Hari 222: Privilege yang Sering Terlupa

Hari ini saya mendapatkan satu obrolan yang cukup mudah ditarik menjadi rasa syukur.

Kadang kita merasa hidup yang kita jalani biasa-biasa saja.

Punya orang tua lengkap terasa biasa. Bisa sekolah terasa biasa. Bisa kuliah sesuai keinginan terasa biasa. Bahkan ketika kuliah lanjut S2 juga didukung, itu pun bisa terasa seperti bagian normal dari hidup.

Sampai akhirnya kita bertemu dengan orang-orang yang harus menjalani hidup dengan cara yang jauh lebih berat.

Ada yang harus bekerja sambil sekolah. Ada yang ingin kuliah, tetapi penuh keterbatasan. Ada yang tidak punya dukungan keluarga yang utuh. Ada yang sejak awal harus belajar bertahan karena hidup tidak memberinya banyak pilihan.

Di titik itu, saya jadi berpikir ulang.

Jangan-jangan banyak hal yang selama ini saya anggap biasa sebenarnya adalah privilege yang sangat besar.

1. Tidak Semua Mimpi Punya Dukungan

Bisa mengejar keinginan sendiri dan mendapatkan dukungan orang tua adalah sebuah nilai lebih.

Kadang kita lupa karena dari kecil sudah terbiasa meminta, diarahkan, atau didukung untuk memilih jalan yang kita mau.

Mau sekolah di mana, bisa dibicarakan.

Mau kuliah apa, bisa diusahakan.

Mau lanjut belajar lagi, masih ada yang mendukung.

Bagi sebagian orang, hal seperti itu bukan sesuatu yang otomatis tersedia.

Ada orang yang harus bekerja lebih dulu sebelum bisa kuliah. Ada yang harus menahan keinginan karena kondisi keluarga. Ada yang harus memilih bukan berdasarkan apa yang paling diinginkan, tetapi apa yang paling mungkin dijalani.

Karena itu, dukungan bukan hal kecil.

Dukungan membuat mimpi terasa lebih dekat.

Dukungan membuat seseorang bisa fokus belajar, mencoba, dan bertumbuh tanpa terlalu cepat dihantam oleh kebutuhan bertahan hidup.

Kalau kita pernah punya kesempatan seperti itu, seharusnya ada rasa syukur yang lebih besar.

Bukan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain.

Tetapi untuk sadar bahwa jalan kita pernah dimudahkan oleh orang lain.

2. Orang Tua Lengkap Adalah Nikmat Besar

Hal lain yang sering terasa biasa adalah memiliki orang tua yang lengkap.

Mungkin karena sejak kecil mereka ada, kita menganggap kehadiran itu sebagai sesuatu yang wajar. Ada yang menanyakan kabar. Ada yang memberi nasihat. Ada yang cerewet. Ada yang khawatir. Ada yang menunggu pulang.

Padahal tidak semua orang punya pengalaman seperti itu.

Ada yang orang tuanya masih hidup, tetapi tidak bersama. Ada yang harus kehilangan salah satunya. Ada yang bahkan tidak pernah benar-benar mengenal orang tuanya.

Dukungan orang tua juga bukan hanya soal ekonomi.

Memang benar, orang tua bisa membantu membiayai sekolah, kuliah, kebutuhan hidup, atau hal-hal lain yang kita perlukan.

Namun, ada bentuk dukungan yang nilainya tidak kalah besar.

Kasih sayang.

Afirmasi.

Perhatian.

Perasaan bahwa ada orang yang percaya kepada kita bahkan ketika kita sendiri belum yakin.

Hal-hal seperti ini tidak selalu terlihat, tetapi sangat membentuk cara seseorang menjalani hidup.

Kadang kita baru menyadari nilainya ketika bertemu orang yang harus tumbuh tanpa itu.

Maka kalau hari ini kita masih punya orang tua, masih bisa bicara, masih bisa meminta doa, atau sekadar masih bisa merasa punya tempat pulang, itu bukan hal kecil.

Itu sesuatu yang perlu lebih sering disyukuri.

3. Kemudahan Bisa Membuat Kita Lupa Berjuang

Ada satu sisi lain dari privilege yang juga perlu saya renungkan.

Ketika seseorang dibesarkan dengan banyak kemudahan, kadang ia tidak punya etos kerja yang sama dengan orang yang dibesarkan dalam kesulitan.

Bukan berarti semua orang yang hidupnya dimudahkan pasti malas.

Bukan juga berarti semua orang yang hidupnya sulit otomatis kuat.

Namun, kesulitan sering melatih seseorang untuk bertahan lebih lama.

Ada orang yang sejak kecil tahu bahwa kalau dia tidak bergerak, tidak ada yang menolong. Kalau dia tidak bekerja keras, kesempatannya hilang. Kalau dia tidak memperjuangkan hidupnya sendiri, keadaan tidak akan otomatis berubah.

Dari situ muncul bara.

Muncul daya tahan.

Muncul semacam dorongan untuk terus melangkah, bahkan ketika hidup terasa tidak berpihak kepadanya.

Sementara orang yang terbiasa dimudahkan kadang perlu lebih sadar untuk membangun daya juangnya sendiri.

Karena tidak semua kemudahan membuat kita lebih siap.

Sebagian kemudahan justru bisa membuat kita terlena.

Itulah kenapa rasa syukur tidak boleh berhenti sebagai perasaan.

Rasa syukur harus berubah menjadi tanggung jawab.

Kalau jalan kita pernah dimudahkan, kita perlu menggunakan kemudahan itu untuk melakukan sesuatu yang lebih baik.

Syukur Harus Bergerak

Bagi siapa pun yang sedang merasa kurang bersyukur, mungkin sesekali kita perlu melihat hidup orang lain yang kondisinya jauh lebih sulit.

Bukan untuk membanding-bandingkan penderitaan.

Bukan untuk merasa masalah kita tidak penting.

Namun, agar kita tidak terlalu cepat menganggap semua yang kita punya sebagai hal biasa.

Sebaliknya, ketika kita sudah sadar bahwa banyak hal dalam hidup ini adalah anugerah, tugas berikutnya adalah menggunakan anugerah itu.

Privilege tidak seharusnya hanya membuat kita nyaman.

Ia seharusnya membuat kita lebih bertanggung jawab.

Kalau kita diberi dukungan, gunakan untuk tumbuh.

Kalau kita diberi pendidikan, gunakan untuk memberi manfaat.

Kalau kita diberi keluarga yang utuh, gunakan untuk membangun kebaikan yang lebih luas.

Syukur yang paling jujur bukan hanya diucapkan.

Syukur yang paling jujur adalah ketika hidup yang dimudahkan bisa ikut memudahkan hidup orang lain.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *