Hari 236: Bisnis Baik Juga Punya Batas

Hari Senin, membuka pekan baru.

Hari ini saya memikirkan satu hal yang cukup sulit ketika kita menjalankan perusahaan yang punya basis moral, etika, dan sosial yang kuat.

Kadang orang menganggap bisnis seperti ini harus selalu punya pendapat atas banyak hal.

Harus ikut bersuara.

Harus menunjukkan keberpihakan.

Harus merespons isu.

Harus hadir sebagai perusahaan baik.

Dan tentu saja, saya berharap perusahaan yang kami bangun bukan hanya terlihat baik, tetapi benar-benar berusaha menjadi baik.

Namun, di situlah rumitnya.

Ketika sebuah perusahaan membawa nilai sosial, ruang geraknya tidak sesederhana bisnis yang hanya menjual produk. Setiap komentar bisa dibaca sebagai sikap. Setiap sikap bisa ditafsirkan sebagai keberpihakan. Setiap keberpihakan bisa membawa konsekuensi yang lebih panjang dari yang kita bayangkan.

Di satu sisi, kita punya nilai yang ingin dijaga.

Di sisi lain, kita juga punya tim, mitra, klien, komunitas, dan banyak orang yang ikut berada di balik nama perusahaan.

Maka pertanyaannya bukan hanya, “Kita percaya apa?”

Tapi juga, “Apa konsekuensi dari cara kita menunjukkan kepercayaan itu?”

1. Memihak Itu Mudah

Memihak pada satu isu sebenarnya mudah.

Kita bisa langsung mendukung sesuatu.

Kita bisa langsung menolak sesuatu.

Kita bisa membuat pernyataan, mengunggah konten, memberi komentar, atau menunjukkan posisi secara terbuka.

Apalagi kalau isu tersebut terasa dekat dengan nilai yang kita percaya.

Sebagai manusia, tentu kita punya kecenderungan. Ada hal yang kita anggap benar. Ada hal yang kita anggap keliru. Ada hal yang secara moral terasa harus dibela.

Namun, ketika kita membawa nama perusahaan, sikap itu tidak lagi hanya menjadi sikap pribadi.

Ia ikut membawa organisasi.

Ia ikut membawa orang-orang di dalamnya.

Ia ikut membawa persepsi publik terhadap apa yang kita kerjakan.

Di sinilah memihak menjadi tidak sesederhana terlihat benar atau salah.

Karena audiens kita tidak tunggal.

Ada karyawan.

Ada pelanggan.

Ada mitra.

Ada masyarakat.

Ada pihak yang mungkin sepakat.

Ada pihak yang mungkin tersinggung.

Ada pihak yang mungkin menafsirkan terlalu jauh.

Maka mendukung atau menolak sesuatu memang bisa menjadi pilihan paling cepat.

Tapi pilihan yang cepat belum tentu selalu paling bijak.

2. Konsekuensi Harus Ikut Dihitung

Hal yang lebih sulit dari memilih sikap adalah menghitung konsekuensinya.

Ketika kita menjalankan bisnis yang dianggap punya nilai baik, orang tidak hanya melihat apa yang kita pilih.

Mereka juga akan bertanya kenapa kita memilih itu.

Kenapa mendukung pihak tertentu?

Kenapa diam pada isu lain?

Kenapa bersuara sekarang, tetapi tidak kemarin?

Kenapa membela ini, tapi tidak membela itu?

Pada akhirnya, orang bisa mengaitkan sikap perusahaan dengan banyak hal.

Dengan branding.

Dengan kepentingan bisnis.

Dengan jaringan.

Dengan sumber dana.

Dengan klien.

Dengan siapa yang sedang dekat dengan kita.

Bahkan ketika niatnya murni, tafsir orang lain belum tentu sesederhana itu.

Inilah kenapa perusahaan tidak bisa terlalu santai dalam memberi komentar atau dukungan.

Bukan karena takut punya prinsip.

Bukan karena ingin menyenangkan semua pihak.

Tetapi karena setiap sikap publik membawa akibat.

Apalagi untuk perusahaan yang bergerak di ruang sosial, lingkungan, atau isu yang berhubungan dengan banyak kepentingan.

Satu kalimat bisa membuka ruang dukungan.

Satu kalimat juga bisa menutup pintu kerja sama.

Satu sikap bisa memperkuat identitas.

Satu sikap juga bisa membuat ruang gerak semakin sempit.

Maka sebelum bersuara, yang perlu dipikirkan bukan hanya apakah kita benar.

Tetapi apakah cara kita bersuara membuat tujuan kita tetap bisa dijalankan dengan baik.

3. Netral Bisa Menjadi Sikap

Di banyak isu, sikap netral sering dianggap sebagai tidak punya sikap.

Diam dianggap pengecut.

Menahan diri dianggap tidak peduli.

Tidak mengkubu dianggap tidak cukup berani.

Saya paham cara pandang itu.

Dalam beberapa kondisi, diam memang bisa menjadi bentuk pembiaran.

Namun, tidak semua diam berarti tidak peduli.

Kadang diam adalah cara menunggu informasi lebih lengkap.

Kadang menahan diri adalah cara agar tidak membuat keadaan lebih rumit.

Kadang tidak langsung memihak adalah cara menjaga ruang agar tetap bisa bekerja dengan lebih banyak pihak.

Masalahnya, dunia sering memaksa kita masuk ke permainan dua kubu.

Kalau tidak mendukung ini, berarti mendukung lawannya.

Kalau tidak ikut menyerang, berarti membela pihak yang diserang.

Kalau tidak ikut bicara, berarti tidak peduli.

Padahal hidup tidak selalu sesempit itu.

Bisnis juga tidak selalu bisa bermain di arena yang semuanya hitam-putih.

Ada kalanya sikap paling bertanggung jawab adalah tidak gegabah.

Tetap punya karakter.

Tetap bekerja sesuai nilai.

Tetap menjaga integritas.

Tetapi tidak harus selalu mengubah semua keresahan menjadi pernyataan publik.

Karena kadang ruang yang terlalu sempit justru membuat kita tidak bisa lagi menjalankan misi yang lebih besar.

Kita Bukan Superhero

Menjalankan bisnis yang dianggap lebih dari sekadar bisnis memang membawa beban tersendiri.

Orang bisa berharap kita hadir di banyak isu.

Orang bisa menganggap kita harus selalu tahu mana yang benar.

Orang bisa menuntut kita untuk tidak pernah salah.

Padahal, pada akhirnya, kita tetap manusia.

Perusahaan juga berisi manusia.

Kami bukan superhero yang bisa menyelesaikan semua masalah.

Fokus utama kami tetap memberikan solusi atas problem yang memang menjadi ruang kerja kami. Menjaga agar dampak yang dijanjikan bisa benar-benar terjadi. Memastikan pekerjaan yang kami ambil bisa diselesaikan dengan baik.

Bukan berarti isu lain tidak penting.

Bukan berarti nilai moral bisa ditinggalkan.

Namun, bisnis yang baik juga perlu tahu batas.

Kapan harus bersuara.

Kapan harus mendengar.

Kapan harus menunggu.

Kapan harus bekerja tanpa banyak bicara.

Karena menjadi baik bukan berarti harus selalu paling depan dalam semua isu.

Kadang menjadi baik berarti tetap menjaga arah, tidak gegabah, dan sadar bahwa setiap sikap punya konsekuensi bagi banyak orang di belakang kita.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *