Hari Minggu biasanya tidak banyak aktivitas. Rutinitas keluarga, menemani anak bermain, dan mencoba sedikit melambat setelah melewati satu minggu.
Hari ini saya menemani anak bermain Lego.
Kami mencoba membentuk sesuatu dari potongan-potongan kecil yang tersedia. Kadang bentuknya jadi seperti yang dibayangkan. Kadang kelihatannya mau menjadi sesuatu, tetapi akhirnya tidak jelas juga sebenarnya sedang membuat apa.
Ada yang sederhana. Ada yang cukup rumit. Ada yang baru disentuh sedikit langsung lepas lagi.
Permainan anak-anak ini ternyata cukup mirip dengan proses kita ketika membuat karya, menjalankan ide, atau membangun sesuatu dalam pekerjaan.
Kita punya sekumpulan bahan, mencoba menyusunnya, gagal, membongkar, lalu mulai lagi.
Dari Lego, saya menemukan tiga hal sederhana.
1. Perbanyak Potongan yang Dimiliki
Hal pertama yang paling menentukan dari bermain Lego adalah berapa banyak dan seberapa beragam potongan yang kita punya.
Kalau Lego yang tersedia hanya sedikit, bentuk yang bisa dibuat tentu terbatas. Kalau potongannya hanya memiliki ukuran dan warna yang sama, kemungkinan hasilnya juga akan mirip-mirip.
Namun, ketika kita punya lebih banyak ukuran, bentuk, warna, dan jenis potongan, pilihannya menjadi jauh lebih luas.
Kita bisa membuat rumah, kendaraan, jembatan, robot, atau sesuatu yang bahkan tidak punya nama.
Begitu juga dengan ide dan karya.
Semakin sedikit pengetahuan, pengalaman, referensi, dan sudut pandang yang kita miliki, semakin terbatas pula bentuk yang bisa kita hasilkan.
Kalau kita hanya membaca hal yang sama, bertemu orang-orang yang sama, mengerjakan pekerjaan yang sama, dan melihat masalah dari sudut yang sama, jangan heran kalau ide yang muncul juga hanya berputar di situ-situ saja.
Karena itu, sebelum menuntut diri menghasilkan karya yang besar, mungkin kita perlu memperbanyak “potongan Lego” di kepala kita.
Belajar hal baru. Mencoba pekerjaan yang berbeda. Mendengarkan pengalaman orang lain. Membaca sesuatu yang tidak biasanya kita baca. Berani masuk ke ruang yang belum kita kuasai.
Bukan berarti semua pengetahuan itu langsung digunakan. Seperti Lego, sebagian mungkin hanya tersimpan cukup lama di dalam kotak.
Namun, suatu hari ketika dibutuhkan, kita tahu kita punya potongannya.
2. Kemampuan Tumbuh karena Mencoba
Saat baru bermain Lego, kita mungkin hanya bisa membuat bentuk sederhana.
Kemudian kita mulai melihat contoh. Kita meniru gambar dari kemasan. Kita mencoba menyambungkan potongan yang lebih rumit. Setelah beberapa kali gagal, perlahan kita memahami bagaimana sebuah bentuk bisa berdiri dengan lebih kokoh.
Imajinasi juga tumbuh karena latihan.
Awalnya kita hanya mengikuti referensi. Lama-lama, kita mulai memodifikasinya. Setelah itu, kita mulai berani membuat sesuatu yang benar-benar berasal dari kepala sendiri.
Proses membuat karya juga seperti itu.
Tidak semua orang langsung bisa menghasilkan ide yang bagus. Tidak semua orang langsung bisa menulis, membuat produk, membangun bisnis, atau menyelesaikan masalah dengan bentuk yang menarik.
Kemampuan itu terbentuk dari berkali-kali mencoba.
Kita melihat contoh, meniru, gagal, memperbaiki, lalu mencoba lagi.
Masalahnya, ketika akhirnya berhasil membuat sesuatu yang menurut kita bagus, kita sering menjadi terlalu sayang untuk menyentuhnya lagi.
Seperti bangunan Lego yang sudah rumit, kita tidak ingin membongkarnya. Kita takut tidak bisa membuat bentuk yang sama. Kita khawatir hasil berikutnya tidak sebagus itu.
Akhirnya, kita berhenti bereksperimen demi menjaga satu hasil yang sudah berhasil.
Padahal, karya yang bagus seharusnya bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Kalau satu keberhasilan membuat kita terlalu takut mencoba lagi, mungkin yang kita pertahankan bukan karyanya, tetapi rasa aman kita sendiri.
3. Yang Terlepas Bisa Dibangun Lagi
Bagian paling menyebalkan dari bermain Lego adalah ketika bentuk yang sudah lama dibuat tiba-tiba lepas.
Kadang tersenggol. Kadang salah satu penyangganya kurang kuat. Kadang anak sendiri yang membongkarnya karena sudah tertarik membuat sesuatu yang lain.
Reaksi awalnya tentu kecewa.
Apalagi kalau bentuk itu cukup rumit dan membutuhkan waktu lama untuk disusun.
Namun, setelah dipikir-pikir, sebenarnya tidak semua hal hilang.
Potongan Legonya masih ada.
Pengalaman membuatnya juga masih ada.
Kita mungkin tidak ingat persis di mana setiap potongan dipasang, tetapi kita sudah memahami logika dasarnya. Kita tahu bagian mana yang lemah, mana yang sulit, dan mana yang seharusnya dibuat lebih kuat.
Artinya, kita bisa membuatnya lagi.
Mungkin tidak sama persis. Mungkin bentuknya berubah. Bahkan mungkin hasil berikutnya justru lebih baik karena kita sudah belajar dari versi sebelumnya.
Hal yang sama berlaku ketika ide gagal, proyek berhenti, bisnis berubah, atau sesuatu yang sudah lama dibangun harus dibongkar.
Kita sering merasa semuanya kembali ke nol.
Padahal kita jarang benar-benar kembali ke nol.
Kita masih membawa pengetahuan, pengalaman, hubungan, kesalahan, dan cara berpikir yang dibentuk selama proses sebelumnya.
Bangunannya mungkin hilang. Namun, kemampuan untuk membangunnya tetap tinggal.
Selama Potongannya Masih Ada
Permainan Lego mengingatkan saya bahwa membangun sesuatu memang tidak pernah sepenuhnya aman.
Sesuatu yang kita buat bisa gagal. Bisa lepas. Bisa rusak. Bisa dibongkar oleh keadaan atau bahkan oleh keputusan kita sendiri.
Namun, itu bukan berarti seluruh usaha kita sia-sia.
Selama kita terus mengumpulkan pengetahuan, berani mencoba, dan mengingat pelajaran dari bentuk sebelumnya, kita selalu memiliki kesempatan untuk menyusun ulang.
Mungkin lebih kuat. Mungkin lebih sederhana. Mungkin juga menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.
Tidak semua hal harus dipertahankan dalam bentuk pertamanya.
Kadang, sesuatu memang perlu dibongkar agar kita tahu bahwa kita ternyata mampu membuatnya lagi.
Leave a Reply