Hari 243: Marah Bukan Tujuan

Di penghujung bulan Agustus ini, ada momen yang menyenangkan, tetapi juga ada momen yang membuat saya tidak nyaman.

Terutama kepada diri saya sendiri.

Hari ini saya marah-marah.

Saya menyampaikan apa yang saya rasakan atas ketidakpatuhan dan ketidakdisiplinan yang terjadi. Ada teguran yang harus disampaikan agar hal yang sama tidak terus berulang.

Namun, cara menyampaikannya keluar dalam bentuk marah-marah.

Dan jujur, itu bukan situasi yang ringan.

Bagi saya, selalu ada ketegangan antara ingin menyampaikan sesuatu dengan jelas dan ingin menyampaikannya dengan baik. Saya ingin orang paham bahwa ada yang salah. Saya ingin ada koreksi. Saya ingin ada konsekuensi. Tapi saya juga tahu bahwa cara yang keras bisa membuat orang tidak nyaman, bahkan mungkin membuat suasana menjadi dingin.

Di sisi lain, kalau semuanya hanya ditahan, sering kali rasa kecewa itu tidak hilang.

Ia hanya pindah tempat.

Menjadi umpatan di belakang.

Menjadi keluhan di forum yang salah.

Menjadi energi buruk yang tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah.

Jadi hari ini saya belajar lagi bahwa menegur itu perlu. Tapi marah bukan tujuan akhirnya.

1. Diam Tidak Selalu Lebih Baik

Saya termasuk orang yang ingin segala sesuatu bisa dijelaskan.

Kenapa ini salah.

Kenapa ini penting.

Kenapa aturan perlu dipatuhi.

Kenapa disiplin bukan hanya soal satu orang, tetapi berdampak ke banyak orang.

Namun, dalam kenyataannya, ketika sesuatu terus berulang dan rasa kecewa menumpuk, penjelasan itu bisa berubah menjadi kemarahan.

Ini yang berat.

Karena marah-marah bukan hal yang menyenangkan. Tidak untuk yang dimarahi, tidak juga untuk yang marah.

Tapi diam juga tidak selalu menjadi pilihan yang lebih baik.

Kalau ada hal yang mengecewakan, lalu kita hanya diam, bukan berarti masalahnya selesai. Bisa jadi yang terjadi hanya pemindahan energi.

Di depan terlihat baik-baik saja.

Di belakang muncul keluhan.

Di forum resmi tidak dibicarakan.

Di obrolan lain jadi bahan umpatan.

Itu juga tidak fair.

Kalau ada masalah yang memang perlu dihadapi, lebih baik dihadapi.

Tentu caranya harus terus diperbaiki.

Namun, keberanian untuk membawa masalah ke ruang yang benar tetap penting.

Karena organisasi tidak bisa sehat kalau semua orang hanya menahan kecewa, lalu membuangnya di tempat yang salah.

2. Teguran Harus Tepat Sasaran

Saya juga belajar dari kesalahan masa lalu.

Dulu, saya pernah marah kepada orang-orang yang sebenarnya tidak sepenuhnya bersalah.

Misalnya ada yang terlambat, tetapi yang terlambat belum datang. Lalu yang sudah hadir justru ikut terkena marah.

Itu tidak benar.

Teguran yang tidak tepat sasaran bisa melukai orang yang sebenarnya sedang berusaha melakukan hal benar.

Alih-alih memperbaiki situasi, itu justru menambah rasa tidak adil.

Maka kalau ada kesalahan, teguran harus diarahkan kepada masalah dan pihak yang memang perlu dikoreksi.

Kalau ada yang salah, jelaskan salahnya.

Kalau ada aturan yang dilanggar, jelaskan aturannya.

Kalau ada dampak yang muncul, jelaskan konsekuensinya.

Marah secara umum kepada semua orang mungkin terlihat memberi efek besar, tetapi belum tentu menyelesaikan akar masalah.

Namun, saya juga paham kenapa kadang teguran perlu disampaikan terbuka.

Bukan untuk mempermalukan.

Bukan untuk melampiaskan emosi.

Tetapi agar semua orang tahu bahwa ada hal yang salah, ada standar yang dilanggar, dan ada perbaikan yang harus dilakukan bersama.

Yang perlu dijaga adalah batasnya.

Teguran harus memberi arah, bukan hanya memberi tekanan.

3. Konsekuensi Membuat Aturan Hidup

Aturan tanpa konsekuensi biasanya hanya menjadi pengingat.

Ada, tetapi tidak terasa.

Diketahui, tetapi tidak selalu dipatuhi.

Disebut berkali-kali, tetapi tetap dilanggar karena tidak ada akibat yang jelas.

Di sinilah organisasi perlu memiliki sistem koreksi.

Kalau ada ketidakpatuhan, ada teguran.

Kalau ada ketidakdisiplinan, ada perbaikan.

Kalau ada pelanggaran berulang, ada konsekuensi.

Bukan karena perusahaan ingin menghukum orang.

Tetapi karena tanpa konsekuensi, aturan kehilangan makna.

Orang yang patuh bisa merasa tidak ada bedanya dengan orang yang tidak patuh.

Orang yang disiplin bisa merasa usahanya tidak dihargai.

Orang yang melanggar bisa merasa aman untuk mengulang.

Kalau itu dibiarkan, rasa keadilan di organisasi akan menurun.

Maka efek jera bukan sekadar soal membuat orang takut.

Efek jera yang sehat adalah membuat orang paham bahwa setiap pilihan punya akibat.

Bahwa disiplin itu dihargai.

Bahwa ketidakpatuhan itu dikoreksi.

Bahwa aturan bukan hanya berlaku ketika diingatkan, tetapi memang menjadi bagian dari cara kita bekerja bersama.

Menegur untuk Memperbaiki

Hari ini bukan hari yang mudah.

Bukan hari yang ringan.

Saya tidak bangga karena bisa marah-marah.

Tapi saya juga tidak ingin menutup mata bahwa ada hal yang memang perlu dikoreksi.

Yang perlu saya perbaiki adalah caranya.

Bagaimana tetap jelas tanpa kehilangan kendali.

Bagaimana tetap tegas tanpa merendahkan.

Bagaimana tetap memberi konsekuensi tanpa menjadikan amarah sebagai alat utama.

Karena tujuan dari teguran bukan membuat orang takut kepada pemimpin.

Tujuan teguran adalah membuat organisasi kembali ke standar yang benar.

Kalau setelah teguran suasana menjadi dingin, mungkin itu bagian dari risiko.

Namun, yang lebih penting adalah memastikan setelah dingin, ada perbaikan.

Ada pemahaman.

Ada kedewasaan.

Ada standar yang lebih jelas.

Marah bukan tujuan.

Koreksi adalah tujuannya.

Dan semoga, dari hari yang tidak nyaman ini, ada kerja yang lebih baik setelahnya.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *