi antara tahu dan melakukan ternyata memang ada jarak.
Dan kesehatan sering menjadi korban dari jarak itu.
3. Sehat Juga Tanggung Jawab
Dari situ saya kembali memahami kenapa istilah “dilarang sakit” sebenarnya punya sedikit logika.
Sekali lagi, bukan melarang penyakit yang memang datang di luar kendali.
Yang saya maksud adalah jangan sampai kita dengan sadar melakukan kebiasaan yang membuat tubuh rusak, lalu terkejut ketika akhirnya pekerjaan dan kehidupan ikut terganggu.
Kurang tidur.
Kurang minum.
Makan sembarangan.
Tidak bergerak.
Mengabaikan sinyal tubuh.
Kalau terus dilakukan, pada titik tertentu tubuh akan meminta kita berhenti dengan caranya sendiri.
Dan ketika itu terjadi, dampaknya bukan hanya pada diri kita.
Pekerjaan terganggu. Janji bisa tertunda. Orang lain mungkin harus menggantikan. Energi yang seharusnya dipakai untuk sesuatu yang penting malah habis untuk memulihkan kelalaian yang sebenarnya bisa dicegah.
Karena itu menurut saya menjaga kesehatan bukan sekadar urusan pribadi.
Ia juga bentuk tanggung jawab terhadap pekerjaan, keluarga, dan hal-hal yang sedang kita perjuangkan.
Sehat Itu Harus Dipakai
Saya sangat bersyukur masih diberi kesehatan.
Dan mungkin bentuk syukur yang paling masuk akal bukan cuma mengatakan alhamdulillah saat tubuh sedang baik-baik saja.
Tapi juga menjaganya.
Menggunakan tubuh ini untuk hal-hal yang baik, sambil tidak memperlakukannya sembarangan.
Istirahat ketika memang perlu.
Minum ketika haus, bahkan sebelum haus.
Makan dengan lebih masuk akal.
Bergerak.
Tidak terus-menerus mengorbankan tubuh atas nama kesibukan.
Karena kesehatan adalah potensi.
Dan rasanya sayang sekali kalau potensi sebesar itu justru kita sia-siakan karena kelalaian kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Jadi mungkin “dilarang sakit” memang terlalu ekstrem.
Tapi dilarang menyia-nyiakan sehat, saya masih setuju.
Leave a Reply