Hari 223: Berubah Itu Akumulasi

Hari ini ada sesi bersama anak-anak magang.

Seperti biasa, dalam sesi seperti ini pertanyaannya bisa melebar ke banyak hal. Ada yang bertanya tentang momen yang mengubah hidup. Ada yang bertanya tentang keputusan yang paling mengubah arah hidup. Ada juga yang bertanya apakah ada orang tertentu yang membuat saya menjadi seperti sekarang.

Pertanyaan seperti ini sering menarik, karena biasanya kita berharap ada satu jawaban besar.

Satu momen.

Satu orang.

Satu keputusan.

Satu titik balik yang membuat hidup berubah total.

Namun, ketika saya mencoba melihat hidup saya sendiri, rasanya tidak sesederhana itu.

Saya tidak merasa ada satu momen yang tiba-tiba mengubah saya menjadi orang yang berbeda. Tidak ada satu orang yang datang lalu hidup saya berubah total. Tidak ada satu kejadian yang membuat saya langsung menjadi versi baru yang sepenuhnya berbeda.

Kalau pun ada perubahan, saya merasa itu lebih seperti akumulasi.

Pelan-pelan. Sedikit demi sedikit. Terbentuk dari banyak keputusan, banyak pertemuan, banyak kesalahan, dan banyak pelajaran yang terus menumpuk.

1. Saya Masih Mengenal Diri yang Sama

Saya merasa diri saya hari ini masih cukup saya kenali.

Mungkin ada tambahan di kiri dan kanan. Ada pengalaman baru. Ada tanggung jawab yang lebih besar. Ada situasi yang berbeda. Ada cara bicara dan cara berpikir yang ikut menyesuaikan keadaan.

Namun, secara prinsip, saya masih merasa sebagai orang yang sama.

Saya waktu SMA, saya waktu kuliah, dan saya hari ini bukan tiga orang yang sepenuhnya berbeda.

Tentu ada perubahan.

Namun, perubahan itu bukan seperti seseorang menekan tombol lalu saya menjadi pribadi baru.

Lebih seperti satu orang yang sama, tetapi berjalan melewati banyak tempat berbeda.

Ketika situasinya berubah, ekspresi kita juga bisa berubah.

Ketika tanggung jawab bertambah, cara mengambil keputusan juga berubah.

Ketika bertemu masalah yang lebih kompleks, cara berpikir pun ikut berkembang.

Namun, bukan berarti diri lama kita hilang.

Barangkali yang terjadi bukan kita berubah menjadi orang lain, tetapi bagian-bagian tertentu dari diri kita menjadi lebih terlihat, lebih matang, atau lebih teruji.

Karena itu, ketika ditanya siapa yang mengubah hidup saya, saya agak sulit menjawab.

Rasanya bukan diubah oleh seseorang.

Rasanya lebih seperti tumbuh dari versi diri yang memang sudah ada, lalu terus dipertemukan dengan keadaan yang memaksa saya belajar.

2. Perubahan Jarang Datang dari Satu Faktor

Ketika orang menjawab pertanyaan tentang momen yang mengubah hidup, biasanya ia sedang mencoba mencari satu cerita yang paling mudah dijelaskan.

Itu wajar.

Cerita hidup memang lebih mudah dipahami kalau dibuat seperti film. Ada adegan penting, ada tokoh penting, ada dialog penting, lalu semuanya berubah setelah itu.

Namun, kehidupan nyata sering tidak serapi itu.

Sebuah keputusan besar mungkin terlihat penting, tetapi keputusan itu lahir dari banyak kejadian kecil sebelumnya.

Satu nasihat mungkin terasa membekas, tetapi ia menjadi bermakna karena kita sedang berada dalam kondisi yang tepat untuk menerimanya.

Satu orang mungkin memberi pengaruh, tetapi pengaruh itu bekerja karena setelahnya kita memilih untuk menindaklanjuti, mencoba, gagal, dan belajar lagi.

Jadi perubahan hampir selalu merupakan kombinasi.

Kombinasi dari orang yang kita temui.

Buku yang kita baca.

Kesalahan yang kita alami.

Kesempatan yang kita ambil.

Keputusan yang kita ulang.

Lingkungan yang membentuk kita.

Dan tentu saja, respons kita terhadap semua itu.

Mungkin ada momen yang terlihat menonjol, tetapi momen itu jarang bekerja sendirian.

Ia hanya menjadi puncak dari banyak hal yang sebelumnya sudah bergerak diam-diam.

3. Momentum Bisa Diciptakan Sendiri

Kadang kita menunggu momen besar untuk berubah.

Menunggu kejadian yang mengguncang.

Menunggu orang yang menginspirasi.

Menunggu kesempatan yang membuat hidup terasa berbeda.

Padahal, kalau perubahan selalu ditunggu, kita bisa terlalu lama diam.

Momentum tidak selalu datang dari luar.

Kadang momentum perlu kita ciptakan sendiri.

Kalau kita merasa kebiasaan lama tidak membantu, kita bisa mulai membangun kebiasaan baru.

Kalau kita merasa hidup yang sekarang kurang sesuai, kita bisa mulai mengubah arah sedikit demi sedikit.

Kalau kita merasa terlalu sering malas, kita bisa melatih disiplin.

Masalahnya, momentum bukan hanya soal memulai.

Yang lebih sulit adalah menjaganya.

Satu hari semangat tidak cukup.

Satu keputusan besar tidak cukup.

Satu momen sadar diri juga tidak cukup.

Kalau ingin berubah, momentum itu harus dipelihara. Ketika malas datang, dilawan lagi. Ketika semangat turun, dijaga lagi. Ketika gagal, dimulai lagi.

Perubahan bukan hanya soal menemukan momen.

Perubahan adalah kemampuan menjaga momen itu agar tidak hilang setelah beberapa hari.

Jangan Terlalu Menunggu Titik Balik

Saya pikir saya bukan tipe orang yang merasa hidupnya berubah karena satu situasi tertentu.

Saya tidak merasa ada satu orang yang mengubah segalanya.

Saya juga tidak merasa ada satu hari yang membuat saya menjadi pribadi baru sepenuhnya.

Saya hari ini adalah hasil dari banyak hal yang bertemu.

Keputusan-keputusan kecil.

Pelajaran-pelajaran yang diambil.

Orang-orang yang ditemui.

Kegagalan yang diproses.

Kebiasaan yang dicoba.

Dan momentum yang kadang berhasil dijaga, kadang juga lepas lalu harus dibangun ulang.

Mungkin hidup memang lebih sering bekerja seperti itu.

Bukan satu momen besar yang mengubah semuanya sekejap.

Tetapi ribuan momen kecil yang pelan-pelan membentuk siapa kita.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *