Hari 212: Jago Kerja Belum Tentu Jago Bisnis

Hari ini saya menyelesaikan buku ke-21 dari target 52 buku tahun ini.

Target awalnya satu minggu satu buku. Memang sempat tercecer, tetapi coba tetap dikejar semampunya. Kali ini buku yang selesai adalah The E-Myth Revisited karya Michael E. Gerber.

Buku ini membahas mitos-mitos dalam dunia entrepreneur, kenapa banyak bisnis kecil gagal, dan bagaimana seharusnya bisnis dibangun agar tidak terus bergantung kepada pemiliknya.

Bukunya memang bukan buku baru. Namun, ketika dibaca sekarang, banyak gagasannya masih terasa relevan.

Beberapa bagian bahkan terasa sangat dekat dengan masalah yang sering terjadi di bisnis kecil: pemilik yang mengerjakan semuanya sendiri, bisnis yang berhenti ketika pemiliknya tidak ada, dan anggapan bahwa orang yang ahli membuat produk otomatis akan ahli membangun perusahaan.

Padahal, membuat sesuatu dan membangun bisnis dari sesuatu adalah dua pekerjaan yang sangat berbeda.

1. Keahlian Teknis Bukan Keahlian Bisnis

Banyak orang memulai bisnis karena merasa sangat mahir dalam satu bidang.

Orang yang pandai membuat kue membuka toko kue. Orang yang jago desain membangun agensi. Orang yang ahli memperbaiki kendaraan membuka bengkel.

Kelihatannya masuk akal.

Masalahnya, kemampuan mengerjakan suatu pekerjaan tidak otomatis membuat seseorang mampu membangun bisnis dari pekerjaan tersebut.

Kalau kita pandai membuat kue, artinya kita punya kemampuan membuat kue. Namun, bisnis kue juga membutuhkan kemampuan menentukan harga, mengelola keuangan, merekrut orang, menjaga kualitas, memasarkan produk, mengatur stok, melayani pelanggan, dan memastikan prosesnya bisa terus berjalan.

Keahlian teknis hanyalah salah satu bagiannya.

Kesalahan terjadi ketika seseorang merasa bahwa karena ia bisa membuat produk dengan baik, maka bagian bisnisnya akan mengikuti dengan sendirinya.

Akhirnya, pemilik terus sibuk di dapur, di meja desain, atau di bagian produksi. Semua waktunya habis untuk mengerjakan pekerjaan teknis, sementara bisnisnya sendiri tidak pernah benar-benar dibangun.

Jago mengerjakan sesuatu membuat kita menjadi praktisi yang baik.

Namun, menjadi entrepreneur membutuhkan kemampuan untuk membangun sesuatu yang bisa mengorganisasi banyak pekerjaan sekaligus.

2. Ada Tiga Jiwa dalam Entrepreneur

Salah satu bagian yang paling saya suka adalah pembahasan tentang tiga jiwa dalam diri seorang pemilik bisnis: entrepreneur, manajer, dan pekerja teknis.

Jiwa entrepreneur melihat masa depan.

Ia memikirkan peluang, arah, visi, perubahan, dan bentuk bisnis yang ingin dibangun.

Jiwa manajer menciptakan keteraturan.

Ia menyusun rencana, membuat sistem, mengatur sumber daya, dan memastikan pekerjaan berjalan secara konsisten.

Sementara jiwa pekerja teknis fokus pada pekerjaan hari ini.

Ia ingin menyelesaikan pesanan, membuat produk, melayani pelanggan, dan memastikan tugas teknisnya selesai.

Ketiganya dibutuhkan.

Masalahnya, dalam banyak bisnis kecil, jiwa pekerja teknis terlalu dominan.

Pemiliknya terus sibuk bekerja di dalam bisnis. Ia mengerjakan hampir semuanya sendiri karena merasa paling cepat, paling paham, atau paling bisa dipercaya.

Akibatnya, tidak ada cukup ruang untuk memikirkan masa depan dan tidak ada cukup waktu untuk membangun sistem.

Bisnis terlihat sibuk, tetapi tidak benar-benar bertumbuh.

Pemiliknya punya pekerjaan, tetapi belum tentu punya bisnis.

Karena kalau hampir seluruh hasil masih bergantung pada tenaga dan kehadirannya, sebenarnya ia hanya menciptakan pekerjaan baru untuk dirinya sendiri, mungkin dengan jam kerja yang lebih panjang.

3. Bangun Seperti Akan Diwaralabakan

Solusi yang ditawarkan buku ini cukup menarik: bangun bisnis seolah-olah suatu hari nanti akan diwaralabakan.

Bukan berarti semua bisnis benar-benar harus menjadi franchise.

Maksudnya, proses bisnis harus dibuat cukup jelas, konsisten, dan terdokumentasi sehingga orang lain bisa menjalankannya tanpa terus bergantung pada pemilik.

Bagaimana pelanggan dilayani? Bagaimana kualitas dijaga? Bagaimana pekerjaan diserahkan? Bagaimana masalah ditangani? Apa standar hasilnya? Apa langkah yang harus dilakukan dari awal sampai akhir?

Semuanya perlu disistemkan.

Kalau hanya pemilik yang tahu cara melakukan pekerjaan dengan benar, maka pengetahuan itu belum menjadi milik bisnis. Ia masih menjadi milik pribadi.

Sistem mengubah pengalaman pemilik menjadi cara kerja organisasi.

Dengan sistem, orang baru bisa belajar lebih cepat. Kualitas tidak sepenuhnya bergantung pada siapa yang sedang bekerja. Kesalahan bisa ditelusuri. Bisnis juga punya peluang untuk tumbuh tanpa pemilik harus ikut menangani setiap detail.

Karena bisnis yang hanya berjalan ketika kita hadir bukan sepenuhnya bisnis.

Itu pekerjaan yang sangat bergantung kepada satu orang.

Jangan Hanya Bekerja di Dalam Bisnis

The E-Myth Revisited mengingatkan bahwa entrepreneur tidak cukup hanya bekerja keras.

Kita juga perlu membedakan kapan sedang bekerja di dalam bisnis dan kapan sedang bekerja untuk membangun bisnis.

Bekerja di dalam bisnis berarti menjalankan pekerjaan hari ini.

Bekerja membangun bisnis berarti menyusun sistem, mengembangkan orang, memperjelas standar, dan membuat organisasi lebih mampu berjalan tanpa terus menunggu pemiliknya.

Keduanya penting.

Namun, kalau seluruh waktu hanya habis untuk eksekusi, bisnis tidak pernah punya kesempatan untuk menjadi lebih besar daripada kemampuan satu orang.

Buku ini memang sudah lama ditulis. Namun, mitos yang dikritiknya masih terus terjadi.

Kita masih sering menganggap orang yang jago secara teknis pasti siap menjadi pemilik bisnis. Kita masih memuja kesibukan pemilik yang mengerjakan semuanya sendiri. Kita juga masih menganggap bisnis yang sangat bergantung pada founder sebagai sesuatu yang wajar.

Padahal, ukuran bisnis yang sehat mungkin justru sebaliknya.

Bukan seberapa banyak hal yang hanya bisa dilakukan pemiliknya.

Namun, seberapa banyak pekerjaan yang tetap berjalan baik meskipun pemiliknya tidak ikut turun tangan.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *