Hari 225: Tidak Semua Harus Sekali Tepuk

Kadang-kadang kita terlalu percaya diri dengan kemampuan kita meramu solusi.

Ada satu masalah, dua masalah, tiga masalah, lalu kita berpikir: bagaimana kalau semuanya diselesaikan dengan satu solusi besar saja?

Sekali tepuk, tiga nyamuk kena.

Kedengarannya efisien. Kelihatannya pintar. Bahkan terasa seperti cara berpikir yang strategis.

Namun, saya mulai merasa bahwa tidak semua hal harus diselesaikan dengan cara seperti itu.

Ada masalah yang memang bisa digabung penyelesaiannya. Ada solusi yang bisa menyentuh banyak kebutuhan sekaligus. Tapi ada juga masalah yang sebenarnya punya karakter berbeda, kebutuhan berbeda, dan harus diselesaikan dengan cara yang berbeda pula.

Kalau semuanya dipaksa masuk ke satu racikan yang sama, hasilnya belum tentu lebih baik.

Bisa jadi malah tidak menyelesaikan apa-apa.

1. Setiap Masalah Bisa Punya Solusinya Sendiri

Tidak semua masalah harus dicampur.

Kadang masalah A memang butuh solusi A. Masalah B butuh solusi B. Masalah C butuh solusi C.

Sesederhana itu.

Namun, karena kita ingin terlihat efisien, kita sering tergoda membuat satu solusi besar yang seolah bisa menjawab semuanya.

Padahal, masalah yang berbeda biasanya punya akar yang berbeda.

Ada masalah yang sumbernya di komunikasi.

Ada yang sumbernya di sistem.

Ada yang sumbernya di orang.

Ada yang sumbernya di kapasitas.

Ada yang sumbernya di ekspektasi.

Kalau semuanya digabung begitu saja, kita bisa kehilangan ketajaman dalam melihat masalah utamanya.

Seperti mengobati semua penyakit dengan satu obat yang sama.

Mungkin ada yang membaik, tapi belum tentu karena obatnya tepat. Bisa jadi hanya kebetulan.

Dalam pekerjaan, kita perlu punya kebijaksanaan untuk menerima bahwa beberapa hal memang harus diselesaikan satu per satu.

Tidak semuanya perlu dibikin menjadi super framework.

Tidak semuanya harus dijadikan satu program besar.

Kadang solusi yang kecil, spesifik, dan tepat sasaran jauh lebih berguna daripada solusi besar yang terlalu memaksa.

2. Jangan Jatuh Cinta pada Solusi

Masalah berikutnya adalah ketika kita terlalu cepat jatuh cinta pada solusi.

Begitu punya ide besar, kita mulai fokus pada bagaimana membuat solusi itu berjalan.

Kita membayangkan bentuknya.

Kita menyusun sistemnya.

Kita memikirkan nama programnya.

Kita membayangkan dampaknya.

Lalu pelan-pelan, fokus kita berpindah.

Yang awalnya ingin menyelesaikan masalah, berubah menjadi ingin membuktikan bahwa solusi kita benar.

Ini berbahaya.

Karena ketika solusi datang terlalu duluan, masalah bisa hanya dijadikan alasan.

Kita tidak lagi bertanya, “Masalah apa yang sebenarnya terjadi?”

Kita justru bertanya, “Bagaimana supaya solusi ini bisa dipakai untuk semua masalah?”

Akhirnya ketika dijalankan, kita kecewa.

Kenapa tidak menyelesaikan semuanya?

Kenapa dampaknya tidak sebesar yang dibayangkan?

Kenapa orang tidak langsung terbantu?

Mungkin jawabannya sederhana: karena sejak awal solusinya tidak benar-benar dirancang dari masalahnya.

Ia dirancang dari keinginan kita untuk punya jawaban besar.

Padahal dalam banyak hal, solusi yang baik dimulai dari kerendahan hati untuk memahami masalah secara spesifik.

Bukan dari ambisi untuk terlihat paling komprehensif.

3. Satu Dayung Tiga Pulau Itu Bonus

Tentu saja kalau ada solusi yang bisa menyelesaikan banyak hal sekaligus, itu bagus.

Kalau satu sistem bisa memperbaiki koordinasi, memperjelas akuntabilitas, sekaligus mempercepat pekerjaan, tentu itu ideal.

Kalau satu program bisa membantu marketing, sales, dan customer sekaligus, tentu itu menarik.

Satu dayung tiga pulau terlampaui adalah hal yang menyenangkan.

Namun, kita perlu sadar bahwa menemukan solusi seperti itu sejak percobaan pertama biasanya tidak mudah.

Butuh pemahaman yang dalam.

Butuh eksperimen.

Butuh evaluasi.

Butuh keberanian mengubah bentuk solusi ketika ternyata tidak bekerja sebagaimana harapan.

Kalau dari awal kita memaksa semua masalah masuk ke satu wadah besar, prosesnya bisa terlalu lama. Solusinya tidak selesai-selesai. Masalah kecil yang sebenarnya bisa dibereskan cepat justru ikut menunggu.

Akhirnya bukan satu dayung tiga pulau.

Tapi satu dayung, kapalnya muter-muter di tempat.

Maka mungkin pendekatan yang lebih realistis adalah menyelesaikan masalah satu per satu dulu.

Ketika polanya mulai terlihat, barulah kita bisa melihat apakah ada solusi yang bisa digabung, disederhanakan, atau dinaikkan skalanya.

Bukan sebaliknya.

Tidak Semua Bahan Harus Dicampur

Saya membayangkan ini seperti makanan.

Ada bahan yang memang enak kalau dicampur. Ada rasa yang saling melengkapi. Ada kombinasi yang membuat hasil akhirnya lebih menarik.

Namun, ada juga bahan yang sebaiknya dinikmati terpisah.

Satu terlalu asin. Satu terlalu manis.

Mungkin bisa saja dicampur dan jadi sesuatu yang unik. Tapi belum tentu lebih enak. Belum tentu juga perlu.

Dalam hidup, pekerjaan, dan organisasi, kita juga sering bertemu banyak masalah dengan rasa yang berbeda-beda.

Tidak semuanya harus diblender menjadi satu solusi besar.

Kadang yang paling bijak adalah mengambil satu masalah, memahami rasanya, lalu menyelesaikannya dengan cara yang sesuai.

Setelah itu baru lanjut ke masalah berikutnya.

Efisien bukan berarti selalu menggabungkan semuanya.

Efisien kadang justru berarti tahu mana yang perlu dipisahkan.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *