Hari 229: Setelah Merdeka, Tetap Bersaing

Hari ini 17 Agustus, Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-81.

Setiap tahun, momen kemerdekaan hampir selalu diisi dengan lomba-lomba. Mulai dari yang sederhana seperti makan kerupuk, balap karung, tarik tambang, sampai perlombaan yang lebih serius di berbagai level.

Lalu saya jadi berpikir lebih jauh.

Kenapa kita suka sekali dengan lomba?

Kenapa negara juga perlu mengirim atlet ke kejuaraan dunia?

Kenapa harus ada biaya pembinaan yang besar, fasilitas latihan, pelatnas, sampai reward besar kalau menang?

Padahal kalau dipikir secara praktis, anggaran itu bisa saja digunakan untuk hal lain. Di dalam negeri masih banyak masalah. Masih banyak hal yang perlu dibenahi.

Lalu apa pentingnya menang di luar sana?

Apa pentingnya menunjukkan prestasi ke dunia?

Saya mencoba merenungkannya dari sudut pandang kompetisi.

Karena mungkin lomba-lomba 17 Agustus bukan sekadar hiburan tahunan. Ia juga menyimpan sesuatu yang lebih dalam tentang mentalitas, dorongan, dan cara sebuah bangsa melihat dirinya sendiri.

1. Kompetisi Membuat Kita Tidak Terlalu Nyaman

Kompetisi punya satu fungsi penting: memberi tekanan.

Tekanan untuk mencoba lebih baik.

Tekanan untuk tidak terlalu cepat puas.

Tekanan untuk tidak mudah memaafkan diri sendiri setiap kali gagal.

Tanpa kompetisi, kita bisa terlalu mudah merasa cukup.

Yang penting ikut.

Yang penting jalan.

Yang penting tidak buruk-buruk amat.

Padahal, dalam banyak hal, manusia butuh dorongan dari luar agar mau melampaui batas yang sebelumnya dianggap cukup.

Lomba membuat kita tahu posisi.

Apakah kita benar-benar cepat, atau hanya merasa cepat karena tidak pernah dibandingkan?

Apakah kita benar-benar kuat, atau hanya merasa kuat karena tidak pernah diuji?

Apakah kita benar-benar siap, atau hanya merasa siap karena belum pernah masuk arena?

Kompetisi memang tidak selalu nyaman. Kadang membuat tegang, malu, kecewa, bahkan kalah.

Namun, dari situ ada dorongan untuk memperbaiki diri.

Itulah kenapa lomba, kejuaraan, dan persaingan dalam bentuk apa pun tetap penting.

Bukan semata untuk menang.

Tapi untuk mencegah kita menjadi pribadi, organisasi, atau bangsa yang terlalu betah di zona aman.

2. Prestasi Memberi Bukti dan Inspirasi

Kemenangan di luar sana bukan hanya soal medali.

Prestasi memberi bukti.

Bukti bahwa orang dari tempat yang sama dengan kita bisa mencapai sesuatu yang besar.

Bukti bahwa anak Indonesia bisa berdiri sejajar dengan negara lain.

Bukti bahwa kerja keras, pembinaan, disiplin, dan keberanian bertanding bisa menghasilkan sesuatu.

Tanpa prestasi, kita mungkin hanya punya cerita tentang potensi.

“Kita sebenarnya bisa.”

“Kita punya banyak talenta.”

“Kita bangsa besar.”

Namun, potensi yang tidak pernah dibuktikan lama-lama menjadi slogan.

Prestasi membuat potensi punya wajah.

Ketika ada atlet menang, ketika ada anak bangsa berprestasi, ketika ada seseorang dari daerah kecil bisa mencapai panggung besar, orang lain ikut melihat kemungkinan baru.

“Oh, ternyata bisa.”

Kalimat itu sederhana, tapi efeknya besar.

Karena banyak orang tidak bergerak bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak punya contoh yang cukup dekat untuk dipercaya.

Prestasi menjadi benchmarking.

Ia menunjukkan standar baru.

Ia memberi inspirasi bahwa capaian yang lebih tinggi bukan hanya milik orang lain di luar sana.

Orang yang lahir dari tanah yang sama juga bisa sampai ke sana.

3. Prestasi Butuh Biaya dan Pembinaan

Kalau kita ingin punya prestasi, kita tidak bisa hanya berharap muncul begitu saja.

Prestasi butuh pembinaan.

Butuh fasilitas.

Butuh pelatih.

Butuh waktu.

Butuh sistem seleksi.

Butuh kesehatan, nutrisi, mental, dan lingkungan yang mendukung.

Dan semua itu butuh biaya.

Kadang kita ingin hasil besar, tetapi ragu membayar prosesnya.

Ingin atlet menang, tetapi pelatnasnya seadanya.

Ingin anak bangsa berprestasi, tetapi pembinaannya tidak konsisten.

Ingin nama negara harum, tetapi investasi pada manusianya dianggap pengeluaran yang terlalu mahal.

Padahal, prestasi bukan kejadian dadakan.

Kemenangan di panggung besar biasanya lahir dari proses panjang yang tidak terlihat.

Kalau kita ingin menunjukkan bahwa bangsa ini mampu bersaing, maka anggaran untuk kompetisi dan pembinaan bukan sekadar biaya seremonial.

Ia adalah investasi pada mentalitas.

Investasi pada standar.

Investasi pada keyakinan bahwa kita tidak hanya ingin hidup cukup, tetapi juga ingin menjadi lebih baik.

Tentu penggunaannya harus tetap diawasi dan dipertanggungjawabkan.

Namun, menolak pembinaan hanya karena masih ada masalah lain juga tidak selalu tepat.

Sebuah bangsa bisa memperbaiki masalah internal sambil tetap membangun prestasi eksternal.

Keduanya tidak harus saling meniadakan.

Merdeka Bukan Berarti Berhenti Bertanding

Dulu, bangsa ini berjuang untuk lepas dari penjajahan.

Hari ini kita memang tidak lagi berperang seperti dulu.

Namun, bukan berarti mental bertanding menjadi tidak penting.

Arena perjuangannya berubah.

Sekarang bentuknya bisa pendidikan, olahraga, bisnis, teknologi, budaya, ilmu pengetahuan, kreativitas, dan banyak bidang lainnya.

Kompetisi mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukan alasan untuk santai.

Kemerdekaan memberi ruang agar kita bisa bertanding dengan kepala tegak.

Agar kita tidak hanya menjadi bangsa yang merasa cukup karena sudah ada, tetapi bangsa yang terus membuktikan bahwa keberadaan kita punya kualitas.

Maka lomba-lomba 17 Agustus, dari yang lucu sampai yang serius, mungkin punya pesan yang sama.

Kita merayakan kebebasan.

Tapi kita juga mengingat bahwa setelah bebas, kita tetap perlu bergerak.

Tetap perlu berusaha.

Tetap perlu menguji diri.

Karena bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang tidak dijajah.

Bangsa yang merdeka juga bangsa yang berani masuk arena dan menunjukkan bahwa dirinya mampu.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *