Hari ini adalah hari pertama masuk kerja setelah libur 17 Agustus.
Karena kami bekerja secara WFH, perayaan kemerdekaan di kantor tidak bisa dilakukan dengan lomba-lomba fisik seperti biasanya. Tidak ada balap karung. Tidak ada tarik tambang. Tidak ada makan kerupuk di halaman kantor.
Akhirnya kami membuat lomba online.
Lombanya sederhana: tebak foto.
Saya mencari foto-foto tim dari momen outing. Lalu saya ambil masing-masing satu orang dan membuatnya menjadi beberapa ronde dengan gimmick berbeda-beda.
Ada ronde menebak orang dari punggungnya.
Ada ronde menebak siapa yang wajahnya saya tutup dengan lingkaran.
Ada ronde wajahnya saya ubah menggunakan AI dengan pose atau wajah orang lain.
Ada juga ronde yang hanya memperlihatkan bagian-bagian kecil dari foto.
Intinya, semua peserta harus menebak: ini siapa?
Saya lembur sampai sekitar setengah dua malam untuk menyiapkan soalnya.
Dan ternyata, hasilnya menyenangkan.
Tim terlihat tertarik. Banyak yang ikut menebak. Banyak yang bingung. Banyak yang salah dengan penuh percaya diri. Bahkan waktunya sampai melewati jam istirahat, tetapi kelihatannya orang-orang masih nyaman dan tertantang untuk menyelesaikan sampai ronde terakhir.
Di satu sisi, saya senang.
Di sisi lain, muncul pertanyaan di kepala saya.
Boleh tidak sih kantor dibuat seseru ini?
1. Kantor Juga Butuh Momen Hidup
Melihat tim tertawa, menebak, saling meledek, dan bingung bersama, saya jadi merasa bahwa kantor memang butuh momen seperti ini.
Apalagi ketika kantor berjalan secara online.
Dalam WFH, banyak hal yang biasanya muncul secara natural di kantor fisik menjadi hilang.
Tidak ada obrolan random di meja kerja.
Tidak ada makan siang bareng.
Tidak ada ekspresi wajah yang terlihat ketika seseorang sedang bingung, tertawa, atau iseng mengomentari sesuatu.
Yang tersisa sering kali hanya meeting, pekerjaan, laporan, dan pesan di grup.
Kalau tidak hati-hati, kantor online bisa berubah menjadi mesin kerja.
Semua orang hadir sebagai kotak-kotak kecil di layar, bicara seperlunya, lalu kembali ke tugas masing-masing.
Karena itu, momen seperti lomba online ini menjadi penting.
Bukan karena lombanya besar.
Bukan karena hadiahnya luar biasa.
Tapi karena ia membuat orang-orang merasa kembali menjadi bagian dari kelompok yang hidup.
Ada tawa.
Ada spontanitas.
Ada kebingungan bersama.
Ada pengalaman kecil yang bisa diingat sebagai “tadi lucu juga ya.”
Kadang hal sederhana seperti itu cukup untuk mengingatkan bahwa kantor bukan hanya tempat menyelesaikan pekerjaan.
Kantor juga tempat manusia bertemu.
2. Rasa Bersalah Itu Wajar
Namun, pertanyaan “boleh tidak kantor seseru ini?” muncul bukan tanpa alasan.
Karena faktanya, target kami juga belum semuanya ideal.
Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Masih ada hal-hal urgent.
Masih ada pekerjaan penting yang menunggu.
Apalagi minggu ini pendek karena Senin libur tanggal merah. Secara logika produktivitas, satu atau dua jam untuk lomba online bisa terasa seperti kemewahan.
Saya sempat berpikir, apakah ini tepat?
Apakah tidak lebih baik waktunya dipakai untuk mengejar pekerjaan?
Apakah ini bukan bentuk kelalaian kecil di tengah banyaknya target?
Pertanyaan seperti itu wajar muncul, terutama ketika kita memimpin organisasi yang masih punya banyak PR.
Namun, mungkin masalahnya bukan memilih antara kerja serius atau bersenang-senang.
Masalahnya adalah bagaimana menempatkan keduanya secara proporsional.
Kalau setiap hari hanya lomba, tentu itu masalah.
Kalau pekerjaan selalu dikalahkan oleh keseruan, itu juga tidak sehat.
Namun, kalau setahun sekali ada momen untuk merayakan, tertawa, dan membangun kedekatan, mungkin itu bukan gangguan.
Mungkin itu bagian dari cara menjaga energi tim.
3. Bonding Membuat Target Lebih Mudah Disampaikan
Setelah dipikir-pikir, ada jawaban yang cukup kuat.
Sesi seperti ini membuat bonding tim menjadi lebih baik.
Dan bonding bukan hal remeh.
Ketika orang merasa dekat, merasa menjadi bagian dari kelompok, dan punya pengalaman menyenangkan bersama, pesan-pesan yang berat juga lebih mudah disampaikan.
Target tetap harus dikejar.
Evaluasi tetap harus dilakukan.
Masalah tetap harus dibahas.
Namun, semua itu akan terasa berbeda kalau hubungan yang dibangun hanya berisi tekanan.
Bayangkan kalau perusahaan hanya hadir dalam bentuk target, teguran, deadline, dan tuntutan.
Tidak pernah ada sesi yang menyenangkan.
Tidak pernah ada ruang untuk tertawa bersama.
Tidak pernah ada momen untuk merasa bahwa kita ini satu kelompok yang sedang berjuang bersama.
Lama-lama, perusahaan bisa terasa sangat dingin.
Bahkan mungkin dianggap toxic, bukan karena targetnya salah, tetapi karena tidak ada sisi manusia yang menyeimbangkannya.
Maka sesi menyenangkan seperti ini bukan pelarian dari pekerjaan.
Ia bisa menjadi bahan bakar emosional untuk kembali bekerja.
Setelah tertawa bersama, mungkin orang lebih siap diajak serius lagi.
Setelah merasa dekat, mungkin evaluasi terasa tidak selalu seperti serangan.
Setelah punya momen bersama, mungkin target terasa lebih seperti perjuangan kolektif, bukan sekadar tuntutan dari atas.
Tertawa Sebentar, Berjuang Lagi
Hari ini saya belajar bahwa kantor boleh dibuat seru.
Bukan berarti kantor kehilangan keseriusan.
Bukan berarti target menjadi tidak penting.
Bukan berarti pekerjaan boleh dilupakan.
Justru karena pekerjaan itu berat, target itu menantang, dan situasi tidak selalu mudah, kita perlu punya momen untuk melepas tekanan bersama.
Mungkin lomba online ini hanya berlangsung satu atau dua jam.
Mungkin bentuknya hanya tebak foto yang saya siapkan sampai tengah malam.
Namun, kalau dari sana tim bisa tertawa, merasa lebih dekat, dan ingat bahwa mereka tidak berjuang sendirian, rasanya waktu itu tidak sia-sia.
Kantor yang sehat bukan kantor yang selalu serius.
Kantor yang sehat adalah kantor yang tahu kapan harus mengejar target, kapan harus mengevaluasi, dan kapan harus tertawa bersama sebelum kembali berjuang.
Karena kadang untuk bisa menghadapi minggu yang berat, manusia tidak hanya butuh instruksi.
Manusia juga butuh merasa menjadi bagian dari komunitas.
Leave a Reply