Dua minggu setelah buku terakhir yang saya baca, akhirnya satu buku selesai lagi.
Kali ini buku ke-22 dari target 52 buku tahun ini.
Judulnya Leaders Eat Last karya Simon Sinek, penulis yang juga menulis Start with Why.
Bukunya sekitar 340 halaman, dan jujur belum ketemu flow yang benar-benar asik untuk menyelesaikannya. Dua minggu untuk satu buku, sementara hari-hari terus bergerak menuju akhir tahun. Rasanya target 52 buku makin kelihatan jauh.
Tapi ya sudah. Kita teruskan.
Apalagi saya sudah terlanjur borong banyak buku. Jadi semoga setelah ini bisa mengejar ketertinggalan.
Dari judulnya, Leaders Eat Last sebenarnya cukup clickbait juga.
Sebagai orang yang memimpin organisasi, saya langsung menangkap pesannya: pemimpin harus mengutamakan orang lain. Bahkan kalau diterjemahkan secara harfiah, pemimpin makan belakangan.
Dan dalam praktiknya, kadang memang begitu.
Namun, isi buku ini tidak hanya membahas soal pemimpin yang mengalah atau bersikap baik kepada timnya. Buku ini lebih banyak membahas tentang bagaimana organisasi yang baik dibangun dari rasa aman, hubungan antarmanusia, dan pilihan jangka panjang.
Ada tiga hal yang saya tarik dari buku ini.
1. Lingkaran Aman Harus Dibangun
Salah satu gagasan utama Simon Sinek dalam buku ini adalah tentang circle of safety atau lingkaran keselamatan.
Menurutnya, organisasi yang baik adalah organisasi yang bisa membuat orang-orang di dalamnya merasa aman.
Aman untuk bekerja.
Aman untuk bicara.
Aman untuk salah lalu memperbaiki.
Aman untuk percaya bahwa orang di sekitarnya tidak sedang menunggu kesempatan untuk menjatuhkannya.
Ketika bagian dalam organisasi terasa aman, orang-orang bisa menghadapi tantangan dari luar dengan lebih kuat.
Kompetitor, tekanan pasar, target, perubahan, dan masalah eksternal lainnya tetap akan ada. Namun, kalau internalnya solid, semua itu bisa dihadapi bersama.
Sebaliknya, kalau di dalamnya sendiri sudah penuh rasa takut, politik, saling curiga, dan chaos, maka apa pun yang keluar dari organisasi juga akan ikut chaos.
Tim yang tidak merasa aman di dalam tidak akan punya energi cukup untuk menghadapi dunia luar.
Ini mengingatkan saya bahwa budaya internal bukan urusan tambahan.
Bukan sesuatu yang dibahas nanti kalau bisnis sudah stabil.
Justru ia adalah fondasi.
Kalau rumahnya tidak aman, penghuninya akan sibuk menyelamatkan diri masing-masing.
2. Organisasi Adalah Reaksi Manusia
Seperti di beberapa buku lain yang membahas perilaku manusia, Simon Sinek juga banyak menjelaskan bahwa organisasi pada dasarnya bekerja seperti reaksi kimia.
Manusia merespons apa yang ia rasakan.
Ada dorongan ketika berhasil mencapai sesuatu.
Ada rasa percaya ketika diperlakukan dengan baik.
Ada ikatan ketika melakukan sesuatu bersama.
Ada keberanian ketika merasa tidak sendirian.
Hal-hal seperti ini terlihat sederhana, tapi sangat menentukan cara sebuah tim bekerja.
Orang tidak hanya bergerak karena instruksi.
Orang juga bergerak karena suasana, rasa aman, rasa memiliki, dan energi kolektif yang dibangun di sekitarnya.
Di sinilah pentingnya organisasi tidak hanya mendorong orang secara individual, tetapi juga membangun kekuatan kelompok.
Setiap orang memang perlu punya tanggung jawab pribadi.
Namun, potensi terbaik sering muncul ketika seseorang merasa berada di lingkungan yang mendukungnya.
Ia tahu kalau bekerja kerasnya terlihat.
Ia tahu kalau kesalahannya tidak langsung menjadi bahan serangan.
Ia tahu kalau orang-orang di sekitarnya juga sedang berusaha menuju arah yang sama.
Dalam kondisi seperti itu, orang bisa mengeluarkan potensi yang lebih besar.
Bukan karena dipaksa terus-menerus.
Tetapi karena merasa punya tempat yang cukup aman untuk bertumbuh.
3. Profit Saja Terlalu Pendek
Bagian lain yang cukup kuat dari buku ini adalah kritik terhadap organisasi yang terlalu fokus pada keuntungan jangka pendek.
Mengejar profit itu penting.
Perusahaan tanpa profit juga akan sulit bertahan.
Namun, ketika profit, pemegang saham, dan angka jangka pendek menjadi satu-satunya pusat perhatian, organisasi bisa mulai mengorbankan hal-hal yang sebenarnya menjaga masa depannya.
Karyawan.
Budaya.
Kepercayaan.
Loyalitas.
Rasa aman.
Hal-hal ini tidak selalu langsung terlihat di laporan keuangan bulan ini. Namun, ketika rusak, dampaknya bisa panjang.
Kalau orang hanya bekerja karena takut, karena harus, atau karena didorong insentif jangka pendek, energi organisasi akan cepat habis.
Mungkin target bulan ini tercapai.
Mungkin angka kuartal ini terlihat bagus.
Tapi dalam jangka panjang, orang-orangnya lelah, budaya melemah, dan perusahaan mulai kehilangan daya tahan.
Menurut saya, ini salah satu pesan paling penting dari buku ini.
Organisasi yang kuat tidak hanya dibangun dengan mengejar angka.
Ia dibangun dengan menjaga orang-orang yang membuat angka itu mungkin tercapai.
Kalau manusia di dalamnya habis, angka bagus pun hanya tinggal menunggu waktu untuk ikut turun.
Memimpin Berarti Menjaga Dalamnya
Leaders Eat Last bukan buku yang ringan-ringan amat.
Temanya cukup berat, apalagi kalau kita memang sedang memikirkan soal kepemimpinan, budaya, dan manusia di dalam organisasi.
Namun, buku ini menarik karena secara prinsip cukup dekat dengan hal yang selama ini saya percayai.
Bahwa membangun perusahaan bukan hanya soal membuat strategi yang benar.
Bukan hanya soal punya produk yang kuat.
Bukan hanya soal mengejar target.
Tetapi juga soal menciptakan lingkungan yang membuat orang bisa bekerja dengan aman, tumbuh dengan sehat, dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar pekerjaan hariannya.
Pemimpin makan belakangan bukan hanya soal urutan mengambil makanan.
Itu simbol bahwa pemimpin punya tugas untuk menjaga orang-orangnya.
Karena kalau orang di dalam merasa aman, mereka bisa menghadapi dunia luar dengan lebih berani.
Dan mungkin di situlah tugas kepemimpinan yang paling tidak kelihatan, tapi paling terasa dampaknya.
Membuat orang tidak merasa sendirian ketika menghadapi tekanan.
Leave a Reply