Hari ini saya datang ke sebuah tempat yang mengingatkan saya pada masa lalu.
Bukan karena tempatnya sama. Bukan juga karena bisnisnya mirip dengan apa yang pernah saya bangun. Namun, suasananya membawa saya kembali pada masa ketika semuanya masih dirintis, ketika banyak hal belum ideal, tetapi orang-orang yang mengerjakannya terlihat sangat hidup.
Tempat itu dipenuhi anak-anak muda.
Mereka memakai kaos dan celana pendek. Ada yang makan siang jam empat sore di meja kerjanya masing-masing. Ada yang sedang mengerjakan sesuatu yang saya sendiri tidak terlalu paham. Musik berjalan, orang-orang bergerak, dan suasananya tidak terlihat seperti gambaran kantor atau toko ideal yang biasanya ada di kepala saya.
Padahal, tempat tersebut juga menerima pelanggan dan bertemu orang lain.
Saya sempat berpikir, bukankah tempat yang bertemu klien seharusnya terlihat sangat bersih, rapi, dan profesional?
Ternyata tidak selalu.
Yang lebih menarik, mereka tampak baik-baik saja. Bahkan kelihatannya menikmati apa yang sedang mereka kerjakan.
Dari situ, saya tidak sedang menarik kesimpulan tentang apakah cara mereka benar atau salah. Ini hanya refleksi tentang bisnis, kebebasan, dan identitas yang kadang perlahan hilang ketika sebuah organisasi semakin besar.
1. Ideal Tidak Harus Datang Pertama
Kita sering punya bayangan tentang bentuk bisnis yang ideal.
Kantornya rapi. Pakaiannya rapi. SOP-nya lengkap. Jam makannya teratur. Ruang bertemu klien terlihat profesional. Semua orang tahu harus duduk di mana, bicara seperti apa, dan mengerjakan sesuatu dengan standar yang sama.
Tidak ada yang salah dengan semua itu.
Kerapian, sistem, dan profesionalisme tetap penting. Terutama ketika bisnis semakin besar dan semakin banyak orang bergantung pada cara kerja yang sama.
Namun, kondisi ideal tidak selalu menjadi hal pertama yang harus dicapai.
Ketika sebuah bisnis masih merintis, ada banyak keterbatasan yang harus diterima. Ruangan belum sempurna. Sistem masih berubah-ubah. Pembagian tugas belum sepenuhnya jelas. Pemilik bisnis ikut mengerjakan banyak hal. Jam kerja dan jam makan kadang tidak masuk akal.
Kalau sejak awal kita menunggu semuanya ideal, bisa jadi bisnisnya tidak pernah benar-benar dimulai.
Pada fase tertentu, yang lebih penting mungkin bukan terlihat sempurna, tetapi memastikan produknya bekerja, pelanggannya dilayani, dan bisnisnya tetap bergerak.
Ideal tetap perlu dituju. Namun, kita harus tahu mana yang perlu disempurnakan sekarang dan mana yang masih bisa menyusul.
Jangan sampai terlalu sibuk membangun penampilan bisnis, tetapi lupa memastikan bisnisnya benar-benar hidup.
2. Bisnis Memberi Ruang Memilih
Salah satu hal yang menarik dari berwirausaha adalah kita punya ruang yang lebih besar untuk menentukan cara kerja sendiri.
Kita bisa memilih ingin membangun budaya seperti apa. Mau memakai pakaian formal atau kasual. Mau bekerja dengan musik atau dalam keheningan. Mau membuat kantor yang sangat tertib atau tempat kerja yang lebih cair.
Dalam batas tertentu, kita bebas menentukan aturan permainannya.
Itu adalah bisnis yang kita bangun sendiri.
Tentu saja kebebasan bukan berarti semua hal boleh dilakukan tanpa konsekuensi. Kalau pelayanannya buruk, produknya jelek, harganya tidak masuk akal, atau pelanggan merasa tidak dihargai, mereka juga bebas untuk pergi.
Pasar tetap memberi penilaian.
Namun, selama produknya baik, pelayanannya berjalan, dan pelanggan tetap mendapatkan nilai, sebuah bisnis tidak harus mengikuti seluruh gambaran umum tentang seperti apa bisnis seharusnya terlihat.
Profesional tidak selalu berarti kaku.
Serius tidak selalu berarti harus memakai pakaian formal.
Tempat kerja yang santai juga tidak otomatis berarti orang-orang di dalamnya tidak bekerja sungguh-sungguh.
Justru salah satu kemewahan dari membangun bisnis adalah memiliki kesempatan untuk mendesain cara hidup dan cara kerja yang kita percaya.
Bukan hanya mengganti atasan lama dengan diri sendiri, lalu membuat aturan yang sama persis.
3. Identitas Tidak Bisa Dipinjam
Hal yang paling kuat dari tempat tersebut bukan kaos, celana pendek, atau orang-orang yang makan di meja kerja.
Yang paling terasa adalah mereka punya suasana sendiri.
Ada identitas yang cukup jelas. Ada cara bekerja, cara berinteraksi, dan energi yang tampaknya mereka pahami bersama. Mereka tidak terlihat sedang berusaha menjadi kantor orang lain.
Menurut saya, ini salah satu kekuatan penting ketika merintis bisnis.
Sebuah bisnis perlu tahu dirinya ingin menjadi apa.
Orang seperti apa yang ingin direkrut? Pelanggan seperti apa yang ingin dilayani? Suasana seperti apa yang ingin dibangun? Hal apa yang dianggap penting, dan hal apa yang tidak perlu dipaksakan hanya karena semua bisnis lain melakukannya?
Identitas tidak lahir dari menyalin dekorasi kantor perusahaan lain atau menggunakan istilah budaya kerja yang sedang populer.
Identitas dibentuk oleh keputusan-keputusan kecil yang dilakukan berulang kali.
Cara pendiri berbicara. Cara tim menghadapi kesalahan. Cara pelanggan dilayani. Cara orang berbeda pendapat. Cara bekerja ketika belum ada yang melihat.
Ketika identitasnya jelas, orang yang bergabung juga punya alasan lebih kuat untuk percaya.
Mereka bukan hanya datang untuk mengerjakan tugas. Mereka merasa menjadi bagian dari cara tertentu dalam melihat pekerjaan dan dunia.
Tantangannya, ketika bisnis bertumbuh, identitas awal ini mudah sekali hilang.
Sistem bertambah. Struktur membesar. Aturan makin banyak. Semua menjadi lebih rapi, tetapi perlahan terasa lebih hambar.
Pertanyaannya bukan apakah bisnis harus tetap berantakan seperti saat kecil. Tentu tidak.
Pertanyaannya adalah apakah kita bisa menjadi lebih matang tanpa kehilangan karakter yang membuat orang percaya sejak awal.
Jangan Hanya Tumbuh Besar
Melihat anak-anak muda itu mengingatkan saya bahwa bisnis tidak selalu harus terlihat seperti gambaran ideal di buku.
Kadang bisnis terlihat sederhana, agak kacau, dan belum sepenuhnya rapi. Namun, orang-orangnya tahu apa yang sedang mereka bangun dan terlihat senang menjalankannya.
Mungkin suatu hari tempat itu akan berubah.
Mereka akan punya kantor yang lebih rapi, SOP yang lebih lengkap, pakaian yang lebih tertata, dan jam makan yang lebih masuk akal.
Saya berharap mereka mencapai sesuatu yang besar.
Namun, saya juga berharap ketika semuanya menjadi lebih besar, mereka tetap menyimpan sebagian suasana yang saya lihat hari ini.
Karena bisnis yang tumbuh bukan hanya bisnis yang makin rapi.
Bisnis yang benar-benar tumbuh adalah bisnis yang semakin matang tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Leave a Reply