Hari 22: Kalau One-on-One Jadi Berat, Biasanya Karena 3 Hal Ini

Hari ini saya ngerasa capek—bukan capek fisik, tapi capek mental yang halus. Capek yang muncul dari sesi one-on-one.

Bukan karena saya benci one-on-one. Justru saya percaya one-on-one itu penting. Saya punya budaya ngobrol kuartalan, 30 menit per orang. Dan minggu ini lumayan gila: sudah jalan sekitar 24 sesi. Minggu depan masih ada belasan yang ngantri.

Tapi saya baru sadar, ada beberapa tipe sesi yang bikin saya merasa: berat, sulit, nggak nyaman, dan butuh effort ekstra.

Bukan “tiga orang yang saya nggak suka” ya. Itu terlalu keras. Lebih tepatnya: tiga tipe one-on-one yang kadang bikin kuartal saya terasa melelahkan.

1) One-on-one yang isinya “urgent pekerjaan”, tapi baru dibahas saat sesi kuartalan

Bahas kerjaan di one-on-one itu sebenarnya wajar. Bahkan kadang perlu.

Masalahnya muncul ketika yang dibahas itu urgent—butuh dukungan segera—tapi ditahan sampai one-on-one yang datangnya satu kuartal sekali.

Kalau ditunda:

  • momennya bisa lewat,
  • keputusan terlanjur mantap,
  • dan yang tadinya bisa diselamatkan cepat jadi keburu “terbentuk”.

Makanya saya selalu ingin menegaskan satu hal:

kalau urgent, jangan tunggu one-on-one.
Bisa chat, bisa ajak meeting kecil, bisa request diskusi kapan pun.

One-on-one itu bukan “posko darurat.” Itu lebih cocok jadi ruang refleksi, growth, atau hal-hal yang butuh obrolan tenang.

2) One-on-one yang “nggak nemuin pembahasannya”

Ini tipe yang agak tricky.

Ada sesi yang ketika dimulai, dua-duanya kayak… bingung mau ngomong apa. Nggak ada pertanyaan. Nggak ada cerita. Nggak ada pemicu.

Makanya saya sering nyodorin opsi topik: biar ada pintu masuk.

Karena kalau enggak ada topik, saya biasanya yang jadi “pembawa acara”. Saya cerita panjang lebar, dan jujur saya takut:

  • ngulang cerita yang sama ke orang yang berbeda,
  • lupa saya sudah cerita apa ke siapa,
  • dan sesi jadi terasa “template”, bukan percakapan yang hidup.

Padahal kalau ada pemicu kecil saja, saya bisa lebih enak membantu: ngulik, nanya balik, dan menemukan sesuatu yang berguna untuk orangnya.

3) One-on-one yang saya akhiri dengan rasa kecewa karena “nggak bisa ngasih solusi”

Ini yang paling berat—dan ini kejadian hari ini.

Ada sesi yang situasinya terlalu sulit. Pilihannya rumit. Dan saya merasa apa pun opsi yang saya tawarkan tidak lebih baik dari opsi yang orang itu sudah punya.

Di momen seperti itu saya jadi serba salah:

  • kalau saya ngomong terlalu realistis, takutnya nambah beban dan overthinking,
  • kalau saya terlalu normatif, terasa hambar dan tidak membantu,
  • kalau saya diam dan hanya mendengarkan… saya pulang dengan rasa “kok saya nggak hadir sepenuhnya ya?”

Saya belajar hari ini bahwa ada tipe one-on-one yang akhirnya memang berhenti pada satu hal: mendengarkan.

Dan meski “mendengarkan” itu sebenarnya juga bentuk dukungan, tetap ada rasa nggak enak saat saya pulang dengan perasaan: “saya nggak bisa ngasih yang terbaik.”

Mungkin ini juga PR buat saya sebagai pemimpin: menerima bahwa nggak semua hal bisa saya tackle, dan kadang kontribusi terbaik saya bukan memberi jawaban—tapi jadi ruang aman untuk menampung.


Itu catatan saya untuk hari ini.

One-on-one tetap saya percaya penting. Tapi saya juga sedang belajar: supaya sesi ini tidak jadi berat, kita perlu tahu bedanya:

  • kapan harus ngobrol cepat (urgent),
  • kapan perlu topik pemicu (biar hidup),
  • dan kapan cukup hadir (meski tanpa solusi).

Minggu depan masih ada belasan sesi. Semoga saya menemukan lebih banyak cerita bagus, dan semoga sesi-sesi itu jadi ruang yang lebih ringan—buat mereka, dan juga buat saya.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *