Hari 237: Bisnis Butuh Operating System

Hari libur ini saya berhasil menyelesaikan satu buku dalam tiga hari.

Buku ke-24 dari target 52 buku tahun ini.

Judulnya Traction karya Gino Wickman, salah satu buku bisnis yang sering direkomendasikan di mana-mana. Banyak review menyebut buku ini sebagai salah satu buku bisnis terbaik, dan setelah membacanya, saya cukup paham kenapa.

Bukunya menarik.

Bukan karena teorinya terlalu tinggi, tetapi justru karena sangat teknis dan how-to. Buku ini membahas bagaimana entrepreneur bisa membangun sistem operasi bisnis, atau yang dikenal sebagai Entrepreneurial Operating System.

Ada enam komponen utama yang dibahas: vision, people, data, issues, process, dan traction.

Intinya, buku ini mencoba menjawab pertanyaan yang sederhana tapi berat: bagaimana cara menjalankan bisnis dengan lebih benar, lebih rapi, dan lebih bisa dikendalikan?

Sebagai orang yang sedang membangun bisnis, saya merasa buku ini cukup relevan. Bahkan ada kemungkinan beberapa bagiannya akan saya implementasikan, entah secara parsial atau lebih menyeluruh, untuk mendukung keberlangsungan bisnis.

Dari buku ini, ada tiga hal yang paling saya tarik.

1. Struktur Membuat Hal yang Parsial Menjadi Utuh

Hal pertama yang saya sadari: banyak hal yang dijelaskan di buku ini sebenarnya tidak terlalu jauh dari apa yang selama ini kami kerjakan.

Kami sudah punya visi.

Sudah membahas orang.

Sudah membuat proses.

Sudah punya meeting.

Sudah mencoba menyelesaikan masalah.

Sudah punya target dan ukuran tertentu.

Namun, bedanya, Traction menawarkan struktur.

Ada urutan.

Ada checklist.

Ada cara mengecek kondisi organisasi dari beberapa komponen penting.

Dan di situlah menariknya.

Kadang kita merasa sudah melakukan banyak hal dalam organisasi, tetapi karena semuanya dilakukan secara parsial, hasilnya terasa patah-patah.

Ada sistem yang jalan di satu bagian, tetapi tidak nyambung ke bagian lain.

Ada meeting yang rutin, tetapi tidak selalu menyelesaikan masalah.

Ada target, tetapi tidak semua orang paham hubungannya dengan pekerjaan harian.

Ada proses, tetapi tidak selalu terdokumentasi dengan baik.

Buku ini seperti mengingatkan bahwa bisnis tidak cukup hanya punya banyak praktik baik.

Praktik baik itu perlu dirangkai menjadi satu sistem yang utuh.

Karena kalau tidak, kita bisa merasa sibuk membangun banyak hal, tetapi organisasinya tetap berjalan dengan cara yang reaktif.

Struktur bukan untuk membuat bisnis menjadi kaku.

Struktur justru membantu bisnis tahu bagian mana yang kuat, bagian mana yang lemah, dan bagian mana yang perlu diperbaiki berikutnya.

2. Masalah Harus Didokumentasikan dan Diputuskan

Konsep yang paling menarik bagi saya adalah tentang membuat daftar masalah.

Sebenarnya terdengar sangat sederhana.

Setiap bisnis pasti punya masalah. Bahkan setiap hari kita bertemu masalah.

Masalah target.

Masalah orang.

Masalah komunikasi.

Masalah proses.

Masalah angka yang tidak naik.

Masalah pekerjaan yang terlambat.

Masalah keputusan yang menggantung.

Namun, dalam praktiknya, banyak masalah hanya muncul secara reaktif.

Ada masalah, dibahas sebentar.

Ada komplain, ditangani.

Ada konflik, ditenangkan.

Ada angka turun, dipikirkan.

Namun, semua itu sering tidak terdokumentasi sebagai daftar masalah yang jelas dan perlu diputuskan.

Padahal, kalau kita punya ukuran yang dipantau dengan baik, kita bisa tahu indikator mana yang tidak bergerak. Dari situ kita bisa bertanya: kenapa ini tidak naik? Kenapa ini turun? Apa masalah utamanya? Siapa yang perlu memutuskan? Apa tindakan berikutnya?

Buku ini menekankan pentingnya membuat masalah terlihat.

Karena masalah yang tidak terlihat tidak akan diselesaikan.

Masalah yang hanya berputar di kepala orang akan mudah hilang, muncul lagi, lalu hilang lagi tanpa benar-benar selesai.

Ada satu gagasan yang juga menarik: yang penting bukan hanya apa keputusannya, tetapi siapa yang memutuskan.

Intinya, keputusan harus dibuat.

Karena dalam banyak kasus, keputusan yang terlalu lama ditunda bisa lebih mahal daripada keputusan yang tidak sempurna.

Bisnis tidak bisa terus hidup dalam mode “nanti kita bahas lagi”.

Pada titik tertentu, masalah harus masuk daftar, dibahas, diputuskan, lalu ditindaklanjuti.

3. Meeting Bisa Menjadi Mesin Penyelesaian

Hal ketiga yang saya suka dari buku ini adalah cara Traction memberi makna pada meeting.

Banyak orang menganggap meeting sebagai pemborosan waktu.

Dan saya paham kenapa.

Banyak meeting memang membuang waktu.

Meeting tanpa agenda.

Meeting yang hanya update normatif.

Meeting yang tidak menghasilkan keputusan.

Meeting yang membahas terlalu banyak hal, tetapi tidak menyelesaikan satu pun.

Meeting yang membuat orang keluar ruangan dengan tugas yang tetap tidak jelas.

Namun, menariknya, di buku ini meeting justru menjadi bagian penting dari sistem operasi bisnis.

Ada meeting tahunan.

Meeting kuartalan.

Meeting mingguan.

Bahkan formatnya disusun dengan cukup detail.

Kenapa meeting versi ini didukung?

Karena fokusnya bukan sekadar berkumpul.

Fokusnya adalah mengecek keadaan, melihat angka, mengidentifikasi masalah, lalu menyelesaikannya.

Meeting menjadi tempat organisasi melihat dirinya sendiri.

Apakah kita masih di jalur yang benar?

Apa target yang perlu dikejar?

Apa masalah yang menghambat?

Siapa yang bertanggung jawab?

Apa keputusan yang harus diambil?

Dengan format yang benar, meeting bukan lagi tempat orang melaporkan kesibukan.

Meeting menjadi mesin penyelesaian masalah.

Maka mungkin masalahnya bukan meeting itu sendiri.

Masalahnya adalah meeting yang tidak punya desain.

Kalau meeting tidak punya tujuan, ia akan menghabiskan waktu.

Kalau meeting punya struktur dan fokus pada penyelesaian masalah, ia bisa menjadi salah satu alat paling penting dalam menjalankan bisnis.

Dari Sibuk Menjadi Terkendali

Saya cukup menikmati membaca Traction.

Buku ini terasa praktis, teknis, dan dekat dengan kebutuhan entrepreneur yang ingin bisnisnya tidak hanya berjalan karena energi pendirinya.

Ia mengingatkan bahwa bisnis butuh operating system.

Bukan hanya visi besar.

Bukan hanya orang hebat.

Bukan hanya kerja keras.

Tetapi juga struktur yang membuat semuanya bisa dilihat, diukur, dibahas, dan diperbaiki.

Mungkin sebagian hal di buku ini sudah kami lakukan.

Namun, membaca buku ini membuat saya sadar bahwa melakukan sesuatu secara parsial berbeda dengan menjalankannya sebagai sistem yang utuh.

Dan barangkali di situlah tantangan membangun perusahaan.

Bukan hanya mencari ide baru.

Bukan hanya menambah produk.

Bukan hanya mengejar target.

Tetapi membuat organisasi punya ritme, ukuran, proses, dan forum yang membuat masalah tidak hanya muncul, tetapi benar-benar selesai.

Kalau bisnis ingin punya traction, ia tidak cukup hanya bergerak.

Ia harus bergerak dengan sistem.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *